One Day in Very-Crowded-Train

Bismillah.


Kereta Jakarta-Bogor di tengah cuaca yang terik menyengat.
Panas.
Padat.
Penuh berjejalan puluhan badan di atas gerbong yang sesak.

Tubuhku terdorong ke muka dan belakang.
Hey, aku mau masuk!
Susah-payah menjejak lantai kereta yang sudah tertutup sekian banyak kaki, menggesernya agar memberi ruang dua kaki yang hilang keseimbangan.

Kereta berjalan perlahan. Dan semakin kencang saat masinis menggerakkan mesin kuda besi yang semakin tua bersama karat dan rapuh dimakan usia.

Bernafas dalam suasana penuh sesak seperti ini adalah anugerah. Itupun masih harus beradu aroma dengan tetes-tetes keringat, bau mulut ataupun sekedar megap-megap dalam ruangan minim O2.

Itu belum apa-apa.
Di tengah padatnya penumpang yang berdiri rapat-rapat, masih berseliweran pengemis ataupun para penjual apa saja.
Mulai dari yang tak bisa berjalan karena kakinya (terlihat) mengalami luka parah, anak-anak kecil yang menyanyikan lagu-lagu orang dewasa, atau mendengar suara erangan pun rintihan dari para peminta-minta.
Itu baru yang mengemis!
Yang berjualan juga tak kalah banyak.
Dari mainan sampai perhiasan, dari minuman sampai buah-buahan,
pun pisau dapur, pistol-pistolan sampai majalah dan koran.
Adakah beda antara kereta dengan pasar murah yang menjual segala?

Aku mengeluh seketika.
Kepadatan dengan kerapatan tak kurang dari 1 cm adalah alasan yang sangat logis untuk merasa kesal saat harus dilewati berkali-kali oleh orang yang mondar-mandir.
Tidakkah mereka lihat bahwa nyaris tak ada ruang untuk badan-badan yang menerobos berjalan?
Meski tak terucap, gumpalan kesal seolah terbakar oleh gesekan demi gesekan tubuh yang dipaksakan berlintasan.
Apa yang salah dengan ini semua?
Gerbong yang tak memanusiawikan manusia? Atau haruskah menyalahkan mereka yang lebih memilih transportasi yang cukup murah-meriah?

Seorang lelaki paruh baya menggendong putrinya dalam dekapan. Kuperhatikan mereka dengan seksama, mencuri-curi pandang akan kehangatan yang dialirkan.
Begitu seorang penjual melintasi mereka, sang putri mengeluh pada ayahnya.
“Ayah…sudah sempit begini kenapa sih masih saja lewat…”
Lalu sang ayah dengan bijak balas berkata,
“Ssstt… Gak boleh begitu, Sayang. Mereka sedang mencari nafkah untuk makan…”

Aku menatap sepasang ayah dan anak tadi, kian lekat.
Berpuluh godam tiba-tiba seolah menghantam kepalaku.
Dan kereta terus saja berjalan, seolah tak mau tahu.

~soManyLessonsInTrain,honey…

holidayOnTues,291106,9:16pm.

gbr dr sini

Advertisements

Pengen ke Pengadilan…


Bismillah…

Beberapa waktu lalu pas –gak sengaja!- nonton infotainment (halah!), aku liat sidangnya artis yang diduga melakukan pembunuhan berencana terhadap pacarnya. Cuma sekilas sih, tapi hakimnya nanyanya detil banget deh. Sampe tu tayangan yang cuma sekian detik bisa kurasakan auranya.
Tegang pisan, man…
Sampe si terdakwanya sesenggukan gituh. Tapi hakimnya cuek bebek ajah.

Abis nonton tayangan itu, aku jadi mikir.
Pengen deh nonton pengadilan beneran. Supaya bisa ngerasain simulasi persidangan akhirat. Liat aja, hakimnya nanya begitu detil dan menyudutkan (baca: membuat kita mengaku).

Norak?

Biarin. Aku kan anak psikologi, bukan anak hukum. Eh salah, anak mamahku deng. Hehe.
Iya biarin aku dibilang norak. Buat anak hukum yang tiap hari bersinggungan sama kosakata pengadilan dan sejenisnya, mungkin sudah sangat biasa. Tapi bukan itu yang aku mau liat. Aku mau tau situasinya. Aku mau ngerasain, gimana ya kalau aku yang duduk di kursi terdakwa. Gimana kalau aku yang disudut-sudutkan dan dipaksa mengaku sama hakimnya.

Wah…wah…kayaknya seru banget!
Ini baru pengadilan dunia lho! Belum di akhirat!
(kok ekspresinya semangat dan seneng begini sih… -_-’)

Sebenarnya waktu itu ada kesempatan untuk nonton sidang beneran (nonton….lu kata nonton pelem bioskop, Ndra…).
Iya, waktu itu ada sidang percobaan perkosaan oknum polisi terhadap anak BEM. (Jijay bajay ga sih…polisi tuh…polisiiii! Aseli nyebelin banget! Sukur dia ga digebukin anak-anak satu UI. Huh!!! *dendam kesumat*)
Tapi beberapa kali aku ga bisa dateng karena banyak urusan yang ga bisa ditinggal. Bentrok mulu lah pokonya.
Jadi kehilangan kesempatan deh. Lagipula waktu itu belum merasa penting-penting amat untuk ngeliat. Maksudku, ya ga lebih dari giving attention and support aja. Kalo sekarang-sekarang ini aku mau merasakan aura persidangan beneran supaya bisa ngebayangin sidang akhirat.

Dulu pernah sih, sidang pertanggungjawaban BEM ke MPM (dulu…. kesannya jadul banget…). Tapi itu mah gak berasa apa-apa. Abis sebelumnya aku tersugesti banget sama spanduknya SALAM (Lembaga Da’wah Kampus di UI), yang menjelang musim-musim LPJ, rame digelar di halte-halte kampus yang berisi, “Sidang itu nanti, di akhirat. Bukan di dunia…”.
Trus kita malah ketawa-ketiwi dan ngobrol ngalor-ngidul. Haha….dudul banget gak sih 😉 Satu-satu BPH maju, presentasi, laporan, evaluasi, rekomendasi, trus udah duduk. Anggota MPM-nya aja gak pada dateng semua. Udah gitu keliatan banget pada gak konsen dan terkesan kurang merhatiin. Alhasil sidang pertanggungjawaban itu lebih terkesan sebagai formalitas belaka. Pertanyaan2 yang dilontarkan sama MPM juga gak ada yang gak bisa dijawab. Maksudnya, ya masih bisa diatasi gitu dah. Gak sampe detil dan ngorek dalem-dalem. Abis itu dinilai. Selesai.

Sidang kedua adalah sidang skripsi.
Ini juga, kirain serem kaya apaan. Taunya “cuma“ nerangin ke dosen pembimbing dan 2 orang dosen penguji, ditanya-tanya, udah (beeuhhh…belagu banget gua mentang-mentang dah pernah sidang skripsi…)
Kalau gak bisa dijawab juga ya udah, mau diapain lagi. Maksudnya ya (kalau aku) gak tau ya gak tau aja, gak usah dijawab yang aneh-aneh. Ntar malah keliatan gak bagus di mata mereka. Better merendah hati sambil bertanya balik, “Jadi yang betul kira-kira begini atau begitu, Bu?“. Itu akan membuat para dosen merasa dihargai.
Mungkin tegangnya pas pertama kali masuk ruangan aja kali ya. Soalnya udah ngebayangin macem-macem. Yang takut gak bisa jawablah, takut pertanyaannya susahlah, atau demam panggung seperti keringat dingin, mendadak pusing, sakit perut, dst. Nah, jadi kena psikosomatis deh tuh (munculnya keluhan fisik karena pengaruh psikis -red)…

Sepertinya akan beda kalau menghadapi sidang untuk benar-benar menguak kesalahan (ya iyalah!). Salah satunya di pengadilan hukum itu. Soalnya hakimnya udah punya berkas-berkas laporan kesalahan kita. Trus kita dicecar… jujujuju….blablablabla… trus dipaksa ngaku salah. Udah gitu mending hakimnya humanis, nanya baik-baik atau dengan lemah-lembut (eh…eh….btw ada gak sih hakim humanis?). Ini…ngeliat wajahnya aja kadang udah nyeremin.

Pernah aku bilang ke Ucup, salah satu temanku waktu di BEM dulu, karena dia yang dulu sangat intens memperhatikan persidangan kasus percobaan perkosaan anak BEM. Sapa tau dia mau nemenin gitu, sama temen yang lain juga, nonton persidangan.
Ehhh…. yang ada aku malah diketawain. “Hahaa… Mau ngapain, Ndra? Ada-ada aja…”
Ya namanya juga latihan. Siap-siap aja merasakan nuansa persidangan akhirat.
Dulu ada tuh, seorang sahabat Nabi saw yang menggali kuburan di rumahnya. Trus kalau dia lagi keras hatinya, dia tiduran di liang lahat tersebut. Bukan untuk sok-sok-an, tapi untuk mengingat-ingat bahwa suatu saat ia pasti akan benar-benar masuk ke liang tersebut.
Nah, berhubung aku tidak bisa seenaknya menggali kuburan di kamar rumah (padahal seru juga kalo bisa…), ya minimal aku jalan-jalan ke tempat yang bisa mengingatkan pada akhirat. Salah satunya mungkin pengadilan tadi.
Wah…wah…dunia aja udah serem begini. Apalagi akhirat ya. Disodorin buku catatan amal, trus mulut dikunci dan yang memberi kesaksian adalah tangan dan kaki kita.
Belum lagi kalo malaikat yang jadi hakimnya bermuka bengis lagi kasar.
Duh, pegimane ceritenye yak…
Jangan-jangan aku pingsan pas duduk di kursi terdakwa. Atau gak mungkin pingsan kali ya… supaya tau rasa ketakutan.

Aduh…
Jadi stress sendiri!

Fiu…
Sidang, sidang…
Persiapkan ya, Jiwa.
Yuk, sapa yang mau nemenin aku ke persidangaaan…???


gbr dr sini

Ampera…Dimanakah Kau Beradaaaa….

bismillah…

ahad, 12 Nov 2006, 10.30 – 16.50 wib.

pulo gebang – senen – blok M

16.50 – 18.10 wib.

blok M – Ampera
“Where is Taman Bacaan Melati???”
yeah… nobody knows!

18.30 – 21.00 wib.

Ampera – Kp. Melayu – rumah.

conclusion : tepar.

to k’Awan dan Nova… maaf ya, sudah membuat kalian melakukan hal bodoh seharian kemarin… 😥 kita timpukin aresto dan yoyok rame-rame yuuukkkks!

From This Moment

From this moment, life has begun
From this moment, You are the one
Right beside You is where I belong
From this moment on

From this moment, I have been blessed
I live only for Your happiness
And for Your love, I’d give my last breath
From this moment on

I give my hand to You with all my heart
I can’t wait to live my life with You
I can’t wait to start

You and I will never be apart
My dreams came true…
Because of You..

From this moment, as long as I live
I will love You, I promise You this!
There is nothing I wouldn’t give
From this moment on

You’re the reason I believe in love
And You’re the answer to my pray from up above
All I need is just the two of us
My dreams came true…
Because of You..

From this moment, as long as I live
I will love You
I promise you this
There is nothing I wouldn’t give
From this moment
I will love You
As long as I live
From this moment on…

(From This Moment – Shania Twain)

***

Hmh…

suka banget dengerin lagu ini… sambil memejamkan mata…

dan meresapi liriknya dalam-dalam… sepenuh jiwa.

God… 😥

i really miss You so…

Keep Positive!

Bismillah.

Hmm… Hmm… Hmm..
Semakin kesini rasanya makin mantap aja.
Mau orang ngomong apaan kek…
Yang penting aku sudah cukup tahu bagaimana luar dalamnya.
Teman-teman di komunitas baruku juga tidak pernah menjelekkan mereka yang kebanyakan bicara. Malah mereka memikirkan sesuatu yang jauh lebih baik dari apa yang kupikirkan.

Kalau aku diejek, yang ada mungkin aku akan diam sambil berpikir untuk menjauhi orang tersebut. Atau bisa juga membalas dengan kata-kata yang tak enak diucapkan.
Atau gak mau deket-deket lagi dan berpikiran bahwa orang itu tidaklah menyenangkan.
Pokoknya negatif… tif… tif…

Tapi mereka tidak.
Mereka cuma tersenyum, karena mereka tahu apa yang orang lain katakan tidak sepenuhnya benar. Atau malah salah besar sama sekali.
Enggak. Gak ngejauhin sama sekali. Boro-boro ngebales deh.
Tapi yang ini tetap positif. Bener-bener teteuppp positif.

Sikap positif itu, yang aku banyak pelajari dari mereka.
Seperti juga yang Reza M. Syarief katakan, yang terpenting adalah attitude, bagaimana sikap kita terhadap sesuatu.
Terlalu banyak hal-hal sepele yang mengganggu perjalanan hidup kita.
Padahal mau senang atau susah, kita sendiri yang menjalani, bukan orang lain.
Orang lain cuma penonton.
Sebagaimana layaknya penonton, mereka mungkin cuma bisa ngomong.
Dan sampai disitulah kompetensi mereka : komentator semata.

Kadang aku heran juga.
Orang-orang yang kulihat pendidikannya tinggi, punya pemikiran besar tentang dunia, punya idealisme, tapi ketika dihadapkan pada suatu hal yang mereka tidak suka, penglihatannya menjadi kacamata kuda.
Luruuuuusss… kagak pake nengok-nengok.
Harus A.
Gak boleh A pake titik, A aksen, A koma, apalagi B, C, D sampe Z.

Kemane aje selama ini, Bang?
Lo kira dunia sebesar daon doank? 😛

Pengen ketawa jadinya ^_^
Kenapa bisa begitu ya?
So what gitu loh kalo gue beda?

Aku jadi merasa beruntung kuliah di psikologi.
Doktrin pertama yang aku dapet dari dosen-dosen saat kuliah adalah tentang individual differences, keunikan individu (sebenarnya mas Budi, salah satu dosenku, agak keberatan dengan kata ‘doktrin’). Gak ada individu yang sama, meski kembar identik sekalipun. Paradigma yang lumayan mengubah sikapku selama ini. Di satu sisi, jadi agak lebih moderat menerima perbedaan. Tapi di sisi lain jadi terlalu mengalah pada pemikiran-pemikiran yang seharusnya dicounter.
Yah… gak separah itu juga sih. Maksudnya jadi lebih nerima aja.
Argumen tetap ada juga. Tapi gak perlu maksa-maksa orang supaya sama seperti kita tho?
Selama patokannya udah jelas (Qur’an – Sunnah, misalnya), ya tinggal dibalikin aja kesana. Tapi untuk dua sumber inipun manusia masih diberi kebebasan untuk berijtihad bukan? Wuhhh, Allah aja segitu moderatnya sama kita…

Apapun itulah.
Asal bisa dipertanggungjawabkan dan ditanggung konsekuensinya aja.
Aku rasa gak perlu gondok sama orang lain yang sudah memilih pilihannya sendiri dengan penuh kesadaran. Dia yang milih kenapa jadi kita yang repot sih?
Toh, mengutip kata-kata seorang Adi Onggo, takdir itu seharusnya kita tentukan sendiri.
Mencela atau ngomongin di belakang kayaknya juga gak akan menambah kebaikan.

Ya udahlah.
Biarin aja orang lain mo melakukan ini-itu yang mereka anggap baik, walau dalam kacamata kuda kita itu gak benar sama sekali.
Sekali lagi, (ampe bosen dah gua), asal bisa nanggung konsekuensi dari keputusannya sendiri aja.
Selesai perkara, kan?

Btw, yuk beli kacamata baru 😉

Kekuatan Keyakinan

Bismillah.

Betapa meruginya Bilal.
Sudah menjadi budak, kini ia terhasut ajaran orang baru yang kata-katanya bak sihir menghujam. Tidakkah ia lihat betapa nikmatnya hidup bersama-sama para penyembah Latta, Uzza dan Manna? Sementara ucapan-ucapan “ahad”-nya tak mampu menghentikan derita, dunia telah berada di genggaman para tuan dan segalanya tunduk hanya dengan kata-kata atau perintah.
Ya. Betapa meruginya ia.

Tapi lebih merugi lagi orang yang telah menyiksanya.
Bilal bahkan lebih mulia daripada tuan-tuan bermuka bengis lagi masam, karena ia menjadi sahaya Zat Pemilik Segala. Tak ayal, batu besar yang ditindihkan di dadanya hanya bisa menjadi sasaran kemarahan yang percuma karena tak jua menemukan muaranya. Ia justru merdeka walau berada dalam penjara algojo-algojo yang bangga menjadi budak berhala-berhala yang bahkan tak bisa menggerakkan dirinya.
Tuan, yang hakikatnya adalah budak-budak hina, adakah kalian bangga menjual harga diri dengan fitrah kebenaran yang membuat Bilal tak tunduk takut apalagi menyerah?

Begitulah.
Kemerdekaan ada tatkala telinga mampu menutup dirinya dari celaan orang-orang yang suka mencela. Kebebasan datang ketika keyakinan sudah menancapkan tusuknya ke rongga dada terdalam, hingga tak lagi dapat dicabut meski dengan segenap paksa.

Apa yang lebih kuat dari rasa yakin yang mampu meluluhlantakkan keangkuhan ataupun polah orang-orang bodoh yang hanya bisa menjulurkan lidah?
Maka berangkatlah para pemberani menuju Al Aqsha tatkala jiwa-jiwa pemalas hanya berkata, “Pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah kalian berdua! Biarlah kami tetap menanti disini saja,“ (QS. Al Maidah : 24).

Apa yang lebih dahsyat dari mantapnya kepercayaan ketika ia sudah mendarah daging, pun berurat akar yang tancapnya tak lagi dapat tercerabut begitu saja?

Maka dunia pun segera mendengar kisah yang menyejarah.
Selalu ada sosok pemilik keyakinan yang kuat menghujam, yang menggerakkan langkahnya menuju pembebasan jiwa dari belenggu budak manusia ataupun ketakmampuan rasa.

Maka tercatatlah Salman muda yang menjelajah mencari kebenaran hingga bertemu Muhammad, manusia mulia. Sia-sia segenap lelah saat kesucian fitrahnya tak pernah bosan berkelana, demi menjemput kebenaran hakiki yang selama ini dicarinya.
Atau seperti juga Musa, yang menolak rasa putus asa, ketika ia tahu dirinya tengah berhadapan dengan ratusan manusia alpa yang telah diperbudak oleh nujum-sihir penuh nista.

Apa yang membuat mereka terus berjalan di atas berbagai kesukaran?
Bahkan melawan rasa ngeri yang terus membayang?
Atau keraguan yang menyelinap saat lelah sudah bertemu titik jenuhnya di sudut perasaan?
Pun ketakutan saat kilat pedang seorang kafir menawan leher Al Musthofa, dan menanyakan siapa pelindungnya, saat ia merasa menjadi penentu kematian manusia?

Hanya keyakinan Musa, yang membuat para penyihir dari berbagai penjuru negeri berdecak gemas karena tak mampu membuat ia gentar atau mundur perlahan. Karena Musa tahu, ia tengah berurusan dengan sesamanya yang tak miliki sedikitpun kekuatan. Karena Musa yakin, bahwa Allah bersamanya meski resiko kematian menjadi ancaman.

Maka berkilometer gurun tandus pun dilewati kaki-kaki Salman.
Hanya karena Salman tahu, bahwa hatinya telah pasti terpaut pada seorang shalih yang bahkan hanya ia dengar namanya dari kejauhan.
Adakah ia kurang kerjaan atau hanya mencari-cari sensasi atas nama sejatinya kebenaran?

Atau lihat saja kisah-kisah para perubah peradaban.
Apa jadinya jika Thomas Edison menyerah di percobaan ke sembilan ratus sekian?
Toh ia sudah berusaha.
Toh ia sudah pernah mencoba.
Setidaknya ia tahu bahwa ia sudah melakukan berbagai upaya.
Tapi mengapa ia tak pernah menghentikan langkahnya?

Atau juga seperti seorang Ahmadinejad, yang begitu mantap menentang dominasi Barat.
Ia punya apa?
Negara kecil, yang niscaya hancur jika berhadapan dengan arogansi senjata-senjata USA.
Kekuasaan tak seberapa, yang tak sedikit pula orang mencibirnya.
Tapi mengapa ia tak gentar untuk terus menyuarakan hak demi memajukan negaranya?
Mengapa ia tak diam saja dan mengiyakan seruan negara tetangga untuk mengalah pada sang adidaya?

Gulitanya rimba pun tak menghalangi gerak Soedirman yang menahan sakitnya di atas tandu, karena ia tahu, kemerdekaan hanya dimiliki oleh manusia-manusia yang mampu membebaskan dirinya dari gelombang malas ataupun lemah. Maka gerilyanya adalah pilihan mantap di atas keyakinan akan perjuangan yang berujung pada keniscayaan satu kemenangan.

Makanan macam apa yang membuat para pahlawan tak mau berhenti dari perjuangan yang tak jarang meninggalkan keperihan?
Hanya keberanian.
Ketangguhan.
Kegigihan yang tak kenal kata pasrah, meski ruh-ruhnya harus mengucap selamat tinggal pada raga.
Kesabaran yang tak pernah mengenal musnah, meski teriakan-teriakan berterbangan mencerca.

Apa yang orang lain tahu tentang diri kita, dan segala yang kita lakukan?
Apa yang orang lain merasa sok pintar dan merasa paling memahami segala perbuatan kita?
Apa yang orang lain ketahui tentang masa depan kita, yang sudah seharusnya ditentukan oleh diri kita sendiri, sama sekali bukan oleh mereka?
Apa yang orang lain fahami tentang sesuatu yang kita yakini kebaikan atau kebenarannya, meski dalam kacamata orang lain mungkin tak berharga?

Keyakinan.
Cuma keyakinan, kuncinya.
Maka Fir’aun pun tak pernah beristirahat dari mengganggu Musa agar ia mengikuti langkah sesatnya.
Maka Amerika takkan pernah diam sebelum mampu membungkam sosok sederhana Nejad dengan negara Irannya.
Maka segala macam cibiran, gangguan, buruk sangka, ataupun cap-cap gila mengiringi perjalanan Muhammad dalam menda’wahi umatnya.
Maka Soedirman tetap bersikeras pula memimpin pasukan, meski ia tengah merasakan sakit yang mendera.

Adakah mereka bertahan tanpa suatu alasan?

Mari temui ribuan sosok muda yang tak takut mengarahkan ketapel-ketapel kecilnya pada zionis nan durjana di tepian Jalur Gaza.
Disaat wajah-wajah kita nyaris muntah melihat darah, mereka bahkan belum genap dewasa saat harus menyandingkan ketapelnya dengan seperangkat tank atau senapan otomatis penghancur nyawa.

Seperti juga seorang Hamka yang tak merasa terkungkung ketika rezim membatasi geraknya di dalam penjara, karena di saat itulah ia justru menghasilkan mahakarya.
Ataupun Imam Samudra yang nyaris mati tersia saat pemboman demi pemboman dijustifikasi oleh ayat-ayat yang diartikan sekenanya.
Atau juga, seperti para santri berbalut peci, yang menyarangkan kapak-kapaknya ke sarang maksiat, padahal akar kemaksiatan itu tak pernah hancur bahkan terus menggurita.
Sementara tangan-tangan mereka bergerak menghancurkan fisik semata, nistanya dosa terus berkembang di lain tempat. Hampir tak efektif dan tepat sasaran saat gerak mereka dilakukan tanpa kejelasan dan nyaris kabur makna. Ramadhan datang, berbagai media memasang headline : pub-pub malam luluh-lantak di tangan-tangan mereka. Begitu Ramadhan berpulang, berdiri bangunan yang lebih megah dengan transaksi jual-beli kehormatan yang jauh lebih mengkayakan kantung-kantung para pemiliknya.

Keyakinan.
Lepas dari prinsip benar ataupun salah, ia selalu mampu menggerakkan keperkasaan yang awalnya tertutupi kelemahan.
Ia mampu melebur semua ketidakberdayaan menjadi kekuatan mahadahsyat, entah berujung pada kebaikan ataukah keburukan.
Itu dengan catatan, saat keyakinan bersanding dengan kemauan untuk melakukan pergerakan.
Tanpa itu, sia-sialah segala keimanan, idealisme, nasionalisme, atau apapun yang melatarbelakangi mindset kita tentang sesuatu yang menjadi keyakinan.

Siapa yang mampu menahan karang-karang laut berlubang saat diterjang angin yang terus-menerus datang, sementara para ilmuwan juga telah membuktikan kekuatan bayu yang mampu menggerus batu sekuat gunung menjulang?
Siapa yang dapat mematahkan, bahwa perginya sang induk burung di pagi hari berbekal keyakinan mendapatkan makan, menjelma buruan yang dijepit paruhnya saat sore datang menjelang?

Lagi-lagi gerak, yang menjadi pembeda keyakinan yang mewujud, atau keyakinan yang sekedar menjadi hiasan : indah, namun nyaris tanpa makna dan jauh dari kenyataan.

Jika, para durjana pembantai ratusan ribu nyawa yang bertebaran di Kashmir, Moro, Palestina, atau Kosova yang tak kunjung damai, begitu meyakini bahwa kebenaran berada di balik kekerdilan mereka, lalu lantas membuat janin, bayi, ibu-ibu, anak-anak, wanita dan orang-orang renta menemui ajal secepatnya, adakah keyakinan akan umat terbaik telah mampu menggerakkan kita dari stagnansi kepada tersuarakannya penderitaan? Atau lebih dari itu, kontribusi untuk membantu melepaskan mereka dari penderitaan?

Ataukah jika, para pemuja kebebasan begitu gencar dan tak tahu malu memperlombakan gambar Muhammad sang utusan, mengapa keyakinan akan ketinggian ajaran tak mampu membuat kita merasa gelisah saat ia direndah-hinakan?

Adakah keyakinan yang belum kuat terpatri, ataukah ia tiada sama sekali?
Ataukah keyakinan sudah tertancap, namun belum mampu diwujudkan dengan mantap?

Keyakinan dan gerak terbukti mengalahkan kejenuhan sebelum menerobos garis finish kemenangan.
Keyakinan mampu menggerakkan jiwa-jiwa lemah menjadi kuat, walau diluar batas akal.
Keyakinan seharusnya menghasilkan kontribusi, lepas dari prinsip salah ataupun benar.
Terus, menggerus kemalasan menjadi bulir-bulir semangat tuk berjuang.
Menyalakan tekad, mengendurkan pasrah.
Lantas berani menjadi dominasi, dan mengalahkan takut ataupun ngeri.

Lalu,
Adakah keyakinan telah merajai aktivitas kebaikan yang berpotensi muncul dari kita,
ataukah ia sekedar kisah masa lalu nan indah yang muncul dari berbagai sosok, yang menyisakan kenangan semata-mata?

Keyakinan adalah sumbu.
Maka pantik saja apinya.
Lalu pastikan ia membuat perubahan besar di sekeliling kita dengan pergerakan.
Atau ia akan tua bersama masa, ketika dirinya tak mampu bergerak menuju jaya.

Perih, Pulih

Kelabu jelaga memenuhi angkasa jiwa
Meneriakkan pengap yang tak jua luruh bersama gelisah
Sudahkah terbayar segala rencana
Dan cita-cita yang tak semestinya lelah
Atas usaha yang belum sepenuhnya terkerah?

Terlalu besar dunia bagi para pecundang perasaan
Yang impiannya tak jua terwujudkan
Terlalu mahal bening hati yang tertukar kelam
Yang khayalnya melampaui segala ketentuan

Lari kemana idealisme yang terasah sejak kaki melangkah Jika tekad harus dikalahkan semu yang sama sekali sia-sia?
Andai dunia harus ditaklukkan dengan tusuk kilatan pedang,
Mengapa tipu-dayanya masih saja diperturutkan
Dalam pertarungan yang kian stagnan?

Tinggallah segala kepicikan rasa
Yang belum seharusnya dikecapi segera
Bila fitrah terlalu mulia dibanding romantisme asa
Maka mulia bersama-Nya tak boleh dikalahkan segala
Terlalu panjang cerita yang tak tentu kapan akhirnya
Terlalu kecil sejumput kusam yang tak temukan muara
Terlalu luas padang pasir yang harus terhalang fatamorgana

Jika sejelas-jelas cahaya menerabas hingga ke rongga,
Mengapa cerahnya harus tertutup secuil mega?

Akhiri saja semua kisah
Jika kerikil lebih berharga dari mutiara indah.
Andai kehinaan bumi harus terganti ketinggian langit yang kaubayar dengan tertatih
Dan rangkakmu tertebus harum kesturi sang firdausi
Apalagi yang dapat diharap dari kusutnya hati,
Yang rindunya memerih tanpa tahu kapan ia akan pulih?

note : sebenernya aku ga tau nih mau ngasih judul apa… ada yg mau urun saran?

Gbrnya dr sini dan sini