Totalitas Penghambaan

Bismillah.
Alhamdulillah…seneng banget ya, kalau kita bisa selalu mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada. Betapa beruntungnya kita berada di barisan Rosulullah saw, yang mengajarkan bahwa Islam begitu mengajarkan untuk berbaik sangka terhadap baik-buruk peristiwa.

Hari-hari berat kemarin, saat pengerjaan skripsi, ngetik-ngetik, ngumpulin bahan, sampai nyebar kuesioner, analisa dan sidang, adalah hal yang kupikir tidak bisa dikatakan ringan. Baru tau deh, kenapa orang-orang begitu bersyukur saat skripsi sudah selesai dibuat. Emang gak gampang sih.

Itu pula yang aku hadapi.
Walau susah-ringannya bisa dimaknai dengan persepsi yang beda-beda, jelas, skripsi sudah menguras banyak waktu dan tenaga. Belum lagi uang untuk print, fotokopi, rental, beli reward, beli Cadbury dan silverqueen (ups! Ada yang tersindir ga, ya? ^_^), dsb.
Tapi subhanallohnya, di masa-masa sulit itu, aku justru merasakan kenikmatan luar biasa yang sukar diungkapkan dengan kata-kata.

Bagiku, pengerjaan skripsi adalah jihad akademis terberat yang pernah kuhadapi.
Itu sebabnya ketika mentok dan suntuk abis, cuma Allah yang jadi tempat berlari. Yang lain, gak bisa diharapkan. Bukan apa-apa, karena mereka juga sedang sama sibuknya mengerjakan skripsi. Kalau dicurhatin, respon yang muncul malah curhatan juga. Bukan solusi yang keluar, tapi sharing problem dan gak ada pemecahannya :).
Ada juga yang udah minta maaf sejak awal karena gak bisa bantuin, atau bahkan ada yang jago ngomong doang atau ngangkat-ngangkat di awal tapi ngejatohin di belakang. Yang terakhir-terakhir ini, baiknya emang dianggap gak ada aja.
Siapa mereka emangnya, ya gak?

Selain itu, selama ngerjain skripsi aku juga jadi dekat dengan banyak orang yang sebelumnya tidak terlalu intens berinteraksi. Justru di saat-saat seperti ini, merekalah yang menopang kala aku sudah oleng berdiri, atau memberi dorongan untuk bangkit dan berjuang hingga batas maksimal. Yang lain, kemana tau deh…

Makanya, aku bersyukur sekali berada dalam proses yang sulit ini. Maksudnya bukan kesenengan dikasih kesulitan. Tapi aku bisa memaknainya lebih mendalam karena ternyata banyak sekali anugerah yang belum tentu aku bisa dapatkan kalo aku gak menjalani proses ini.

Jadilah,”hasbunallah wa ni’mal wakiil” itu teresap sedemikian rupa sehingga “Laa hawla walaa quwwata illa billah” makin kuat tertanam di dalam jiwa.
Bener-bener pasrah dan gak tau musti gimana.
Berasa banget gak punya kekuatan apa-apa.
Dan di puncak penyerahan itu, totalitas penghambaan mendominasi segala ruang rasa…

Dalam ketundukan terdalam…
saat kita merasa berada di jurang kejatuhan terendah…
di waktu kita tak lagi tahu harus berbuat apa
di saat kita tengah terhempas di titik nadir kehinaan…
ketika itulah aku merasakan sensasi totalitas penghambaan yang luar biasa!

Kalian tahu, adakah yang lebih nikmat daripada ketika kita dekat dengan Allah?
Bagiku, saat ini tidak ada 🙂

-thanksAllah,forTheAmazingProcess

Advertisements

3 thoughts on “Totalitas Penghambaan

  1. hehe…ada yang tersindir rupanya… enggak kok. saya emang suka membuat orang lain bahagia.. (kekekek :P)tapi itu emang sengaja saya beliin buat menghargai kebaikan orang lain. gitu om awan 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s