Jalan2 : Ke Priok

Bismillah.

Kali ini –masih dalam minggu yang sama- aku jalan-jalan lagi. Kali ini ke daerah Tanjung Priok, acara takziyah ke makam teman yang wafat beberapa waktu lalu. Demi menjalin silaturrahim dengan keluarga almarhumah, kami –aku, Ul, Supar dan Dana- janjian berangkat jumat pagi untuk takziyah ke makam bersama orangtua almarhumah teman kami tersebut.

Supar dah bikin pengumuman sejak H-14. Tapi yang bisa akhirnya cuma 4 orang.
H-1, dia dan Ul mengingatkanku lewat sms. “Kumpul jam 6 pagi di halte fisip ya.” Begitu bunyi smsnya.
Sebenarnya aku ada beberapa agenda pagi itu. Tapi berhubung aku belum pernah menjenguk keluarga temanku itu, dan berharap bisa dzikrul maut berziarah ke pemakaman, akhirnya semua rencana aku cancel. Baru jam 12 malam aku kirim sms untuk memastikan. “Sy Insya Allah bisa ikut! Tapi ketemu di depan ITC Cempaka Mas aja ya? Coz kejauhan kalo sy harus ke depok..”
Sms berbalas. “Insya allah kami bawa kendaraan. Berangkat dari depok jam 6 pg,
jadi tolong sesuaikan berangkat dari rumah ya.”

Pagi-pagi…
Aku terburu-buru berangkat. Mengingat si Supar adalah orang yang –seringkali, tdk selalu- cukup ontime dan sempat ribut sama aku gara-gara masalah waktu, aku gak pengen telat sama sekali. Akhirnya aku nebeng sama mas-ku setelah ngantongin perkedel jagung buatan mamah karena gak sempat sarapan.

Di bis 43, Supar nelpon.
Panik, aku dengan sigap memotongnya sebelum ia bicara.
“Iya! Saya dikit lagi sampe! 10 menit lagi!”
“Oooh…ya udah. Saya nelpon mbak ul dulu ya.”

Aku jadi mikir. Kok baru nelpon si Ul? Jangan-jangan mereka belom berangkat…
Parah betul! Gw udah buru-buru juga!

10 menit kemudian aku sampai di depan ITC Cempaka Mas.
Pulsa sekarat, euy. Baterai hp tinggal 2 biji pula.
Nunggu dimana nih? Gak ada halte or tempat yang bisa buat duduk…

Akhirnya aku numpang duduk di bangkunya mas-mas penambal ban di bawah jembatan layang. Sms kukirim ke Dana karena hp Supar –yang lebih murah biaya smsnya, mengingat pulsaku sekarat- ga nyambung.
“Sy udah sampe. Di depan ITC Cempaka Mas. Buruan ya. Buruan.”

15 menit…
Kok gak muncul2 ya…
Kukeluarkan perkedel jagung. Lumayan buat ganjel perut.
Sambil memandang sekeliling, aku jadi risih sendiri.
Cuma ada beberapa tukang ojek, dan 2 orang penambal ban. Cowok semua, man!
Pegimane, nih???
Bukan apa-apa sih. Gak enak aja.
Mana si abang2 penambal ban itu ngeliatin mulu lagi.
Perasaan tidak aman segera menjalar.
Duh, buruan kek pada nyampe!

Tiba-tiba hpku berbunyi. Dana!
“Supar, nih.”
“Eh, sy udah sampe!” teriakku supaya tidak kalah dengan gemuruh kendaraan bermotor.
“Dimana sih?”
“Di depan ITC!”
“Koq gak ada? Ya udah tungguin aja. Klik.”
“??????”

Hhh…
Mereka dah sampe mana ya? Kok lama banget. Udah setengah jam aku nunggu.
Daripada bengong, aku baca Tarbawi edisi terbaru yang sengaja kubawa.

1 jam berlalu.
Masya Allah…jam 8 lewat!
Tak sabar ku sms hp si Dana.
“Hoy teman-teman… kalian dah sampe mana?
Buruan, sy dah hampir lumutan neh nungguin…”

Tarbawi sudah bosan kubolak-balik. Tango tiramisu yang seyogyanya buat reward kuesioner sudah kumakan. Minuman sudah habis setengah botol.
“Mau kemana, Mbak?”
Aku gelagapan. “Eh… kemana… Gak tau…”
Si mas-mas penambal ban pasang tampang bingung.
“Eh…itu…saya mau ke tempat temen, tapi gak tau daerah mana. Saya lagi nunggu temen dari Depok.”
“Ooh…”

Hpku berbunyi lagi.
“Ndra, turun jalan tolnya lewat mana?” tanya Supar.
“Ha? Gak tau!”
“Ini kalo dari Cawang kemana?”
“Ha?”
“Turun tolnya dimana?”
“Apaan? Ini berisik disini…Gak kedengeran!”
“Tutt..tuttt…tut…”
Yah. Ditutup…

Parah betul. Udah sampe mana sih mereka? Kok lama amat.
Adalah pemandangan yang mencolok, bukan, melihat seorang perempuan berjilbab duduk di bawah jalan layang berpuluh-puluh menit lamanya?

Setengah sembilan.
Delapan empat lima.
Hp berbunyi lagi.
“Ndra, kamu dimana nunggunya?” Ul bicara kali ini.
“Di depan ITC! Di bawah jalan layang! Eh…eh…hpku lowbatt!!!”
“Tutt…tuttt..”

Aku berdiri dan melihat-lihat. Memperhatikan setiap kijang yang melintas (soalnya mobilnya Dana kijang).
Itu dia!
Bukan, ternyata… cuma orang yang mirip Dana… 😦
Itu!
Bukan lagi… 😦

Delapan lima puluh.
Sebuah mobil kecil sejenis karimun berhenti di depanku.
Wajah tersenyum milik Dana tersembul di bangku supir. Kok karimun? Bukan kijang?

Aku terlonjak. “Waaa….itu dia!”
“Mas, duluan ya!” pamitku pada mas-mas penambal ban.

Aku membuka pintu belakang mobil dan masuk segera.
“Assalaamu’alaykum!”
“Gimana, Ndra kabarnya? Udah lumutan? Hehehe….” Supar angkat bicara.
“Saya udah ijo-ijo nih, dari tadi. Kok lama banget sih…” aku manyun.
“Orang tadi kita tanyain ‘kok gak ada’…” lanjut Supar. “Ya gak ada-lah…Orang nanyanya masih di Cililitan…Kekekek…”
What????? Aku membelalak. Seisi mobil tertawa.
“Dasar gemblung! Gak sopan! Uhhhhhhhhh…….”
Pengen aku jambak tuh rambut gondrongnya dari belakang! Si Ul ngakak.

Aku tak henti mengomel ditengah tawa anak-anak.
“Pokoknya siang ini traktir saya makan. Enak aja…saya tuh udah kayak apaan nunggu dibawah jembatan. Mana buru-buru, belom sarapan…Pokoknya tanggung jawab. Supar harus traktir…”
Semua tertawa lagi.
“Yah…warteg 3 ribu apa susahnya sih…” Supar enteng menjawab.

Akhirnya kami jalan juga ke rumah almarhumah. Seperti biasa, perjalanan bersama Dana dan Supar tak pernah sepi dari tertawa. Ul dan aku berpandangan berkali-kali saking bosennya mendengar Supar menarsiskan diri. Suasana yang sempat kurasakan saat survey ke suatu tempat dulu bersama mereka saat mempersiapkan suatu acara. Tolong ya, Supar. Dikau tak berubah rupanya -_-‘

Sampai rumah almarhumah, sang Bapak keluar. “Ibunya udah berangkat dari tadi tuh…sekarang lagi ngaji…”
“Tuh kan…antum sih Par…pake telat…” aku menyalahkan.
“Yaa…gak papa kan Pak, ke kuburan hari gini?”
“Ya gak papa…Cuma panas aja.”

Tak lama kami berangkat ke makam bersama Bapak almarhumah.
Sampai di depan kuburannya, sang Bapak memimpin baca doa.
Ya Allah…lapangkan kuburnya, ampuni dosa-dosanya, terima amal-amalnya, dan tabahkan orang yang ditinggalkan…

Selesai berziarah dan berbincang sebentar, kami pulang.
Berhubung sulit mencari masjid untuk pria2 sholat jumat, kami memutuskan untuk berbelok ke arah rumahku yang jaraknya lebih dekat dengan masjid.
“Asyik neh….makan siang gratis kayanya…” ujar Dana.
“Wah…ada masakan apa ya di rumah?” aku kebingungan. “Masak mie aja ya?”
“Apa aja Mbak, yang penting makan,” kata Dana lagi.
“Eh, apa beli gado-gado aja ya? Iya deh, gado-gado aja,” aku meminta persetujuan si Ul
Ul cuma jawab, “Terserah,”
Tapi Dana bersuara lagi.
“Lho kok jadi Mba Indra yang sibuk nih? Hahaha…”
Aku bingung. Tapi Supar nyeletuk cepat, “Biarin aja… Diemin…”
Sampai aku baru ngeh kemudian.
“Iya ya. Tadi kan harusnya Supar yang nraktir saya makan….kok jadi saya yang repot sekarang….” Aku cemberut di tengah suara terbahak yang lain. Tapi aku gak mau kalah.
“Biarin, gapapa. Pokoknya suatu saat Supar harus nraktir. Titik.”

Sampai di rumahku, para ikhwan bergegas sholat jumat di masjid. Aku dan Ul menyiapkan makanan : beli nasi plus gado-gado dan kerupuk, goreng tempe tepung, sekaligus menghidangkannya di meja.
Usai sholat, kamipun makan dengan lahap.
Hari ini lumayan melelahkan…dan lagi-lagi, badanku langsung tepar (lagi!) begitu teman-temanku pulang…
Ya Kariiim…. Migrainku kumat! >_<

-end-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s