Plagiat

Bismillah.

Aku baru merasakan betapa tidak menyenangkannya menjadi korban plagiat.
Plagiarism dalam kamus akademik adalah satu dosa besar. Pun halnya dalam pembuatan karya cipta dalam berbagai bentuknya.

Kebetulan beberapa tahun lalu aku pernah menulis artikel di eramuslim.com. Redakturnya waktu itu masih Bang Bayu Gawtama, aku ingat sekali. Dan baru-baru ini aku menerima kiriman email berisi artikel tersebut. Begitu aku konfirmasi, sang pengirim mengatakan ia mendapatkannya dari sebuah website dan nama penulisnya adalah orang lain!

Ini bukan masalah ikhlas-tidak ikhlas…
Ini bukan soal anonimnya nama kita akan memudahkan menyingkirkan rasa riya’ dalam melakukan suatu perbuatan.
Bukan.
Tapi ini masalah kejujuran.
Ini tentang bagaimana kita mau dengan sadar dan rela mengakui karya orang lain..
Ini juga soal bagaimana kita bisa mengalahkan rasa minder karena kita tak mampu membuat seperti yang orang lakukan. Ini soal bagaimana kita mau berbesar hati memajukan orang lain yang memang layak mendapatkan balasan dari apa yang ia usahakan, atau ber-tahu diri untuk tidak lancang menyerobot apa yang bukan haknya.
Bukan sekedar kadar integritas yang mungkin bisa dibuat-buat dihadapan manusia.
Tapi lebih jauh lagi, kadar keimanan yang tercermin dalam keseharian.
Ini tentang seberapa sadar kita tentang sekecil apapun zarrah yang akan mendapat balasan, dan tentang pertanggungjawaban kita di hadapan Zat Yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui segala perbuatan.

Semester lalu aku baru saja mengambil mata kuliah pilihan identifikasi dan pengembangan kreativitas. Orang kreatif, menurut berbagai teori, adalah penemu, pemodifikasi, dsb. Pemodifikasi masih disebut kreatif, memang. Tapi sejauh mana modifikasinya, akan menentukan kualitas kreativitas orang tersebut. Apa jadinya bila modifikasi dilakukan hanya sebesar 0,009 % dari bentuk aslinya, dan pun demikian, masih tetap tak malu untuk mengklaim bahwa itu semua adalah karya orisinilnya?

Maka yang tampak adalah keterpaksaan.
Yang terlihat kemudian adalah ketidakjujuran.
Dan kepengecutan untuk sekedar menunjukkan bahwa hasil yang dibuatnya asal berbeda dengan bentuk aslinya.
Yang penting tidak terlihat sama 100 % dengan aslinya.

Yeah…kepada para plagiator.
Maaf, ini bukan masalah ikhlas-tidak ikhlas.
Tapi ini masalah kejujuran, nilai basic yang menentukan sejauh mana kualitas kreativitas, kemanusiaan, dan hatta keimanan anda.
Sudahkah yang terakhir ini anda pikirkan?

~Temen2,ajarinSettingAntiKlikKananDonk!

Advertisements

13 thoughts on “Plagiat

  1. memangnya di eramuslim enggak ada arsipnya apa ya? kalau kagak ada, ya repot, kalau ada kan bisa dibuktiin. Makanya kalau saya sekarang artikel yang udeh pada di publish di media, sekalianin aja dipostingin di blog satu persatu, biar aja gratis semua boleh baca. toh udah dipublish ini. For free deh. Itung-itung amal, kasih pengetahuan buat orang banyak ya nggak. Lebih dari itu, orang kagak bisa klaim lagi. Soalnya saya juga pernah lihat beberapa artikel di koran tertentu, eh sebagian kutap-kutip aja tulisan saya, tanpa ngrujuk dari mana sumbernya. ya udah deh. “smile”. b!

  2. itu dimuat taun 2003 di eramuslim.entah kenapa ga bisa dibuka.tp kalo cari di google masih keluar,walau pas diklik ga muncul. kalo di milis sih masih ada. smtr yg diplagiat dimuat di kotasantri.com taun 2006. bukan masalah amal,ikhlas, atau apapun itu. tapi kejujuran, satu hal yang sy junjung tinggi selama ini… 😦

  3. judulnya “Menjadi Apapun Dirimu”. search di google (eramuslim) masih ada, tapi gak bisa dibuka. kalo buka di milis salamukhuwah@yahoogroups.com juga masih ada, taunnya 2003. sementara di kotasantri.com, yang nulis orang lain, dikirim taun 2006, dan sudah diubah sedikit beberapa kalimat terakhir 😦bbrp orang juga sudah memuatnya di blog masing2 tanpa mencantumkan nama penulis asli…halah2…where is the honesty…

  4. andai setiap orang meng-“klaim” setiap untaian kata adalah miliknya, layakkah kita?afwan ukh, anti benar tapi kemudian sisi lain dari semuanya adalah ujian kesabaran kita serta kesempatan u merenung tentang orientasi untuk menebarkan kebaikan (via tulisan ) tanpa unjuk eksistensi diri apalagi sekedar asa untuk riuh rendah tepuk kekaguman kepada diri yang sejatinya teramat banyak kelemahan yang ditutupi-Nya……afwan…^_^

  5. iya awan…makasih byk. tapi yg sy tekankan disini (ampe ga bosen2 sy bilang neh), adalah kejujuran, kejujuran dan kejujuran. masalah ikhlas gak ikhlas, itu bahasannya lain lagi.giitu. okeh?!

  6. iye deh……hayo kepada plagiator cepetan insyaf,waspadalah…waspadalah….waspadalah….nanti di yaumul hisab ada orang digerbang pintu neraka diatanya malaikat ” kenapa kamu masuk neraka?” orang itu menjawab dg jumawa ” aku korupsi Rp 1,3 T “, nggak malukah anda jika jawaban anda adalah ” karena saya mengklaim tulisan yg bukan hak saya” apa nggak malu coba ama penghuni neraka lainnya 🙂 just kidding …moga ALLOh mengampuni kita …..tetep semangat ukh !!!!!

  7. afwan ukh, out of our “discuss”, anti punya contoh pertanyaan kuisoner u mengukur (identifikasi)tingkat moralitas remaja ( gaya hidup, perilaku seks, dll ) nggak?, please yak….coz skrng ana ada amanah DS,kalo’ bisa sebelum awal agustus,kirim via japri : alghifary@eramuslim.comjazakillah ….^_^

  8. Assalamu’alaikum…maaf sebelumnya…mungkin sy orang baru, kali…tapi sy coba kaitkan masalah anti dengan satu kisah seorang tukang badut yg bertugas di kebun binatang,.semoga anti tau maksud dan maknanya…begini ceritanya:Ada kisah menarik tentang seseorang yang bekerja sebagai badut di KebunBinatang. Sebut saja namanya Ipang. Setiap pagi ia sudah tiba di Kabun Bintanguntuk bersiap-siap mengenakan kostum hewan yang biasa kita lihat di areatersebut. Ia tak pernah tahu akan memakai kostum apa hari itu, karena setiaphari akan selalu berganti peran. Bisa jadi hari ini ia akan mengaum sepertiharimau, meringkik ala kuda, mengembik layaknya kambing, atau meraung sekerasberuang.Sungguh semua itu dilakukannya untuk satu tujuan; membuat anak-anak tersenyumceria, dan bersahabat akrab dengan hewan. Jika ada anak yang menangis, tugasnyamendekati merujuknya agar tertawa. Bila si anak bertambah keras menangisnya,gagallah tugasnya. Di kerumunan anak-anak yang tertawa riang, tugasnya menjagaagar tawa itu tetap terdengar. Jika ada anak-anak yang terbirit ketakutanbersembunyi di tubuh orang tuanya, gagal pula ia menjalankan perannya. Karenasekali lagi, tugasnya adalah membuat anak-anak tersenyum ceria. Tak peduli iaberkostum apa.Tak ada yang pernah tahu siapa di balik kostum gajah itu, seperti apa rupa aslidi dalam boneka besar berbentuk beruang. Orang yang bertugas itu pun sadar,bahwa ia tak pernah diperkenankan menunjukkan wajah aslinya di depan kerumunanorang, di muka para pengunjung kebun binatang. Tak pernah sekali pun tiba-tibaia membuka kedoknya di depan anak-anak yang berkerumun.Bukan hanya itu, selain ia harus rela tak dikenali. Petugas badut binatang itupun rela jika harus diusik, dijahili, atau bahkan dicaci orang tua yang anaknyaketakutan akibat aksinya. Baginya, ini bagian dari tanggungjawab profesinyasebagai badut. Ia tak peduli harus berkeringat kepanasan di dalam boneka besaritu, tak dibenarkan membuka kedoknya hanya karena kehausan. Sudah ada waktukhusus baginya untuk beristirahat sejenak, menghirup udara segar dan menyeruputair segar. Kadang, ia pun harus rela melewatkan kesempatan istirahatnya jikaanak-anak menarik-narik mengajaknya terus bermain. Sekali lagi, ia akan selalumemegang tujuan utama dari perannya itu; menceriakan anak-anak.Tak satu pun pernah mengira, tuakah atau seorang pemuda yang di dalam kostumbinatang itu, wanita atau lelaki, tampankah ia, cantikkah ia, tak pernah adayang tahu. Bahkan mungkin, orang tua dan anak-anak di tempat wisata itu juga takpercaya jika ada yang berkata, “Tahu nggak, yang tadi jadi badut harimau itu kansaya…”. Bisa jadi mereka tak peduli.Para pengunjung kebun binatang, berikut anak-anak mereka tak pernah mengertikeletihan, kepanasan, kehausan atau lapar yang diderita petugas badut. Bagimereka, badut-badut itu harus tetap berdiri, bergoyang, bernyanyi, berlari-lari,untuk tetap membuat anak-anak tersenyum, tertawa dan ikut berlari. Berhenti iamenari dan melucu, anak-anak akan diam, atau ada yang menangis. Tak tega melihatanak-anak itu menangis, ia akan kembali bergoyang, tanpa lagi peduli sekujurtubuhnya sudah teramat letih. Ia tahu, tuntutan terhadapnya begitu banyak, dantak pernah ada yang tahu betapa ia pun butuh berhenti sejenak.Kostum apa pun yang ia pakai, ia akan berperangai, bersuara dan bertingkahsesuai kostumnya. Ia tak akan pernah mengembik saat berkostum kelinci, takpernah melompat-lompat saat tak sedang menjadi katak. Ia juga tak pernah memakaisekali dua kostum, kepala harimau sementara badannya seekor jerapah. Pasti akanmembingungkan anak-anak, hewan apa gerangan? Tapi yang pasti ia bisa menjadi apapun, dan akan bersuara sesuai dengan yang saat itu diperankannya. Hari ini iamenjadi seekor serigala yang melolong, mungkin esok ia menjadi kelinci. Meskitujuannya hanya satu; menceriakan anak-anak.berkostum apa pun, saya tetap mencintai anak-anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s