Modelling di Kereta


Bismillah.

Kereta memang gak pernah kehabisan kisah. Ada aja yang bisa diceritain dari kejadian sehari-hari disana (maap ya, Awan Diga. Bukannya mau nyaingin dikau crita2 soal kereta =P).

Kali ini aku mau bahas soal modelling di kereta. Bukan modelling yang jalan-jalan di atas catwalk ituuu! (btw kebayang gak sih, ada peragawati/wan lenggak-lenggok di atas kereta?!?!?).
No, no…
Tapi modelling disini artinya meniru, imitasi, dan sejenisnya.

Jadi gini.
Beberapa kali aku sempat menyaksikan pemandangan itu. Seorang ibu dengan bayi dalam gendongannya, asyik menyapu lantai kereta (lantai atau apa namanya ya?!). Lain hari, seorang bapak digelayuti 3 anaknya yang masih sangat kecil-kecil, sibuk menyenandungkan sholawat sambil mengacungkan kantong uang. Hari berikutnya, ibu-ibu menggendong anak kecil, mengemis tanpa melakukan apapun.

Memperhatikan itu, aku jadi sibuk berpikir.
Bagaimanapun anak belajar dari orangtuanya. Kalo inget iklan susu anak di tivi yang punya kandungan vitamin untuk syaraf penglihatannya, dikatakan bahwa anak menyerap informasi dari dunianya kebanyakan melalui mata.
Dan biasanya anak belajar melalui proses meniru (modelling) dari sekelilingnya. Makanya gak heran, kalo anak-anak tiba-tiba jadi lancar meniru suara dari film kartun Dora The Explorer, seperti “Berhasil! Berhasil!”. Atau bener-bener copy paste sampe dandanannya dimirip-miripin. Atau bisa juga tiba-tiba berlagak jadi jagoan macam Power Rangers atau Ksatria Baja Hitam (jadi inget masa kecil… Btw, Kotaro Minami-nya keren yah *_*).

Jika orangtua sadar akan hal ini, maka aku yakin mereka akan sangat berhati-hati menata perilakunya agar anak hanya meniru hal-hal baik dari mereka. Sebab perintah dengan kata-kata disinyalir tidak terlalu efektif dibandingkan teladan yang baik. Contoh konkret, kira-kira begitulah bahasanya.

So, ketika mendapati betapa banyak orangtua di kereta yang membawa serta anak-anaknya mengemis, aku tidak bisa membayangkan bagaimana pembelajaran yang mereka terima sejak kecil. Jika mereka kelak besar, bersikap menolak terhadap perilaku orangtuanya kupikir sudah merupakan langkah yang bagus. Yang akan menjadi penyesalan adalah jika mereka menganggap pekerjaan mengemis merupakan hal yang baik-baik saja.

Itu masih mending, kata Awan dalam satu perbincangan di atas kereta, karena yang dibawa adalah anak sendiri alias anak kandung. Soalnya di Bandung, katanya, di jalan Pasteur sering banget ada pengemis ibu-ibu dengan gaya dan baju yang hampir sama, membawa anak-anak kecil dalam gendongan mereka. Bukan tidak mungkin memang ada yang mengkoordinir dan memberikan sewaan bayi untuk mereka bawa-bawa sebagai pajangan demi sereceh-dua receh belas kasihan! Wah…wah…parah betul ya. Masa bayi-bayi dijadiin sewaan 😦

Apapun alasannya, membiasakan diri mengemis aku pikir tidak cukup mulia untuk dilakukan. Sesulit apapun kondisinya, kalau mau berusaha, insya Allah akan ada jalan untuk mendapatkan nafkah.

Well… ngomong sih emang selalu gampang…
Masalahnya, kalo aku punya lapangan pekerjaan juga bakal aku kasih deh tuh.
Tapi berhubung aku masih mencari pekerjaan juga, jadi aku baru bisa mengangkat pemikiran ini ke permukaan, supaya lebih banyak lagi yang ‘ngeh’ sama masalah ini.
Kalau mau, jadi loper koran tu dengar-dengar lumayan juga.
Tukang sampah, jangan salah… meski sering dipandang rendah, gitu-gitu mereka dapet duit halal yang tidak sedikit juga. Atau ngumpulin kardus bekas atau kemasan air mineral, agaknya juga bisa memenuhi kebutuhan hidup, walau mungkin tak seberapa. Tau gak, walau rumah mereka cuma bedeng-bedeng kardus atau seng gak jelas gitu, tiap bulan mereka tetap bisa kirim uang ke kampuangnya nan jauh di mato. Bahkan kata temanku, bisa mencapai di atas 500 ribuan sebulannya.

Yah…akhirnya cuma bisa berharap semoga Allah menunjuki orangtua-orangtua mereka hidayah, dan menjadikan anak-anak bangsa itu orang-orang yang lebih baik dari generasi sebelumnya.
Ayo, Pak, Bu, berikan pembelajaran terbaik untuk anak-anak kita.

-thx2awan4thatDiscuss:)

Advertisements

3 thoughts on “Modelling di Kereta

  1. Assalamu’alaikum wr wb..jadi… mari kita membuka lapangan kerjaaaa !!!! 😀eniwey, bicara soal pendapatan… hmmm… itu juga sebenernya alasan kenapa banyak pengemis. Karena pendapatannya lebih besar, apalagi dari seorang loper koran ato pemulung :pteringat pengalaman (di bandung juga), kenalan seorang pengemis tua, laki, badannya bungkuk dan kalau kemana-mana harus digendong anaknya yang laki2… waktu pergi ke rumahnya, ternyata cukup luas, dan…mmm… istrinya 4 :pyah, ga semua sih kaya gitu (jelas, ga semua!)wallahu’alam bish-showab…

  2. sumpeh lo, k????gila betul!padahal penampakannya kaya ga mampu gitu yah???ckckck…jadi kita harus memberi atau enggak nih?!?*bingung*

  3. We actors don’t get a lot of < HREF="http://www.isobella-lawrence.com" REL="nofollow">Film (Professional)<> till we get “really” famous – but we live and breathe our < HREF="http://www.isobella-lawrence.com" REL="nofollow">Film (Professional)<> regardless. Film (Professional)Isobellahttp://www.isobella-lawrence.comLike your blog :o)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s