Setidaknya masih bisa belajar…

Bismillah.

Lagi-lagi…
Berharap pada selain Allah membuahkan ketidakpuasan dan kekecewaan.
Ah, jiwa.
Kamu sih…berharapnya sama Allah aja kek.

***

Beberapa pekan lalu aku baru aja terlibat jadi event organizer acara sanlat sebuah lembaga islam milik seorang ulama ternama. Cuma jadi mentor sih. Tapi itu udah cukup “worthed” kok, dalam kacamata amal. Apalagi berkaitan dengan urusan transferring ilmu.

Sang PO baru memastikan aku ikut jam 1 pagi, H-12 jam. Itu pun dia menelepon dengan tidak sopannya pada tengah malam saat orang berisitirahat. Tadinya aku akan dilibatkan di sanlat bulan ramadhan. It means aku tidak diikutkan dalam sanlat liburan kali ini. Tapi berhubung kekurangan mentor, maka beberapa orang yang awalnya tidak dilibatkan jadi dihubungi kembali, termasuk aku salah satunya.

Habis si PO nelepon, aku duduk terbengong-bengong di atas tempat tidur.
Aku harus siapkan banyak hal kalo harus berangkat.
Waktu pengerjaan skripsi tinggal 6 hari lagi, dan aku baru sampai analisa data (kan critanya skripsinya belum selesai waktu itu).
Panik menyergap tiba-tiba.
Kenapa tadi diiyain sih, indraaaa…!

Parah betul -_-‘.
Mana besok ngawas SPMB sampe siang. Cari pengganti juga gak ada teman yang bisa.
Sutralah. Aku gak enak kalo harus mengundurkan diri padahal tadi udah bilang siap. Tapi aku harus berusaha dapet laptop supaya bisa curi-curi waktu ngerjain skripsi.
Selebihnya…Pinjam baju hitam, jilbab putih, sandal gunung, dan…Oh iya, aku juga harus mencari mentor ikhwan karena masih kurang.
Ku sms seorang adik kelas. ahsan-tidak ahsan…. 😦 Sampai harus nelpon dia jam ½-2 pagi buta!
Respon negative. Mendadak sih mba, ujarnya.
Satu orang lagi ku sms. Pending.
Duh!

Pagi2 nelponin sejumlah orang.
“Yak, Meneer, pinjem jilbab putih ya? Apa? Udah belel? Ya udah bawa aja dulu. Sama baju item ada gak? Rok item? Oiya! Sama sandal gunung! *nyengir lebar*. Makasih ya!”
Dan sms…
“Qiwqiw…pinjem jilbab putih ada? Baju item? Bla..bla..bla…”

Dresscode hitam-putih dah beres.
Tapi laptop gagal didapat.
Aku pasrah …
Ya Allah…kalau aku benar2 Kau takdirkan tuk ikut, jadikan ini takdir yang baik untukku…dan semoga aku beroleh banyak kebaikan dari sana… sama lancarkan skripsiku juga ya, Allah…

Akhirnya berangkat juga ke Lembang.
Hari pertama aku berangkat jadi tim advance. Menata2 lokasi dan membereskan apa yang perlu dibereskan.
Siang hari, anak-anak berdatangan. Pesertanya dari SD sampai SMU.
Hmm…anak-anak yang lucu dan menggemaskan…

Hari pertama berlalu.
Bagus bangeeet….
Panitia berantakan, jobdesc gak jelas, kerja serabutan, and so on, and so on. Satu hal yang parah: ikhtilat panitianya.
Astaghfirulloh…ini lembaga islami bukan sih?

Aku mulai mengeluh. Pengen pulang, Ya Allah…
Tapi cuma terucap dalam hati aja. Jangan-jangan ini akibat dari ketidakridhoan Uma karena aku minta ijin pekanan. Tau gini aku mendingan gak usah ikut kesini dan ngaji aja…huhuuhuuuuu… Umaaaaa….pengen pulaaangggg……. 😥
Bener-bener deh…Kalau bukan karena mengingat harus meluruskan niat bahwa setiap amalan harus dikerjakan karena Allah semata, mungkin aku akan pulang sekarang juga.

Jadi inget kampus…
Jadi kangen sama saudara-saudara yang suka mengingatkan. Jadi kangen sama nuansa taushiyah ba’da sholat maghrib yang selalu jadi rutinitas. Ada yang selalu menguatkan untuk senantiasa meluruskan niat dan bertahan dalam menjalankan amanah, sesulit apapun kondisinya. Masih ada yang akan mengerenyitkan dahi ketika canda-canda yang ada dinilai mulai berlebihan.

Dan disini tidak adaaaaaaaa…. 😥

Akhirnya cuma bisa ngadu sama temen-temen yang sepemahaman. Sedih, karena kita yang mayoritas malah tak bisa mewarnai. Seorang ikhwah juga sama terpukulnya denganku. Berharap disini akan dapet banyak pembelajaran, ilmu dan pencerahan, ternyata yang terjadi malah sebaliknya. Bisa bertahan aja udah syukur…mana udah bolos pekanan lagi 😦

Oh…jadikan aku berharap pada-Mu semata, Ya Allah…

Sisa waktu akhirnya dijalani juga. Setengah hati? Yaa…gak juga sih. Abis mau gimana lagi. Dijalanin setengah hati juga gak ada gunanya. Mendingan, kata Aa’ Gym, nikmati nasi yang telah jadi bubur itu dengan kacang, bawang goreng, ayam… atau apaan kek. Yasud. Menikmati interaksi dengan anak-anak yang gembil-gembil, polos-polos, dan always ceria. Tapi ada juga yang nangis karena kangen sama mamanya, atau pas dijenguk mamanya, papanya gak ikut. Aduh…adik-adik…kalian lucu banget sih!

Ada juga yang suka nanya-nanya.
“Kakak…Kakak…jadi muslim yang baik itu susah ya?”
Aku mengerutkan kening. “Susah? Enggak…”
Wajah polos itu kemudian menerawang.
“Gak susah kok, Dek. Yang penting sholat dan berbuat baik,”
Jawabanku kena gak ya? Anak kecil harus ditekankan bahwa sholat itu tidak boleh ditinggal kan?
“Iya…tapi nanti kalau sholat, males… Nanti godaannya setan kan banyak…”
“Ya makanya harus selalu berlindung sama Allah, supaya dikuatkan…”
Aduh, adik kecill…smoga kamu jadi anak yang sholih ya! 🙂

Ada juga yang suka merajuk…
“Kakak…aku gak mau main sama dia…dia nakal….”
“Ssst….gak papa…kan ada Kakak disini, Sayang…”
“Tapi…tuh…liat…dia suka nakal…”

di antara peserta memang ada satu anak yang bandelnya ampun2an. kalo gak ngerebut mainan temennya, ada aja yang dia lakukan untuk mengganggu yang lain. gak cuma nakal, tapi dia main fisik dan kata-katanya pun kasar.
aku mikir2…apakah ada masalah dengan keluarganya? anak umur 7 tahun begini, masalah yang dihadapi biasanya berkaitan sama pola asuh orangtuanya. pas aku tilik2, ternyata dia anak tunggal. gak punya teman dan di rumah cuma main sama play station aja. mama-papanya sibuk. hmm..hmm..hmm… sepertinya dia mencari perhatian…
kalau aku amati baik-batik, sebenarnya dia anak baik. buktinya dia mau membagi bekal snacknya pada yang lain. mungkin cuma butuh perhatian khusus kali ya?! entahlah…

“Cobaan” lain adalah ketika harus memberi komando di tengah riuh-rendah suara bocah laki-laki berusia 6-10 tahun berjumlah 10-an orang itu. Harus teriak-teriak sampe serak…
Oh…begini ya rasanya jadi guru TK?!?!

4 hari pun selesai juga. Dan kami -akhirnya!- pulang.
Di taksi menuju rumah, kami masih saja berdiskusi.
“Eh, pada ngerasa gak sih 4 hari ini garing abis? Saya ngerasa gak dapet apa-apa nih…gak dapet ma’nawinya sama sekali…”
Semua berebutan menjawab.
“Sama, Ukh! Ana juga!!!”
“Iya, mana udah bolos liqo lagi…”
“Iya…sama!”
“Hiburan ana cuma anak-anak itu…Kalo gak ada mereka, ga tau deh. Pulang kali…”
waks! keluar semua…
“Jadi, pada mau ikut lagi gak nih, kalau diajak lagi?”
“Ana liat dulu yang kedua. Kalo yang kedua lebih baik, mungkin ikut. Tapi kalau sama aja, mendingan ana mundur…”
“Iya…daripada bunuh diri…kekekek…”

4 hari yang melelahkan. Fisik dan bathin.
Tapi tetap saja kami belajar, setidaknya untuk tidak mengulang kesalahan di masa depan…

“Gimana, Indra? Mau gabung ke lembaga ini gak? Di divisi pendidikan dan latihannya?”
Tanya seorang pengurusnya padaku.
What??? Join sama lembaga ini? *mikir-mikir*
Mmmhh… Gimana ya…?!?!?!

~Fiuhhh….~

Advertisements

One thought on “Setidaknya masih bisa belajar…

  1. I have been looking for sites like this for a long time. Thank you! < HREF="http://www.new-york-moving-company-0.info/paxilandhotflashes.html" REL="nofollow">»<> < HREF="http://www.opt-in-email-3.info/aiu_affiliate_program.html" REL="nofollow">»<> < HREF="http://www.foammattresstopper6.info/Skincare.html" REL="nofollow">»<>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s