Peak of Fatigueness


bismillah.

kamis, 21 des 06.
janjian ketemu Bapak PS (pembimbing skripsi -red) ba’da zhuhur…
ternyata pertemuan di LSM-ku sampe jam 1 juga belum selesai.
berkali-kali nengokin jam di dinding dan terus meredakan ketegangan (walau gak reda-reda juga).
dan…
dengan sukses sampe di kampus jam 15.30 wib, sodara-sodara.
mampir di perpus buat ngadem di akuarium ber-AC, lalu menerima sms si bapak.
“Indra dimana posisinya sekarang?”
huaaa!
“saya baru sampe, pak. segera ke atas.”

dan setengah berlari ke lantai 3 gedung pendidikan, dengan napas berkejar-kejaran.
sampai di atas…
“Pak G ada, mba?”
“Lagi sholat kali…”
glek.

waiting for a minute.
and the mister finally came.

lanjut ke diskusi, begini, begitu,
lalu bolak-balik turun ke perpus untuk ngecek skripsi yang dijadikan pelengkap literatur.
argggh!
lupa judul dan nama pengarangnya!
cek di email tapi lambretta, cek di katalog ga nemu2…
dan…
mendapatkan respon yang sama dari beberapa orang atas kegrasa-grusuan yang tak terhindarkan.
“Indra kenapa?”
“Ndra mukanya kenapa?”
“Ayo mba indra jangan panik,”
“Nyantai ajalah, Ndra…”

hue??? nyantai dari hongkong!

ketemu juga akhirnya.
dan kembali lagi ke lantai 3 dengan tenaga terkuras.
itupun cuma ngasih berkas untuk acuan si bapak, dan kami tidak jadi mengolah data hari ini karena beliau sudah harus pergi!

tersisa waktu kurang dari 24 jam untuk menyerahkan draft siap uji.
dan data belum terolah.

—-straight face—

17.05 wib.

kembali ke perpus dan mengajak Mira makan pempek di kantin belakang.
(katanya, salah satu obat stress adalah makan…)

“Kalo pempeknya enak, baru aku beli…” kata Mira.
“Hm… Btw kok lama yah, Mir??”

begitu semangkuk pempek terhidang…
tampilannya agak-agak tak meyakinkan…
“Kalo gak enak gimana, Mir?”
“Untung aku belom mesen!”
“Awas aja ni abangnya kalo gak enak…”
“Tinggalin aja…”
“Iya ya. gua belom bayar ini. huahahahaa…. Gokil lu!”
“Huahahahaha…”

mulai ketawa-ketiwi gak jelas.
sesekali menerawang.
termenung.
memikirkan ribut-ribut di LSM tadi pagi, dan saling berharap…
“semoga kita tidak terjebak dalam suasana tak menyenangkan disana ya.”
lalu pandangan kembali kosong.
memikirkan ini…
pun
ini…

rejection…
leaving without explanation…
hard work…
tired…
physic, heart, and soul…
merajut kusut yang makin semrawut.

lalu menerawang lagi.
merenung lagi.
terbahak lagi.
dan Mira mengerutkan kening.
“Indra, kamu sakit?”
“Hehehe… Hihihi…..”

***

Allah…
Aku… harus… kuat.

Advertisements

8 thoughts on “Peak of Fatigueness

  1. mbak indra…..pasti kuat. hayo, masalah itu ada buat dipecahkan. alangkah membosankannya hidup ini, kalau masalah tidak muncul.jangan capek dan jangan berhenti duunk,tahun lalu kuat, bulan lalu kuat, minggu lalu kuat, kemaren, juga pagi ini dan petang nanti. selamanya.Allah akan selalu Melindungimu, doaq akan selalu bersamamu….– secret admirer of urs…

  2. Fath…hidup berat, <>ye<>? Menurut <>gue<>, juga <><>gitu. Kalau lagi sebel, <>gue inget<> dua hal: <>Pertama<>, sahabat, orang-orang baik dalam hidup <>gue<>. <>Kedua<>, Tuhan. <>Gue<> pernah tulis artikel buat satu buku bunga rampai, mudah-mudahan ada manfaat. Buat <>gue<>, juga buat <>lu<>.Hidup adalah bertindak, bukan larut dalam diam. Bertindak menyiratkan sesuatu yang kudus, yang diresapi dengan perasaan gentar, yang mengimbau keberanian dan ketabahan, yang keras kepala tidak mau mengaku kalah. Hidup, memang, acap diisi oleh lembar hitam sungkawa, pertengkaran, gagal, keperihan, derita, beban, pengorbanan. Sekarang, manusia bakalan cuma dihadapkan pada 2 pilihan tertinggal. <>Pertama<>, tidak menyikapinya dengan tragis, melainkan penuh pengertian, humor, optimis, atau barangkali komedi yang tulus. <>Kedua<>, putus asa dan menyerah pada kehendak di luar dirinya dan Tuhan.Bertindak mengandaikan keimanan terhadap proses dan waktu. Sedangkan revolusi hanya jadi pertanda sikap tak percaya pada harapan perbaikan dalam waktu dan kerja-kerja panjang. Ketergesa-gesaan tak lebih dari sekadar gabungan idealisme menggebu dan gurauan totalitarianisme–atau kombinasi buruk yang menyatukan utopia dengan putus asa yang memandang masa kini dan masa depan dengan kacamata apokaliptik.Dan. Kalau perahu tak beranjak dari pantai yang muram, kalau rel kereta di kotamu tetap dingin dalam kebekuan, kalau bangunan-bangunan tua masih enggan mendendang rayuan, percayalah. Masih akan selalu ada celah untuk pergi meloloskan diri, atau sekadar mengintip cakrawala esok pagi. Karena matahari, tak pernah sungguh-sungguh pergi dalam terbenamnya. Karena Tuhanmu, Tuhanku, tiada membenci, tiada pula meninggalkan manusia dalam sendiri (QS 93:3).

  3. to anonym: mmh…secret admirer..?! prasaan diriku tak layak di-admire-in deh…tp jzk ye:)to om aka:gua gapapa kok, om!buktinya masih bisa ketawa-ketiwi..walau rada2 ga jelas gini. kqkqkq…to dhani:lots of thanks 4 u, bro. baek2 kau di lampung. jgn maen gajah mulu 😛

  4. ehmmm….ada secret admirer of urs lho :X…sesungguhnya di balik kesulitan itu terdapat kemudahan…dan sepertinya tanda2nya sudah demikian jelas…tak perlu bingung menentukan pilihan…siapa yang paling berempati padamu…dialah orangnya ;;)*kaburrrrrr

  5. ahooooyyy,namanya aja secret, kalo keluar kan gak secret lagi boooo….om ak umur brapa tu, gaya banget euy nasehatinnyabener mbak indra,yg penting masih bisa ketawa,apapun ketawanya

  6. to anonymous:hehe…bener juga kamu, krit :)*critanya manggil si sekrit edmayer*om aka?yg pasti gak semuda kita2. hihihi…kliatan kan dari tulisannya?tua abiiiizzzz! 😛*kabuuurr*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s