Ramadhan is Coming…

Selamat Menunaikan Ibadah Ramadhan, semuanya…
Mohon maaf lahir bathin atas pikiran, perasaan, sikap,
kata-kata maupun perbuatan yang tidak berkenan.
Semoga Romadhon tahun ini jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
Aaamiiin….

Yang Terlupakan

bismillah.

Ini bukan bahasan tentang “Yang Terlupakan”-nya Iwan Fals 🙂
Tapi emang pas sih buat judul postingan kali ini… jadi aku pinjem judul lagunya ya, Om Iwan..

Waktu kemaghriban di tebet (udah masuk waktu maghrib maksudnya), aku terpaksa sholat di musholla kecil di stasiun situ. daripada gak kekejar dan tidak ingin mengambil resiko terlambat sholat, aku akhirnya memutuskan sholat segera.

Gak senyaman di rumah, memang. atau di masjid2 lain yang lebih besar.
Tapi alhamdulillah, wc-nya bersih. setidaknya untuk ukuran stasiun yang kerap dicap jorok, bau pesing, kotor, dan sebagainya. mushollanya juga cuma sepetak ruangan sejajar kantor pegawai PT. KAI, dan disekat dengan gorden untuk membatasi bagian pria dan wanitanya.

Kupikir begitu aku masuk ke ruang kecil itu akan segera tercium aroma pengap dan bau.
Ruangan sekecil ini digunakan banyak orang, gitu lho…
Tapi nyatanya tidak.
Aku menghirup bau pewangi ruangan yang digantung di kipas anginnya.
Dan tentu saja, bisa sholat dengan cukup nyaman (walau sempit-sempitan).

Begitu selesai, aku mengeluarkan selembar uang ribuan dan memasukkannya ke kotak infak.
Mana ada yang gratis di jakarta, man?
Hehe…

Tapi begitu aku melangkah ingin pergi, mataku menangkap kelebat seseorang.
Tukang pel wc stasiun!

Tahu tidak…
Dia itu, setiap ada orang keluar WC dan meninggalkan jejak-jejak sepatu/sandal yang kotor, dengan serta-merta langsung membersihkan lantainya.
Pun ubin di depan musholla yang berulang kali diinjak-injak sama orang yang lalu-lalang dari wc ke musholla.
Berulang kali, setiap mereka habis lewat!

Aku gak membayangkan betapa lelahnya dia, karena aku tahu, dia pasti lelah.
Aku cuma berpikir, betapa mungkin ia terlupakan oleh sekian banyak orang yang menggunakan wc atau musholla di staisun Tebet itu.
Siapa dia? Cuma tukang pel yang gak ada urusannya sama kita.
Cuma petugas yang memang wajar melakukan hal itu karena itu memang tugasnya.
Menengok pun kita tak pernah.
Atau bahkan mengucap terima kasih untuk menghargai perbuatannya.

Padahal ia yang berjasa membuat para pengunjungnya merasa nyaman karena keadaan ruang yang bersih dan jauh dari kesan jorok atau bau.
Dia, yang berulang kali mengepel lantai agar tiada lagi jejak-jejak kotor kaki pengunjung yang membekas dan meninggalkan noda.
Dia, yang tidak pernah menagih sepeser pun uang atas pekerjaan yang telah dilakukan.
Dia, yang tidak berkeluh-kesah karena lantai yang baru ia bersihkan harus kotor lagi-kotor lagi, karena berulang kali diinjak-injak.
Dia…

Ah…
Allah…
Bagaimana aku bisa begitu lengah? 😥

***

Beranjak dari situ, hatiku hanya bisa lirih berdoa.
“Semoga Allah membalas jasa-jasamu, Pak…
Walau engkau sering terlupakan, tapi Allah tak kan pernah melupakanmu.”

untuk sekian ratus jiwa yang terlupakan di sudut-sudut kota: Allah tak pernah melupakanmu.
note: gambar pel-nya diambil dari
sini. thx a lot!

Novel oh Novel…

bismillah.

sejujurnya ini inspired by ceritanya Nuyi.
sebenarnya udah lama sih, pengen mengungkapkan kegundahan tentang novel-novel “itu”, yang hari gini udah makin menjamur di toko buku, saingan sama teenlit (teenage literature) laennya.
fiuh…

yeah… sekarang aku mau bahas novel2 dengan label islami di belakangnya.

suatu hari, seorang teman bertanya dengan mimik serius.
temanku : “Udah pernah baca novel-novel islami belum?”
aku : “Udah.”
temanku : “saya lagi bingung nih. punya binaan kok jadi begitu ya??!?”
aku : “begitu gimana maksudnya?!?!?” *penasaran*
temanku : “intinya… ghiroh juangnya melemah. udah kemana tau deh tuh, harokinya. yg ada jadi sendu, mellow ga jelas…”
aku : !?!?!
temanku : “tau gak, efeknya baca novel islami?”
aku : “mmm…. novel itu… bisa mengharu-biru perasaan pembacanya…”
temanku : “nah! itu yang saya khawatirkan! jadi, 2 orang binaan saya ini ceritanya lagi rebutan akhwat!”
aku : “haa?”. It sounds like a silly things, isn’t it?
aku : ” terus?”
temanku : “yaa… saya agak khawatir aja dengan bacaan2 jaman sekarang. sepertinya jadi agak membuai… dan membentuk karakter pemuda yang tidak sesemangat generasi-generasi sebelumnya.”
aku : “hmmm….”

that’s it.

aku gak mukul rata semua novel berlabel islami itu buruk. novel2 mba Helvy cukup menggugah dan pastinya sarat makna. tapi ada juga beberapa yang bikin novel dengan tokoh manusia super tiada cacat cela.

well… ide2 memang harus dihargai. tapi kalau efeknya malah buruk, udah dipikirin belum tuh?!

beribu-ribu novel berlabel islami bergeletakan di toko buku sekarang.
di satu sisi, fenomena ini patut disyukuri.
di sisi lain, akibatnya mungkin belum banyak yang mencermati.

satu kasus, seperti yang dialami temenku di atas.
aku ga tau dia baca novel apa. dan aku ga berani bilang kalau mereka jadi rebutan akhwat gara-gara kebanyakan baca novel “itu” apa enggak (aku belum explore temenku lebih jauh untuk hal ini. dan mungkin gak bisa digeneralisir juga).
Tapi aku memang pernah baca novel yang setelah dibaca jadi bikin imaginasi berandai-andai.

Salah satunya, sebut aja deh, Ayat-ayat Cinta. tiba-tiba aja temenku mendadak jatuh cinta sama si Yusuf, tokoh utama di novel itu. dan dia berandai-andai nemuin suami macam lelaki itu.
Semua pria yang ada di dunia ini, tewas!
Ya iyalah.
Mana ada lelaki sempurna macam si Yusuf itu?!?!? heran… -_-‘

Novel lainnya, ada-lah beberapa yang juga semacam itu.
Atau mungkin banyak.

aku tau, melarang orang berkreasi sama saja dengan mengebiri hak mereka. tapi satu hal yang aku cermati, novel2 itu berpotensi (dan sudah terbukti, salah satunya kasus temanku) menurunkan semangat juang para pemuda.

entah kenapa, makin kesini kuperhatikan trend-nya makin nge-pop.
salah sih enggak… kalau kita bisa mengemas da’wah dan nilai-nilai islam dalam bentuk yang cantik dan sesuai bahasa kaumnya, kenapa enggak. tapi nge-popnya tuh agak-agak gimanaa… gitu. akhirnya goal yang mau didapat jadi malah kabur. atau salah tangkep, atau malah gak ngena sama sekali. yang gini-gini kan jadi kacaw tuh…
boro2 mikir jihad ke palestina, berjuang sepenuh jiwa-raga, berdarah-darah… wong ketemu akhwat cantik aja klepek-klepek… *mode cemen*
yang ada di pikiran cuma, “gimana supaya gw dapet jodoh yang kayak dia, si tokoh dalam novel anu…”
Hah! Lemmmmmah sekali!

ngomong gampang lu ndra… bikin tandingannya donk…

yaya.
aku belum pernah buat novel. cerpen aja gak jadi-jadi.
tepatnya, agak kurang berani mengingat pengaruh novel tadi harus benar-benar difahami juga.
eh, bukannya kurang berani juga. tapi harus mikir beribu kali untuk mikirin nilai apa yang mau disampaikan dan efeknya nanti gimana. tau kan, ada buku yang bisa bikin orang jadi semangat setelah membacanya, atau ada juga yang bikin nangis tersedu2, dst.
Yah begitulah efek bacaan.

Tergantung orangnya juga? bisa jadi sih…
dan sebenarnya semua tergantung dari sudut mana kita memandang. tapi aku pribadi lebih suka melihat efek terburuknya, karena bagaimanapun, meminimalisir keburukan harus diutamakan.

Yaa… yang jelas bikin novel (atau bacaan apapun) bukan pekerjaan main-mainlah.
Tokoh2 di dalamnya bisa jadi model atau tokoh idola yang mungkin dikagumi sepenuh hati. Iya, kalau yang ditiru adalah perilaku/akhlaq baiknya. kalo cuma mentok di kagum doank dan jadi ngayal mulu, siapa bisa menjamin?

Hmm..hmm..hmm…..
Jadi gimana donk baiknya ya?!?!?!

Yang pasti, kalo bisa bikin novel yang lebih berbobot, sok silakan bikin.
Kedua, seimbangkan dengan membaca bacaan lain yang lebih berkualitas kalo emang terpaksa baca “itu”. daripada ngayal-ngayal ga jelas!
Ketiga, baca novel bisa diganti dengan baca otobiografi. contohnya baca buku James Yee 🙂 *promosi*. eh, ternyata baca otobiografi juga kaya baca novel lho!
Keempat, …
Kelima, …
Dst…
Ada yang mau nambahin?!?!

Dicari : Suami seperti…


bismillah..

baru2 ini dapet email dari Yumna, sahabatku. dia ngirim tulisannya Zaim Uchrowi, kolumnis Republika. ini dia tulisannya…
sok, silakeun dibaca yah.

Kepemimpinan ‘Partnership’ Suami
oleh : Zaim Uchrowi

Selama Juli kemarin, saya dan anak-anak empat kali ditinggal istri. Mula-mula ia pergi ke Singapura. Dua hari di sana. Senin berikutnya, ia terbang ke Kamboja dan baru pulang Jumat malam. Seninnya lagi, ia berangkat ke Srilangka lagi-lagi pulang Jumat. Dua hari kemudian, Ahad, ia terbang ke San Fransisco, hingga Ahad berikutnya.

Situasi itu tak lazim bagi kebanyakan keluarga kita. Bagi keluarga saya yang demikian itu sudah semakin menjadi biasa. Ira, istri saya, belakangan ini semakin sering pergi. Dalam sebulan, rata-rata ia tiga kali keluar negeri. Terutama sejak ia ditunjuk sebagai manajer Divisi Vendor Compliance untuk wilayah Asia Tenggara.

Tahun lalu Ira hanya menangani 80 pabrik di Indonesia. Mulai dari Medan, Batam-Bintan hingga Pasuruan. Dengan pekerjaannya itu, Ira harus memastikan bahwa 60.000 buruh yang bekerja untuk pabrik-pabrik supplier perusahaannya-sebuah industri garmen Amerika dan kini terbesar sedunia-mendapat perlakuan secara memadai. Setidaknya agar mereka tidak diperas pabrik, mendapat haknya secara wajar, mendapat lingkungan kerja yang memadai untuk ukuran industri, serta keselamatan kerjanya pun terjamin.

Tahun ini jangkauan Ira diperluas. Kini ia harus bertanggung jawab atas kondisi pekerja sekitar 350 pabrik di Asia Tenggara. Indonesia tentu saja, Singapura, Malaysia, Kamboja, dan Brunei. Ia harus memonitor secara detil iklim kerja di seluruh pabrikt ersebut, sekaligus mempelajari undang-undang tentang ketenagakerjaan setiap Negara. Ia harus berdebat dan ‘menaklukkan’ para pengusaha yang nakal, sekaligus meyakinkan kawannya dari divisi lain yang berkepentingan menjalin bisnis dengan pengusaha tersebut.

Hampir semua mereka beretnis Tionghoa dari berbagai Negara. Tak satupun Melayu. Saya, insya Allah, tidak terganggu sama sekali dengan kesibukan Ira yang sangat padat tersebut. Setidaknya sejak saya memutuskan untuk memperistri Ira, 1987 lalu. Sedari kecil, ia bukan sosok yang ‘baik-baik’ tinggal di rumah. Mungkin karena kehilangan figure ayahnya yang meninggal, ia mencari lewat berbagai kegiatan drama di waktu SD, pramuka dan kegiatan masjid di waktu SMP, serta OSIS (ia salah seorang ketua) di SMU.

Saat menikah, ia baru kuliah tingkat satu. Saya harus hijrah kembali ke Jakarta (dari Surabaya) sedangkan ia berada di Malang, sambil harus membesarkan anak seorang diri. Ira dapat menyelesaikan kuliahnya tepat waktu di universitas Brawijaya bahkan menjadi salah satu lulusan terbaik di fakultasnya.

Kemudian, tujuh tahun di gerakan konsumen memberinya akses yang luas pada jaringan internasional. Para aktifis gerakan yang mempromosikan ASI-dan menentang penggunaan susu formula bagi bayi-dunia terutama dari kalangan IBFAN (international Baby Food Action Network) mengenalnya dengan baik. Desember lalu ia bahkan diminta oleh IBFAN untuk mewakili Asia-kemudian bahkan dunia-untuk menerima penghargaan Right Liverhood Award yang di Swedia diistilahkan sebagai “Nobel Alternatif”.

Ira-di usianya kini 31 tahun-berpidato di depan parlemen Swedia. Lengkap dengan jilbabnya pula. Esoknya, fotonya pun muncul di beberapa surat kabar setempat. Juli, di tahun yang sama, Ira juga memberi pidato puncak pada sekitar 500-an manajer perusahaannya dari sepuruh dunia di San Fransisco. “Dari sepuluh ribu karyawan di seluruh dunia, kurang dari sepuluh yang muslim. itu pun hanya saya yang berjilbab” katanya. Ia terpilih untuk mewakili sebagai Vendor Compliance Officer terbaik di seluruh dunia.

Haruskah saya, sebagai pimpinan rumah tangga. Membunuh seluruh potensi itu dengan memaksanya untuk tinggal di rumah? Sedangkan ia terbukti mampu berbuat banyak untuk masyarakat, menyelamatkan banyak generasi mendatang dengan mempromosikan ASI, memperjuangkan nasib puluhan ribu buruh pabrik (termasuk memperjuangkan hak buruh-buruh etnis Champa untuk memperoleh mushalla di Kamboja), juga menjadi “PR Islam” untuk lingkungannya, yakni bahwa seorang muslim, baik laki-laki atau perempuan dapat menjadi seorang yang terbaik, intelektualitas maupun professionalitas.

Apakah dengan begitu kepemimpinan saya sebagai suami goyah? Apakah saya tak mampu menghidupi keluarga saya bila Ira menghentikan kariernya? Insya Allah tidak. Saya tidak menyoal sama sekali ayat popular, “Arrijalu qowwamuna’ alannisa” meskipun banyak tafsir yang berkembang soal ayat itu. Saya bertanggung jawab sepenuhnya terhadap arah dan warna keluarga saya. Hanya barangkali pola kepemimpinan saya sedikit berbeda dengan pola kepemimpinan kebanyakan suami.

Sampai sekarang pun, jika mau saya dapat menggunakan otoritas saya sebagai pemimpin keluarga tanpa Ira dapat menolaknya. Tapi saya merasa, cara kepemimpinan demikian tidaklah benar. Di masa sekarang, apalagi mendatang, gaya kepemimpinan ‘partnership’ yang lebih diperlukan adalah diskusi, dialog untuk mendapatkan format yang terbaik dalam keluarga. Dialog tersebut harus terus dikembangkan karena setiap hari kita menghadapi situasi baru. Indikator sederhana tingkat dialog tersebut adalah seberapa sering suami istri mendiskusikan situasi, keadaan, pola, hingga posisi yang dikuasai masing-masing dalam berhubungan intim.

Dengan pola kepemimpinan ini, pemimpin tidak menempatkan diri untuk “menggurui” atau mendikte. Walaupun dilakukan secara halus. Pemimpin perlu menempatkan diri sebagai moderator yang cerdas, yang mampu mengeksplorasi seluruh gagasan dan pikiran anggota keluarga, lalu membuat sintesa yang paling baik dan diterima semua pihak. Acapkali suami “takut” untuk berdiskusi. Banyak suami tidak siap bila sang istri mengambil peran yang cukup besar di rumah tangga dan merasa “kehilangan harga diri”. Seolah tugas suami selalu mencari nafkah, sedangkan adalah tugas istri adalah menangani seluruh tugas domestic atau pekerjaan rumah tangga padahal cukup banyak variasi yang dimungkinkan dalam pola hubungan suami-istri. Semuanya tergantung dari karakter masing-masing pihak.

Pola hubungan Muhammad-Khadijah sangat berbeda dengan pola hubungan Muhammad-Aisyah. Karakter keluarga saya, kebetulan lebih dekat dengan pola pertama dibanding kedua. Tanpa banyak diskusi, saya khawatir, kebahagiaan keluarga yang diidamkan hanya akan dicapai secara semu. Perempuan dan anak-anak akan cenderung menjadi “korban”. Acapkali istri terpaksa menerima “kodratNya’, mengubur dalam-dalam potensinya untuk dapat berperan langsung dalam masyarakat, sepenuhnya menjadi “makhluk domestik”, sekedar menjalankan fungsi reproduksi (yang tdak mungkin tak merasakan kenikmatannya sebagaimana yang dirasakan sang suami), serta kehilangan identitas dirinya karena ia telah menjadi “ummu…atau umminya…”

Saya bukan penganjur wanita untuk berkarier dan saya juga bukan penganjur wanita untuk di rumah saja. Setiap orang punya kecenderungan masing-masing. Biarkan kecenderungan itu tumbuh tanpa dipatahkan. Tinggal bagaimana mengelolanya secara baik, sesuai dengan keadaan masing-masing. Khadijah adalah investor bisnis perdagangan antar bangsa pada zamannya. Barangkali sekelas George Soros atau Rupert Murdoch sekarnag. Sedangkan Aisyah mewarnai rumah tangga dengan kemanjaannya. Muhammad saw tidak memukul rata mereka untuk menjadi seragam: istri adalah penunggu dan pekerja domestic bagi suami dan anak-anak.

Bagi suami dengan pola kepemimpinan ‘partnership’ istri di rumah atau berkarier sama baik. Asalkan pilihan itu sudah dipertimbangkan secara cermat dan benar-benar menjadi pilihan hati sang istri. Pemaksaan apakah untuk tinggal di rumah atau untuk bekerja, pada dasarnya mengingkari prinsip Islam agar setiap umatnya kritis, berhati tulus dan berpikir merdeka hanya dengan mengilahkanNya. Sayang, banyak suami yang lebih banyak mengikuti naluri primitifnya male chauvinistic ketimbang menengok teladan Muhammad terutama dalam berkeluarga dengan ummul mukminin, Khadijah, meskipun sambil mengutip hadis.

Bisa saja pendapat saya ini keliru karena keterbatasan ilmu agama saya tapi saya berdoa, mudah-mudahan Allah memberi jalan yang baik bagi keluarga saya. Jalan baik itu, insya Allah hanya akan diberikan bila suami-istri saling respek. Secara lahiriah, itu kami wujudkan setiap habis shalat berjama’ah. Ira selalu mencium tangan saya dan saya ganti mencium tangan Ira. Saya akan memijat kaki Ira, bila ia capek. Ia pun akan memijat kaki saya bila saya capek. Bagi saya Ira bukan hanya istri, ia juga sahabat terbaik saya.

komentar Yumna :
“Subhanallah…adakah Zaim Uchrowi yang lain yang memberikan kesempatan dan dukungan sepenuh hati pada belahan jiwanya untuk berkembang dan berkontribusi secara totalitas pada masyarakat?”

komentarku :
“Dicari : suami dengan salah satu karakteristik spt Om Zaim Uchrowi :P”

komentar lanjutan (smg gak pegel bacanya yah^_^) :

beberapa waktu lalu temenku menikah. suaminya, katanya, rajiiin…banget. kalo nyuci piring, bisa sampe berulang kali digosok2 sampe keset supaya bisa dipastikan udah bener-bener bersih. dan suaminya berpendapat, sang istri gak perlu nyuci2, sibuk berbenah rumah, masak ini-itu, selama semua itu bisa dikerjakan orang lain. dan sang suami justru menyarankan istrinya untuk sebanyak-banyaknya menyerap ilmu : ikut kajian, belajar bahasa arab, kursus2, dan lain2.
beda banget sama beberapa lelaki yang punya kriteria calon istri bisa memasak, bisa nyuci, bisa beresin rumah.

Hey, bung…
Situ mau nyari istri apa pembantu?!?!? -_-‘

aku tidak ingin mengingkari fitrah wanita disini. bahwa tugas wanita adalah mengurus rumah tangga adalah memang kewajibannya. tapi mengekangnya dan membiarkannya mendekam di rumah -hanya- untuk mengurus urusan domestik, kayanya kurang bijak deh 😦

so, mudah2an ga telat untuk pasang pengumuman nih :
“Dicari suami -salah satunya- dengan karakteristik seperti Om Zaim Uchrowi!”

hehehe…
ngaco aja gue…
piss lagi ah! ^_^v

nb : to Om Zaim, nice article 🙂 smg rumah tangganya samara senantiasa ya.

Tim Keuangan, How I Miss U So…


Bismillah..

Sekarang ini lagi kangeeen… bangetttt sama temen-temen keuangan…

Tahun lalu, aku berempat Anis, Fajar dan Oskar merupakan tim keuangan di BEM UI 0506. Dari kesemua tim keuangan itu, cuma aku satu-satunya yang bukan anak FE (fakultas ekonomi), sementara Anis, Fajar dan Oskar semuanya kuliah di ekonomi. Anis, aku dan Oskar kebetulan sama-sama angkatan 2001, dan Fajar angkatan 2002. Inget banget deh waktu di awal-awal kita bersusah-payah bikin SOP keuangan (standard operational procedures –red) yang ajeg, adil dan bisa meminimalisir penyelewengan.

Dipandu Oskar sebagai Staf Ahli Ekonomi dan Keuangan, kami pun merumuskan poin-poin yang kiranya harus menjadi perhatian utama. Pokoknya setiap aliran uang yang keluar-masuk harus diketahui sama aku sebagai bendum (bendahara umum), serta Anis dan Fajar sebagai staf keuanganku sekaligus auditor. Caranya, dengan mengaudit anggaran yang diajukan kepanitiaan/bidang/biro, mengontrol penggunaannya saat kegiatan berjalan, plus memeriksa kembali laporan keuangannya ketika kegiatan sudah berakhir.

Awal yang cukup menegangkan.
Usulan SOP keuangan kami agak deadlock di rapat BPH.
Si Mr.Biggy, leader of our BEM, cuma mau tau bahwa kita bikin peraturan yang baik. Baik itu, menurut dia, bisa meminimalisir penyelewengan tadi, dan diterima semua pihak. Untuk poin kedua ini, kami pasang badan. Masalahnya ada peraturan yang gak bisa diterima sama beberapa pihak. Menurut mereka, uang yang sepenuhnya dipegang sama Bendum akan mempersulit prosedur penggunaan, in-efisiensi dan in-efektivitas, serta ber-bla-bla alasan lainnya. Otomatis kami serentak mengerutkan kening. Rasa-rasanya gak bakal segitunya deh. Masalahnya uang yang dipegang oleh bidang nantinya akan sulit terkontrol. Iya kalau setiap uang keluar-masuk dilaporkan. Kalau enggak? Dan tetep aja, perputaran uang tanpa sepengetahuan kami sangat mungkin terjadi.

Di masa itu, deadlock menghadang. Aku akhirnya bicara sama beberapa BPH. Sambil menahan bingung dan gemas, aku tekankan bahwa pertanggungjawaban keuangan ada padaku. Jadi kalau ada apa-apa di kemudian hari, yang dipanggil duluan di persidangan akhirat sama Allah tuh aku. Bukan si A, si B, si C. Tapi Mr. Biggy kekeuh menyanggah. Gimana-gimana pimpinan tertinggi ada pada dirinya. Jadi kalau ada apa-apa, yang pertama dipanggil Allah untuk bertanggung jawab ya dia.
Huh. Tapi kan yang megang keuangan langsung tuh aku, Biggyyy…

Akhirnya si Biggy ambil jalan tengah.
Dia mau peraturan tegak, tapi dia juga gak kepingin ada yang terluka. Anis bahkan sampai terperangah. Dimana-mana bikin peraturan kan gak harus minta pertimbangan si objek hukum dulu, begitu katanya.
Fajar dan Oskar mengangguk dengan kuat, “Sepakat!!!”.

Ok, ok. Aku mengalah pada putusan pimpinan. Yang penting aku sudah perjuangkan semaksimal yang aku bisa. Kalau ada apa-apa, tanggung jawab ya. Aku sudah mengingatkan.

Di awal tahun itu, Oskar lebih banyak berperan. Walau cuma muncul di 3 bulan pertama, dia cukup konkret menuangkan konsep dan mengajari banyak hal. Aku gitu lho. Anak psikologi yang tiba-tiba harus berurusan dengan reimburs-reimbursan, laporan keuangan, neraca dan sebagainya. “Jaka sembung naik ojek, gak nyambung, Jack!”, kan?

Saat itu Anis harus magang. Fajar, masih malu-malu main ke ruangan Bem di pusgiwa.
“Males saya kalau gak kenal anak-anaknya, Ndra.” Begitu dia beralasan.
Dan akhirnya kerja-kerja yang diniatkan di awal menjadi tidak begitu optimal. Sempet juga aku kesal sama Oskar yang gak pernah nongol. Masalahnya dia gak pernah ngasih kabar. Pun Fajar yang suka lambretta kalau didelegasiin tugas ke rektorat dan nyebar laporan keuangan ke fakultas-fakultas. Jadi gemeeesss…banget kalo udah begini.
(Hehehe…Maap-maap ya Oskar dan Fajar ^_^)

Tengah tahun kedua, kami berbenah. Anis sudah selesai dari magangnya, dan Fajar sudah cukup akrab dengan pusgiwa. Kerja-kerja mulai membaik dan kinerja semua orang meningkat. Kalau bidang-biro lain rapat koordinasinya di pusgiwa, terkadang kami memilih rapat di Medina Burger di Jl. Margonda, atau bahkan sampai ke Paparon’s Pizza segala. Bukan apa-apa, Anis yang waktu itu udah kerja baru bisa ke Depok setelah pekerjaannya selesai. Dan itu diatas jam 17.00, sodara-sodara. Maka jadilah kami berrapat-rapat di luar daerah pusgiwa. Oya, semuanya dibayar pake uang sendiri koq, bukan uang Bem lah… Hehehe…

Ada satu kejadian lucu waktu di Medina Burger.
Waktu itu, kami sudah mau memesan menu.
Sampai di meja pesan, aku mengusulkan sesuatu.
“Eh…eh…gini-gini. Si Fajar bayarin Oskar, Oskar bayarin Anis, Anis bayarin aku, aku bayarin Fajar.”
Fajar : “Aduh, ribet kalo kaya gitu. Udah sih, bayar sendiri-sendiri aja.”
Oskar : “Iya, Ndra…Susah…”
Aku, yang anak psikologi, menjawab dengan sedikit mengotot : “Yahhh…. Biarin. Kan secara psikologis, akan terasa bahwa kita sedang saling mentraktir, walau sebenarnya bayar sendiri-sendiri juga…”
Oskar, karena dia anak ekonomi, menjawab : “Tapi secara ekonomi, itu gak ekonomis, Ndra!!!”
Fajar : “Iya betuuu!!!l!! Sepakat gua sama lu, Kar!”
Indra : “Iih… tapi kan kalo kaya gitu gak asiiikk… udah saling ngebayarin aja!”

Selama kita berdebat itu, mas-mas penjualnya ngeliatin kita aja.
Sampai si Anis menengahi, baru deh kita diam.
“Eh, udah-udah. Cepetan mau pesen apa. Tuh mas-masnya bingung…Maaf ya, Mas…”
Hahaha…. ^_^

Abis itu kita makan dengan menggabungkan dua meja (terkadang sampai 3, kalau lagi rame-rame sama anak-anak lainnya), dan ngobrol-ketawa panjang lebar sampe tu ruangan Medina berasa milik kita. Si mas-mas Medina seperti biasa cuma bisa ngeliatin. Mungkin sambil berpikir, “Ni anak-anaknya siapa sih, ilang disini? Rusuh amat…”
Hehehe….

Hal-hal lucu lainnya, terjadi antara aku dan Anis.
Anis bilang, aku tuh mirip banget sama dia waktu dia jadi bendahara di Senat FE dulu.
Yang belibet-libet sama laporan-lah, yang bon-bon suka keselip-seliplah, sampai yang suka bingung sendiri kalau mau mengerjakan suatu hal.
Dan ternyata, dinamika keluarga Anis juga mirip-mirip sama keluargaku. Yang gak boleh nginep-ngineplah, yang overprotected-lah, dan lain-lain yang hampir-hampir sama.
Kalau inget-inget itu aku jadi pengen ketawa sendiri.
Asal bukan twin ble’e aja deh, Nis…

Ada lagi hal yang konyol terjadi pada salah satu oknum tim keuangan ini.
Jadi waktu itu, si Fajar lagi turun tangga Bem, sambil nyanyi-nyanyi lagu SMS yang doctrinize itu.
“Bang….sms siapa ini , Bang… dst”.

waktu itu masih awal2 banget lagu itu keluar. jadi kita masih belum akrab sama lagunya. dan selalu menunjukkan mimik seperti ini –> -_-‘ kalau lagu itu terdengar (eh, ampe skarang jg masih siih…)

Si Anis sampe ngakak tergelak. Aku yang diceritain juga ketawa gak kalah lebar.
Ya ampuun…Fajar! Bisa-bisanya nyanyiin gituan! Kagak ada yang elit-an dikit apa???
Sampe sekarang, kalau aku dan anis mendengarkan lagu ini dimanapun kami berada, pasti keingetan sama Fajar. Dan abis itu pasti kita gak bisa nahan ketawa ^_^

Tapi selain hal-hal lucu di atas, ada juga kejadian yang bikin kita megap-megap susah bernapas. Waktu itu kita kerepotan nanganin salah satu kepanitiaan yang anggaran keuangannya bermasalah.
Udah deket hari H, dananya yang ditargetin ratusan juta itu belum juga terkumpul. Dah gitu panitianya gak mau acaranya dikurangi atau dimodifikasi biar bisa menekan anggaran. Sementara BEM juga gak punya uang sebanyak anggaran mereka untuk nalangin.
Bener-bener deh… Mana waktu itu Anis lagi persiapan sidang. Sampe dia ditungguin (dan dimarahin) sama temen-temennya yang mau ngajarin dia. “Hare gene udah mau sidang masih ngurusin BEM, Nis???” Kira-kira begitulah omelan teman-temannya Anis.
Aku, Fajar dan beberapa BPH juga harus rela pulang agak larut karena mencari solusi yang pas buat kepanitiaan ini. What a hectic day-lah ketika itu…

Yahh…begitulah kenangan-kenangan tim keuangan.
Mulai dari yang nyebelin, sampe yang malu-maluin. Dan sekarang kami udah misah-misah.
Si Anis sampe sekarang masih kerja di redaksi majalah ekonomi syariahnya.
Oskar terakhir dengar kabarnya, akan melanjutkan S2 di Australia.
Dan Fajar, kemarin2 dia ngirim sms begini…
“doakan ya, Insya Allah saya besok mau umroh. Kapan tim keuangan kumpul lagi? Kangen nie…”
Waaa…Fajaaaar….umroh….!
Sms-nya bikin tambah kangen aja sama semuanyaaaa….
Iya. Rencananya suatu saat kami akan jalan-jalan ke Taman Safari. Tapi entah kapan, soalnya semua udah pada sibuk sekarang 😦

Duh, tim keuangan-ku….how i miss u so-lah pokoknyaaa! 😦

Bukan Hariku

Bismillah.


Hari ini bukan hariku, Allah.
Maka, jika sesak menyeruak ke relung-relung jiwa, mohon maafkan ia.
Sebab tertinggal dari kereta perjalanan berarti menunda sekian banyak agenda
Dan upaya pun bertambah demi kejaran waktu yang kian melama.

Ya. Hari ini bukan milikku.
Kalaupun aku harus menunduk, semoga itu bukan karena menolak kehendak-Mu.
Kalaupun aku harus mengusap titik-titik bening yang kian menyusut,
semoga itu bukan karena tak mau menerima keinginan-Mu.
Engkau pasti tahu bahwa jejak-jejak mereka senantiasa berjajar denganku.
Engkau pasti melihat bahwa kemarin kami berhimpitan dengan waktu
Dan jika sekarang kami tak bersama-sama menyongsong gerbang itu, yakinkan aku bahwa ini yang terbaik untukku.

Aku tahu ini bukan hariku, ya Allah.
Maka sadarkan jiwaku bahwa lara tak akan menghentikan takdir-Mu.
Kuatkan ikhlashku bahwa mentari pasti muncul setelah malam meredup.
Dan kesunyian malam serta lenguhan burung hantu
Akan segera pergi ketika sang fajar menguak pagi yang baru.

Jadi Ya Allah…
Semoga disinilah kurengkuh lebih banyak anugerah-Mu
Meski tapak-tapak ini tak lagi bersanding menyudahi perjuangan yang lalu
Dan satu-persatu mereka pergi menyongsong medan yang baru
Yakinkan saja bahwa jiwaku kan tetap bersama-Mu
Hingga aku semakin yakin,
Cukuplah Engkau yang memenuhi hari-hariku.

020906, saatWisudaSemesterGenap.

Nb :
Congratulation to Drg.Deasy Rosalina,
afwan ga bisa menuhin janji tuk ketemu di balairung ya. juga buat Nuri Sadida,S.Psi, Suryana,S.T., Indah Rachmawati,S.Si, Adie Fauzan,S.Si, Rubby Eka Saputra,S.Hum, Adri “Qyubho” Firmansyah,S.Si, Victa,S.KM, Angga Putra,S.KM, Fathurrahman,S.Sos, Iwan Kurniawan,S.Si, Herika,S.Si, Rose Handayani dan Anisa Rahmawati,S. ?? (keperawatan gelarnya apa ya?!?), Rahmi Anisah,S.E, Pandu, Winna, Anik, K’Dany dan Mira,S.Psi…selamat berjuang menyongsong medan jihad berikutnya. smg ilmunya berkah dan bermanfaat untuk sebesar2 kepentingan ummat.

Gadis Kecil di Kereta

2ismillah.

Jarum jam mungkin sudah menunjukkan pukul 7 malam lewat ketika itu. Aku berdiri di tepi peron stasiun UI menunggu kereta jurusan Bogor-Tanah Abang yang sudah terlihat dari kejauhan. Mudah-mudahan kosong dan mendapat duduk, doaku dalam hati.

Kereta tiba dan aku segera naik. Alhamdulillah, bangku-bangku banyak yang kosong. Aku duduk tepat di samping seorang gadis berusia 12 tahunan dan seorang Bapak. Di sebelah gadis itu, seorang pria berumur 27 tahunan meletakkan tangannya di jendela kereta, seolah berposisi merangkul sang gadis, walau tidak sampai menyentuh. Perhatianku seketika terganggu. Pasalnya aku akan merasa risih jika melihat tangannya sampai menyentuh tubuh si gadis, atau mungkin mengenai punggungku. Tapi aku merasa lega kemudian. Laki-laki itu hanya menyandarkan tangannya saja di jendela. Dan aku berbaik sangka sang gadis adalah saudaranya.

Kereta terus melaju dengan cepat. Merasa begitu lelah, aku hanya duduk terdiam dan mencoba melafazkan dzikir. Tapi tak lama perhatianku terganggu. Pria itu mencolek bahuku! Aku terlonjak seketika.

“Mbak, adek ini baru kabur dari rumahnya di Cilebut. Dia sendirian. Mana katanya belum makan lagi dari siang,“
Aku melupakan colekan pria itu sejenak. Perhatianku beralih ke gadis kecil di sebelahku.
“Oh… sekarang mau kemana?“
Gadis itu tetap diam dan tak merespon teguranku.
“Dia kabur dari rumah. Berantem sama mamanya. Katanya mamanya pilih kasih,“ pria itu menjadi jubir tanpa diminta.
Aku mengangguk-angguk dan bertanya ulang sekedar memastikan.
“Kenapa kabur dari rumah, dek?“
“Abis mama pilih kasih…“
“Terus, sekarang mau kemana?“
“Saya mau ajak dia ke tempat saya, Mbak,” lagi-lagi si mas-mas itu yang menjawab.
“Tapi saya nge-kos. Takutnya mau nolongin malah ntar muncul omongan macem-macem. Jadi saya mau bawa ke rumah ibu saya di Pasar Minggu. Abis kasian kan udah malem begini. Tapi dia gak mau…“

Aku berpikir keras.
Hari sudah malam begini. Tidak mungkin membiarkan gadis ini keluyuran sendirian.
“Kamu mau kemana sekarang?” tanyaku kepada gadis kecil itu.
Lagi-lagi ia hanya terdiam sambil memeluk tasnya.
“Kalau Mbak pulangnya kemana?“ si mas-mas bertanya padaku.
“Oh, saya turun di Tebet. Tinggal di Cipinang,“ ujarku.
“Tinggal sama orangtua? Soalnya saya nge-kos. Takut ada komentar gimana-gimana…“
“Mhh..iya sih. Saya ngerti. Saya mau nolongin, tapi… “ bayanganku berlari ke rumah. Bagaimana reaksi mamah kalau pulang-pulang aku membawa orang asing?
“Saya gak yakin orangtua saya bisa nerima…”
Mas-mas itu mengerti. Ia segera mengangguk.
Sebetulnya bukan hanya mamah yang menjadi konsideranku. Tapi sedikit pikiran buruk melintas seketika. Bagaimana kalau anak ini berbohong? Bagaimana kalau ia memperdayaiku? Kutengok sekeliling. Penumpang lainnya tak tampak terganggu perhatiannya melihat kami. Adakah ini tampak wajar ataukah hanya aku yang terlalu berprasangka? Bukan apa-apa. Aku pernah merasa dibohongi anak seusia gadis ini di stasiun Tebet beberapa tahun lalu.

“Saya bisa sih bawa ke tempat Ibu,“ pria itu menghentikan pikiranku.
“Ibu saya memang tinggal sendirian. Cuma masalahnya dia gak mau,”.
Aku menatapnya sekilas. “Kita bujuk aja, Mas,”.
Pikiran buruk lenyap begitu saja dan aku menoleh ke gadis itu lagi.
Mencoba membujuknya.
“Dek, kamu mau kemana sekarang? Sudah malam lho. Kamu gak takut?“
“Iya. Saya khawatir aja ni adek kenapa-napa. Udah malam begini…“ mas-mas itu menimpali.
Aku memperhatikan gadis itu baik-baik dan menyentuh tangannya, mencoba memberi rasa nyaman.
“Sekarang, kalau kamu gak mau pulang, kamu mau tidur dimana? Ini sudah malam…“
Gadis kecil itu menggeleng. Beberapa saat kami sama-sama terdiam.
“Gini deh…“ ujarku. “Daripada kamu gak tau mau kemana, mendingan ikut sama mas ini ke rumah Ibunya ya?“
Gadis kecil itu lagi-lagi terdiam.
Aku mengusap punggung tangan dan bahunya dengan lembut. Aku yakin dia hanya butuh tempat mengadu. Tapi kereta terus berjalan dan stasiun pasar Minggu semakin dekat.
“Dek, kamu boleh kesel sama Mama. Ohya, panggilnya Mama atau Ibu?“
Gadis itu berkata singkat, “Mama,“.
“Nah, sekarang pikirin deh, kamu mau tidur dimana. Ini sudah malam. Kalau ada orang jahat gimana? Serem lho. Mama di rumah pasti juga cemas banget mikirin kamu. Duh, anak perempuan saya lagi dimana ya….begitu. Sebenarnya mama sayang sama kamu. Percaya sama kakak. Sekarang gini aja, masalah sama mama entar dulu deh, kamu ikut mas ini ke rumah Ibunya, terus kamu cerita aja. Atau kalau besok mau ketemu kakak lagi juga boleh, nanti kita janjian aja. Mau ya?“ bujukku.

Aku mendengar kata-kataku sendiri dengan jelas. Seolah menjadi manusia paling bodoh yang tengah menasehati dirinya sendiri. Aku juga pernah menjadi adik kecil ini. Tidak separah ia, memang. Tapi mungkin mamah pernah merasakan apa yang mama sang gadis ini rasakan sekarang. Dan sekarang aku yang sok menceramahi.
“Indra,“ aku berujar dalam hati, menekan jiwaku sendiri. “Pegang baik-baik kata-katamu ya.“.

Lantas aku terus memperhatikan gadis itu.
Akhirnya ia mengangguk. Mas-mas di sebelahnya ikut lega. Pun aku, yang tak bisa berbuat banyak.

Kereta mulai berjalan perlahan karena mendekati stasiun. Mas-mas itu berdiri dan membimbing si gadis kecil bangun dari duduknya.
“Maaf ya dek, kakak ga bisa temenin…“ ucapku penuh rasa bersalah.
“Yuk, Mba. Saya duluan…“ mas-mas itu pamit sambil menggamit tangan gadis itu.
“Iya. Titip ya, Mas. Hati-hati,” balasku penuh harap.

Aku menatap mereka turun dari kereta.
Hmhhhhhh……
Beruntung ada mas itu yang mau membantunya. Tak ada rasa curiga padanya, walau pada akhirnya aku berdoa juga semoga ia benar-benar berniat baik.

Tapi… Sebentar.
Bagaimana kalau ia ternyata jahat? Dan aku membiarkan gadis itu dibawa oleh pria yang aku juga belum mengenalnya? Seharusnya aku yang lebih wajib membawa gadis itu bersamaku… karena aku perempuan dan pria itu laki-laki!

Argh!
Aku singkirkan pikiran burukku.
Mereka sudah turun. Tak ada gunanya aku berpikir macam-macam.
Sekarang waktunya berdoa semoga Allah menjaga mereka dengan sebaik-baik penjagaan.

Kereta terus berjalan, seperti merayapi malam yang kian kelam.
Dan aku terus merenungi kejadian barusan. Mencoba menarik hikmah agar jiwa terus belajar.
maafkan, ya Allah… 😥