Plagiat

Bismillah.

Aku baru merasakan betapa tidak menyenangkannya menjadi korban plagiat.
Plagiarism dalam kamus akademik adalah satu dosa besar. Pun halnya dalam pembuatan karya cipta dalam berbagai bentuknya.

Kebetulan beberapa tahun lalu aku pernah menulis artikel di eramuslim.com. Redakturnya waktu itu masih Bang Bayu Gawtama, aku ingat sekali. Dan baru-baru ini aku menerima kiriman email berisi artikel tersebut. Begitu aku konfirmasi, sang pengirim mengatakan ia mendapatkannya dari sebuah website dan nama penulisnya adalah orang lain!

Ini bukan masalah ikhlas-tidak ikhlas…
Ini bukan soal anonimnya nama kita akan memudahkan menyingkirkan rasa riya’ dalam melakukan suatu perbuatan.
Bukan.
Tapi ini masalah kejujuran.
Ini tentang bagaimana kita mau dengan sadar dan rela mengakui karya orang lain..
Ini juga soal bagaimana kita bisa mengalahkan rasa minder karena kita tak mampu membuat seperti yang orang lakukan. Ini soal bagaimana kita mau berbesar hati memajukan orang lain yang memang layak mendapatkan balasan dari apa yang ia usahakan, atau ber-tahu diri untuk tidak lancang menyerobot apa yang bukan haknya.
Bukan sekedar kadar integritas yang mungkin bisa dibuat-buat dihadapan manusia.
Tapi lebih jauh lagi, kadar keimanan yang tercermin dalam keseharian.
Ini tentang seberapa sadar kita tentang sekecil apapun zarrah yang akan mendapat balasan, dan tentang pertanggungjawaban kita di hadapan Zat Yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui segala perbuatan.

Semester lalu aku baru saja mengambil mata kuliah pilihan identifikasi dan pengembangan kreativitas. Orang kreatif, menurut berbagai teori, adalah penemu, pemodifikasi, dsb. Pemodifikasi masih disebut kreatif, memang. Tapi sejauh mana modifikasinya, akan menentukan kualitas kreativitas orang tersebut. Apa jadinya bila modifikasi dilakukan hanya sebesar 0,009 % dari bentuk aslinya, dan pun demikian, masih tetap tak malu untuk mengklaim bahwa itu semua adalah karya orisinilnya?

Maka yang tampak adalah keterpaksaan.
Yang terlihat kemudian adalah ketidakjujuran.
Dan kepengecutan untuk sekedar menunjukkan bahwa hasil yang dibuatnya asal berbeda dengan bentuk aslinya.
Yang penting tidak terlihat sama 100 % dengan aslinya.

Yeah…kepada para plagiator.
Maaf, ini bukan masalah ikhlas-tidak ikhlas.
Tapi ini masalah kejujuran, nilai basic yang menentukan sejauh mana kualitas kreativitas, kemanusiaan, dan hatta keimanan anda.
Sudahkah yang terakhir ini anda pikirkan?

~Temen2,ajarinSettingAntiKlikKananDonk!

Advertisements

Enjoying The Weekend

Bismillah.

Weekend selalu menjadi waktu yang asyik untuk “kembali ke rumah”. Setelah hari senin-jumat kuhabiskan di kampus dan luar rumah, akhir pekan adalah waktu yang menyenangkan untuk mengaktualisasikan diri dengan urusan kerumahtanggaan. Bagaimanapun, menjadi seorang perempuan adalah amanah yang harus dioptimalkan segala potensinya. Siapa juga yang gak mau jadi superwoman yang jago masak, pandai berbenah, also mampu menjaga diri? Jagoan di luar bukan berarti keok di dalam, kan? Sebab yang kaya gitu sama dengan kopong. Luarnya kebungkus, dalemnya kosong melompong.
So, buat perempuan yang belum bisa masak, ayo belajar dari sekarang! Ntar suaminya gak betah di rumah lho.
(Halah…kok jadi nyambung kesitu…)

Pekan ini aku benar-benar menikmati waktu di rumah. Dan tiba-tiba pengen aja bikin martabak telor. Abis waktu kemarin silaturrahim ke rumah tanteku, aku disuguhin martabak telor. Trus kutanya aja resepnya. Besoknya langsung pengen buat sendiri…

Pagi itu, terpaksa mandi mendadak karena si adek minta antar ke sekolah. Berhubung dia gak diijinin momski bawa motor, akhirnya aku harus nganterin. Sekalian deh ngambil kuesioner di rumah teh niken di Duren Sawit. Sedikit senewen juga gara-gara nyaris ketabrak motor pas lagi belok. Jaraknya cuma beberapa mili kali… Fiuuh….kalo telat beberapa detik aja…gak tau deh…
Thanks Allah…

Abis dari rumah teh Niken, aku mandi lagi. Abisnya tadi kan mandinya buru2 dan tidak bersih. Lagipula abis pergi jadi gerah lagi. After beres-beres kamar dan ganti baju, aku siap-siap memasak.

Poor I am… ternyata bahan2nya gak ada yang jual di warung2 sekitar rumah 😦
Terpaksalah pergi ke pasar naik motor lagi. Panas, man… tapi gapapa…menyenangkan kok. Cuma sedikit riweuh dengan padatnya kendaraan.
Di pasar, aku nyari kulit lumpia, daun bawang-seledri, tahu putih dan telor ayam. Waaa….aku jadi ibu sehari! Hehehe…
Kapan lagi gua turun ke pasar kalo gak dari sekarang… *_*

Tapi by the way, jadi ibu itu pasti ribet ya. Apalagi kalo anaknya banyak. Belum nyuci baju, belum nyuapin anak, belum masak, belanja ke pasar, beres-beres rumah…
Ya ampun…ini belum seberapa, ternyata!

Sampe rumah, aku bergegas membereskan barang2 belanjaan dan langsung memasak.
Berhubung sebenarnya aku ga tau resep martabak itu apa,akhirnya aku common sense aja deh alias coba2…

Ini dia resep Martabak Tahu Telor versi aku…

Bahan untuk isi martabak:
Tahu putih 2 buah (yang besar)
Daun bawang seledri, dipotong2
Telur ayam 2 butir
Bawang putih, garam, masako/royco, lada, dihaluskan

Cara membuat :
Telur dikocok sama bumbu yang sudah dihaluskan, terus campurkan daun bawang seledri, dan masukkan tahu yang udah dibejek-bejek (bahasa indonesianya apa ya? Ya pokoknya tahunya udah diancurin gitu deh).
Setelah semua bahan kecampur, letakkan di atas kulit lumpia. Terus bungkus kulit lumpia sampai berbentuk kotak. Setelah itu, supaya kulit lumpianya merekat, boleh “di-lem” pake telor ayam yang dah dikocok.
Kalo udah beres semua, tinggal digoreng dalam minyak yang panas.
Selesai deh. Kalau suka, bisa dimakan pake cabe atau saus pedas.

Martabak ini lebih enak lagi kalau dimakan sebagai cemilan sore-sore, ditemenin secangkir teh manis hangat.
Hmmmm….nyammmy banget!
oya, ini fotonya. berhubung moto dari hp, kalau burem2 dan gak jelas harap dimaklumi aja yah:)


Oiya, berhubung daging harganya lumayan mahal, jadi aku ganti pake tahu aja. Tapi kalau mau ngikutin martabak telor beneran yang pake daging juga gapapa. Pasti rasanya akan lebih enak 🙂

Abis masak martabak, aku cabut ke Ciputat, wawancara buat join ke suatu lembaga training. Amit2 ya…Ciputat tuh jauh banget dari Cipinang! Aku musti naik 53 dari otista, muter2 ke pasar rebo, dah gitu dari pasar rebo naik 510 ke Ciputat, turun di pasar Ciputat, lalu naik mobil lagi…
Serasa di negeri antah berantah gitu…abis gak kenal daerahnya sama sekali!

Pulang2…mandi, dan goreng martabak lagi sambil minum teh anget.
Eh tumben-tumbenan si mamah nawarin aku luluran sama pijit!!!
Hehe…

Alhamdulillah…
Thanks Allah…
What a wonderful weekend dah pokoknya …^_^

Jalan2 : Ke Priok

Bismillah.

Kali ini –masih dalam minggu yang sama- aku jalan-jalan lagi. Kali ini ke daerah Tanjung Priok, acara takziyah ke makam teman yang wafat beberapa waktu lalu. Demi menjalin silaturrahim dengan keluarga almarhumah, kami –aku, Ul, Supar dan Dana- janjian berangkat jumat pagi untuk takziyah ke makam bersama orangtua almarhumah teman kami tersebut.

Supar dah bikin pengumuman sejak H-14. Tapi yang bisa akhirnya cuma 4 orang.
H-1, dia dan Ul mengingatkanku lewat sms. “Kumpul jam 6 pagi di halte fisip ya.” Begitu bunyi smsnya.
Sebenarnya aku ada beberapa agenda pagi itu. Tapi berhubung aku belum pernah menjenguk keluarga temanku itu, dan berharap bisa dzikrul maut berziarah ke pemakaman, akhirnya semua rencana aku cancel. Baru jam 12 malam aku kirim sms untuk memastikan. “Sy Insya Allah bisa ikut! Tapi ketemu di depan ITC Cempaka Mas aja ya? Coz kejauhan kalo sy harus ke depok..”
Sms berbalas. “Insya allah kami bawa kendaraan. Berangkat dari depok jam 6 pg,
jadi tolong sesuaikan berangkat dari rumah ya.”

Pagi-pagi…
Aku terburu-buru berangkat. Mengingat si Supar adalah orang yang –seringkali, tdk selalu- cukup ontime dan sempat ribut sama aku gara-gara masalah waktu, aku gak pengen telat sama sekali. Akhirnya aku nebeng sama mas-ku setelah ngantongin perkedel jagung buatan mamah karena gak sempat sarapan.

Di bis 43, Supar nelpon.
Panik, aku dengan sigap memotongnya sebelum ia bicara.
“Iya! Saya dikit lagi sampe! 10 menit lagi!”
“Oooh…ya udah. Saya nelpon mbak ul dulu ya.”

Aku jadi mikir. Kok baru nelpon si Ul? Jangan-jangan mereka belom berangkat…
Parah betul! Gw udah buru-buru juga!

10 menit kemudian aku sampai di depan ITC Cempaka Mas.
Pulsa sekarat, euy. Baterai hp tinggal 2 biji pula.
Nunggu dimana nih? Gak ada halte or tempat yang bisa buat duduk…

Akhirnya aku numpang duduk di bangkunya mas-mas penambal ban di bawah jembatan layang. Sms kukirim ke Dana karena hp Supar –yang lebih murah biaya smsnya, mengingat pulsaku sekarat- ga nyambung.
“Sy udah sampe. Di depan ITC Cempaka Mas. Buruan ya. Buruan.”

15 menit…
Kok gak muncul2 ya…
Kukeluarkan perkedel jagung. Lumayan buat ganjel perut.
Sambil memandang sekeliling, aku jadi risih sendiri.
Cuma ada beberapa tukang ojek, dan 2 orang penambal ban. Cowok semua, man!
Pegimane, nih???
Bukan apa-apa sih. Gak enak aja.
Mana si abang2 penambal ban itu ngeliatin mulu lagi.
Perasaan tidak aman segera menjalar.
Duh, buruan kek pada nyampe!

Tiba-tiba hpku berbunyi. Dana!
“Supar, nih.”
“Eh, sy udah sampe!” teriakku supaya tidak kalah dengan gemuruh kendaraan bermotor.
“Dimana sih?”
“Di depan ITC!”
“Koq gak ada? Ya udah tungguin aja. Klik.”
“??????”

Hhh…
Mereka dah sampe mana ya? Kok lama banget. Udah setengah jam aku nunggu.
Daripada bengong, aku baca Tarbawi edisi terbaru yang sengaja kubawa.

1 jam berlalu.
Masya Allah…jam 8 lewat!
Tak sabar ku sms hp si Dana.
“Hoy teman-teman… kalian dah sampe mana?
Buruan, sy dah hampir lumutan neh nungguin…”

Tarbawi sudah bosan kubolak-balik. Tango tiramisu yang seyogyanya buat reward kuesioner sudah kumakan. Minuman sudah habis setengah botol.
“Mau kemana, Mbak?”
Aku gelagapan. “Eh… kemana… Gak tau…”
Si mas-mas penambal ban pasang tampang bingung.
“Eh…itu…saya mau ke tempat temen, tapi gak tau daerah mana. Saya lagi nunggu temen dari Depok.”
“Ooh…”

Hpku berbunyi lagi.
“Ndra, turun jalan tolnya lewat mana?” tanya Supar.
“Ha? Gak tau!”
“Ini kalo dari Cawang kemana?”
“Ha?”
“Turun tolnya dimana?”
“Apaan? Ini berisik disini…Gak kedengeran!”
“Tutt..tuttt…tut…”
Yah. Ditutup…

Parah betul. Udah sampe mana sih mereka? Kok lama amat.
Adalah pemandangan yang mencolok, bukan, melihat seorang perempuan berjilbab duduk di bawah jalan layang berpuluh-puluh menit lamanya?

Setengah sembilan.
Delapan empat lima.
Hp berbunyi lagi.
“Ndra, kamu dimana nunggunya?” Ul bicara kali ini.
“Di depan ITC! Di bawah jalan layang! Eh…eh…hpku lowbatt!!!”
“Tutt…tuttt..”

Aku berdiri dan melihat-lihat. Memperhatikan setiap kijang yang melintas (soalnya mobilnya Dana kijang).
Itu dia!
Bukan, ternyata… cuma orang yang mirip Dana… 😦
Itu!
Bukan lagi… 😦

Delapan lima puluh.
Sebuah mobil kecil sejenis karimun berhenti di depanku.
Wajah tersenyum milik Dana tersembul di bangku supir. Kok karimun? Bukan kijang?

Aku terlonjak. “Waaa….itu dia!”
“Mas, duluan ya!” pamitku pada mas-mas penambal ban.

Aku membuka pintu belakang mobil dan masuk segera.
“Assalaamu’alaykum!”
“Gimana, Ndra kabarnya? Udah lumutan? Hehehe….” Supar angkat bicara.
“Saya udah ijo-ijo nih, dari tadi. Kok lama banget sih…” aku manyun.
“Orang tadi kita tanyain ‘kok gak ada’…” lanjut Supar. “Ya gak ada-lah…Orang nanyanya masih di Cililitan…Kekekek…”
What????? Aku membelalak. Seisi mobil tertawa.
“Dasar gemblung! Gak sopan! Uhhhhhhhhh…….”
Pengen aku jambak tuh rambut gondrongnya dari belakang! Si Ul ngakak.

Aku tak henti mengomel ditengah tawa anak-anak.
“Pokoknya siang ini traktir saya makan. Enak aja…saya tuh udah kayak apaan nunggu dibawah jembatan. Mana buru-buru, belom sarapan…Pokoknya tanggung jawab. Supar harus traktir…”
Semua tertawa lagi.
“Yah…warteg 3 ribu apa susahnya sih…” Supar enteng menjawab.

Akhirnya kami jalan juga ke rumah almarhumah. Seperti biasa, perjalanan bersama Dana dan Supar tak pernah sepi dari tertawa. Ul dan aku berpandangan berkali-kali saking bosennya mendengar Supar menarsiskan diri. Suasana yang sempat kurasakan saat survey ke suatu tempat dulu bersama mereka saat mempersiapkan suatu acara. Tolong ya, Supar. Dikau tak berubah rupanya -_-‘

Sampai rumah almarhumah, sang Bapak keluar. “Ibunya udah berangkat dari tadi tuh…sekarang lagi ngaji…”
“Tuh kan…antum sih Par…pake telat…” aku menyalahkan.
“Yaa…gak papa kan Pak, ke kuburan hari gini?”
“Ya gak papa…Cuma panas aja.”

Tak lama kami berangkat ke makam bersama Bapak almarhumah.
Sampai di depan kuburannya, sang Bapak memimpin baca doa.
Ya Allah…lapangkan kuburnya, ampuni dosa-dosanya, terima amal-amalnya, dan tabahkan orang yang ditinggalkan…

Selesai berziarah dan berbincang sebentar, kami pulang.
Berhubung sulit mencari masjid untuk pria2 sholat jumat, kami memutuskan untuk berbelok ke arah rumahku yang jaraknya lebih dekat dengan masjid.
“Asyik neh….makan siang gratis kayanya…” ujar Dana.
“Wah…ada masakan apa ya di rumah?” aku kebingungan. “Masak mie aja ya?”
“Apa aja Mbak, yang penting makan,” kata Dana lagi.
“Eh, apa beli gado-gado aja ya? Iya deh, gado-gado aja,” aku meminta persetujuan si Ul
Ul cuma jawab, “Terserah,”
Tapi Dana bersuara lagi.
“Lho kok jadi Mba Indra yang sibuk nih? Hahaha…”
Aku bingung. Tapi Supar nyeletuk cepat, “Biarin aja… Diemin…”
Sampai aku baru ngeh kemudian.
“Iya ya. Tadi kan harusnya Supar yang nraktir saya makan….kok jadi saya yang repot sekarang….” Aku cemberut di tengah suara terbahak yang lain. Tapi aku gak mau kalah.
“Biarin, gapapa. Pokoknya suatu saat Supar harus nraktir. Titik.”

Sampai di rumahku, para ikhwan bergegas sholat jumat di masjid. Aku dan Ul menyiapkan makanan : beli nasi plus gado-gado dan kerupuk, goreng tempe tepung, sekaligus menghidangkannya di meja.
Usai sholat, kamipun makan dengan lahap.
Hari ini lumayan melelahkan…dan lagi-lagi, badanku langsung tepar (lagi!) begitu teman-temanku pulang…
Ya Kariiim…. Migrainku kumat! >_<

-end-

Yang Terjadi…


Yang terjadi ketika melantun takbir
Ummat berucap sebatas lisan
Tiada difaham begitu dalam
Makna hakikat yang tertuang

Kawan…
Takbir adalah lantunan tauhid
Keesaan milik Allah
Dalam langkah pujian dan tujuan

Kawan…
Takbir adalah penyatu hati
Tiada batas teritori
Kan pisahkan derita pun gembiraan

Dimanapun engkau, di timurkah atau di barat
Pelosok selatan ataukah di utara


Kawan…
Mengapa masih tertindas Islam-mu
Sementara takbir yang terlantunkan
Menjanjikan pertolongan-Nya

Kawan…
Mengapa terpilah negeri-mu
Sementara takbir ucapkan kesatuan
Langkah, gerak dan kemuliaan

Siapapun engkau, kulit putih atau memerah
Hitam atau kuning, pun coklat sawo matang

Kawan…
Lupakan selamanya jarak
Atau batas negara dan gerak
Bagai takbir yang terus mengangkasa

Kawan…
Renungkanlah kemenangan
Takkan tercapai kecuali
Dengan kesungguhan dan pengorbanan

Siapapun engkau
Inilah hakikat takbirmu
Terlantunkan jangan hanya di bibir terlupakan

Yang terjadi ketika melantun takbir
Ummat berucap sebatas lisan
Tiada difaham begitu dalam
Makna hakikat yang tertuang…

***
Nasyid “Hakiki” by Izzatul Islam

Jalan-jalan : ke Gambir

Bismillah.

Hari ini aku keluar juga dari kungkungan kampus. Eneg juga rasanya berkutat sama kompie dan online berjam-jam. Walau dah jadi kebiasaan yang menyenangkan, tetep aja kalo kelamaan jadi pusing. Skripsi juga…duh! Ampun dah…males banget ngerjainnya. Padahal bab 1-3 masih harus disempurnakan. Lagipula sekarang lagi nyebar kuesioner untuk ngambil data. Setelah maksa nodong-nodongin anak BEM dan MPM untuk ngisi dan minta tolong sama ikhwan teknik (‘secara’ fakultas teknik banyak cowoknya –responden skripsiku emang cowok only), sekarang giliran aku merambah ke dunia perkantoran. Jadilah aku ke kantornya teh Niken –senior sma-ku- di bilangan Gambir, supaya dapet responden yang umurnya lebih beragam.

Berangkat dari kampus jam 1-an. Rencananya biar nanti pas pulang bisa barengan ama si teteh. Waks…pas keluar kampus kok panas pisan ya… Mana belum makan pula.
Mau makan di warteg, takut kelamaan. Udah siang nih.
Akhinya aku beli aja burger yang bisa dibawa jalan.
Eh, ketemu si Panpan lagi beli juice.
“Weh…Pan…mau nraktir ya abis sidang…asyik-asyik….ditraktir!” *ngareps*
“Waduh…saya lagi gak punya duit. Entar aja kapan-kapan dah saya traktir…”
Anak itu…semenjak tidak lagi memanggul gunungan amanah, jadi lebih sumringah. Beda banget sama dulu. Apalagi sejak udah sidang. Senyumya diobral kemana-mana.
Hmmm… baguslah. Daripada bete ngeliat wajah suntuknya kaya dulu.

Naik kereta, dan turun di Juanda. Berhubung kantornya si teteh tepat berada di depan stasiun Gambir dan tidak ada kendaraan dari Juanda ke arah sana, so aku harus jalan kaki. Eh…bentar…. Jalan kaki apa naek ojek ya? Apa bajaj? Tapi mahal….
Lagipula aku harus meminimalisir naik ojek. Ikhtilat, kata ustadz.
Udahlah, Ndra….militan dikit napa sih… Jalan kaki sana! -_-‘

Jalan kakilah daku. Ditemenin sama mp3 lagu edelweiss-nya AFI junior, cinta untuk mama-nya Kenny, and murottal al-waqi’ah.
Sempet salah arah pula. Harusnya pas turun dari stasiun Juanda balik arah, bukannya malah terus. Baru di tengah jalan nanya sama orang. “Pak, kalo mau ke stasiun Gambir lewat sini bukan?”.”Oh, lewat sana neng. Lurus aja kesana…”
Berasa kayak orang o-on. Gua kan udah pernah lewat sini. Kenapa jadi lupa?!

Panas.
Jalan kaki lumayan juga nih…*keluh*
Ayo, Jiwa! Ini jihad kita!

Dulu waktu ke kantor teh Niken pertama kali sih lewat dalem istiqlal. Tapi kok pintunya gak buka ya?
Nanya lagi ah, biar yakin.
“Ke stasiun gambir lewat mana ya, Bang?”
“Lewat sini bisa, Mbak,” si abang ojek menunjuk jalan disamping istiqlal. “Tapi jauh…” tambahnya.
Aku tau dikau mau nawarin naek ojek kan? No, thanks.
“Makasih ya.”
Aku ngeloyor pergi.

Jalanan sepi. Cuma sesekali kendaraan lewat. Hmm…kalo ada copet atau orang iseng disekitar sini…gawat juga, pikirku. Abis kalo tereak belum tentu didenger.
Lha kagak banyak orang juga…

Di kanan atasku ada jalan layang membujur. Di bawahnya ada kali yang menebar bau tak sedap, dan also beberapa gelandangan. Ada yang tidur nyenyak dihembus angin sepoi-sepoi, ada yang asyik makan mie ayam sama anaknya, ada juga yang cuma ngeriung ngobrol-ngobrol. Hmm…karuniakan aku ilham untuk selalu mensyukuri nikmat-Mu ya Allah…

Kukeluarkan hp dan memotret sekeliling.
Duh, kejauhan nih ngambil gambarnya. Mana keliatan…
Mau mendekat takut kenapa-napa.
Eh, ibu-ibu itu kok ngeliatin aku kayak gitu sih…Tatapannya curiga.
Jadi serem.
Peace, Mom… Student, here!
Aku jalan lurus dan gak nengok-nengok ke kiri-kanan lagi.

Pegel juga. Akhirnya sampe juga di jalan raya.
Di kananku berseliweran segala jenis kendaraan. Sebelah kiri ada markas kostrad.
Ih, ada tank-tank-an. Lucu juga kalo dipoto.
Cklik! (berhubung gambar dari hp ga jelas, aku ga bisa tampilin disini).
Eh… si bapak penjaga yang pake baju tentara ngapain cengar-cengir?
Minta dipoto juga, Om? Maap ya, saya buru-buru nih!

Aku jalan lagi.
Teteh…kantormu kok ga keliatan2 ya…*keluh lagi*
Hampir aja salah masuk. Seingatku ada replika tunas kelapa didepannya.
Yeah…ini dia.
Gedung belakang lantai 11.
Ku-sms teh niken…
“aku dataanggg! Aku udah sampe niy, lg jalan di bawah.”

After nuker KTP sama kartu pengenal tamu, aku bergegas ke lantai 11.
Keluar dari lift…melongo sejenak.
Ruangannya di sebelah mana yak?

“sebentar ya, Mbak.” Ujar resepsionis yang kutanya.
Aku duduk menunggu.
Tak lama teh niken muncul dan tersenyum, “ini dia temen saya!”
Waaa….teteh!
Kami bersalaman dan berpelukan. Lama bener kita ga ketemu langsung…walau tiap hari sering ngobrol via ym. Ada setaun kali ya, aku baru menginjakkan kaki di kantor ini lagi…

Teh niken ngambilin minum putih dingin. Hmmm….seger.
“dari kampus?”
“ho-oh”
Langsung aja aku keluarin kuesioner yang mau diisi sama temen-temen teteh yang pria. Plus reward kalender abadinya.
Sempet kenalan juga sama Sandra, temen satu ruangannya teh niken yang ternyata
kenal sama temenku satu kampus.
“dari mana?” tanyanya.
“dari UI. Ini…mau nyebar kuesioner buat skripsi”
“ooh…2002 donk ya?”
“enggak. 2001” nyengir kuda.
“oh…sama donk! Saya juga 2001. Saya pikir 2002…abis kan biasanya 2002 yang lagi skripsi…”
Glek.
“hehe…iya…saya telat lulusnya” aku maksain nyengir lagi.
Padahal sumpah malu abis!

Sementara teh niken ngajakin temen-temennya buat ngisi kuesionerku, aku baca-baca disitu. Selanjutnya malah ngobrol sama bapak-bapak yang nanya-nanya soal anak pertama dan keduanya yang beda karakter.
“Anak saya yang pertama rajin banget…senang gituh berkompetisi…beda sama yang kedua..”
”Yah…selama dia ga stress dan senang menjalaninya, ya gapapa, Pak…”
Si bapak ngangguk-angguk.
“Tapi yang kedua beda…dia agak malas gitu,”
“Malesnya dalam hal apa dulu, Pak?”
“Ya belajar…tapi kalau disuruh yang lain…blablabla…dia rajin”
“Berarti emang kesukaannya beda…ada kelebihan yang kakaknya gak punya juga…”
Bapak itu manggut-manggut lagi.
“Mungkin yang penting jangan suka membanding-bandingkan aja, pak. Soalnya anak suka sakit hati kalau dibanding-bandingin…”

Beuh…berasa kaya udah jadi psikolog aja gw…sotoy bener…padahal itu ngejawabnya juga berbekal sedikit pemahaman tentang pola asuh di mata kuliah psikologi perkembangan semester2 awal.

Adzan Asar menggema dari komputer.
Teh niken pamit solat sebentar. Abis itu kita bersiap pulang.
Kuesioner ditinggalin aja, sebab orang-orang yang mau ngisi dah pada pulang. Biar besok aku janjian lagi sama teteh untuk ngambil.

Aku jadi ingat…
Dulu, perkenalan sama teh niken berlangsung begitu instant. Meski kami satu almamater sma, kami gak saling kenal (teh niken kul di ITB, aku di UI. Ditambah lagi kami beda angkatan cukup jauh. Beliau 97, aku 2001). Kami cuma tau nama di milis alumni rohis sma, trus pas online aku sapa. Dan jadilah kami begitu akrab, kaya udah kenal bertaun-taun aja.

Nah, suatu hari, si teteh ngajak aku ke Islamic bookfair. Aku bingung karena gak tau tanggal pastinya. Tapi si teteh kekeuh tanggal segitu karena beliau dah baca iklannya di majalah. Akhirnya kami berencana berangkat dari kantornya supaya lebih dekat.

Berangkatlah aku ke kantornya si teteh. Waktu itu aku bener-bener buta jalan. Berbekal petunjuk si teteh dan nanya2, akhirnya sampe juga. Kondisinya lebih parah karena panas luar biasa dan aku harus jalan dari juanda ke gambir (kalo baru pertama kali kan kesannya jauh banget…). Sampe depan gambir, aku celingak-celinguk lagi sambil nunggu di halte. Mana si teteh? Soalnya aku ga berani ujug-ujug masuk ke gedung tunas kelapa itu.
Akhirnya teh niken ngejemput aku di depan kantornya sambil cengar-cengir ngeliat aku kecapean.
“Capek ya?”
Udah tau nanya lagi.
“Ho-oh…panas…hosh..hosh…”

Setelah nunggu jam kantor abis, kamipun berangkat ke JHCC, tempat pameran buku islam digelar. Sampe sana…

“Kok gak ada rame-rame ya, Teh?”
“Iya yah. Sepi…”
“Spanduknya juga gak ada…”
“Kita tanya aja yuk!”
Lantas teh niken nanya sama bapak-bapak yang melintas dekat situ.
“Pak, Islamic book fair dimana ya?”
Si Bapak bingung.
“Pameran buku, Pak,” sambarku. “Kalo itu pameran apa, Pak?”
“Itu pameran furniture.”
O-oww…
Teteeeehhhhh………..! >_<

“Aduh, maaf ya inda…berarti saya salah baca iklannya…:(“
“Makanya aku juga bingung…orang perasaan bookfairnya baru bulan depan kok…”
“Gak jadi beli buku deh…”
“he-eh..”

Kamipun pulang dengan tangan hampa. Yeah…muter-muter Jakarta-Monas-Cawang. Tapi abis itu teteh tetep nraktir buku yang dijanjiin: Mencari Pahlawan Indonesia-nya Anis Matta. Buku inipun baru diambil beberapa bulan kemudian, sampe “dah dimakan kutu”, begitu bahasanya si teteh. Abis aku baru sempat ngambilnya setelah berbulan2 itu sih…

Haha..
Kalo inget itu aku jadi suka ketawa sendiri. Teh niken…teh niken…keliling jakarte juge kite yee…n_n

Di mikrolet 01 menuju kampung Melayu, aku menghela nafas. Capek pisan euy. Tapi gpp…seneng bisa ketemu teh niken (lagi)…dan pastinya jalan-jalan keluar dari kampus, menemukan suasana yang berbeda.
Kakiku sakit berat, otot-ototnya tegang semua.
Kalo bukan buat nyebarin kuesioner skripsi…rasanya males pisan jalan jauh begini.
Tapi kukuatkan hati.
Skripsi tuh jihad ilmiy kita, Jiwa.
Makanya kamu jangan lelah, ya.

Alhamdulillah. Sampe juga di rumah dengan selamat.
Dan tentu saja…
Tepar beratttss… x_x

Memories that Will Never Be Forgotten

Bismillah.

Ada perasaan berbeda yang menelisik hati ketika kami –aku dan beberapa teman-teman BEM UI 0506- duduk berkumpul di balkon sekret BEM di pusgiwa lantai 2, Kamis 8 Juni lalu. Karena ruang dalam sudah penuh dengan BPH BEM baru (periode 2006-2007) yang tengah rapat, maka kami jadi seolah “tersingkir” di teras atas tersebut.
Demam PPS (post power syndrome –red) -kah ?!?!?
Ya, mungkin tidak salah sepenuhnya juga. Kami memang sudah tak lagi menjabat, karena sudah ada pengganti. Tapi toh kami masih dan akan selalu merasa memiliki BEM UI. Bahwa kami pernah menempati ruang sekretariat lembaga eksekutif kemahasiswaan tertinggi di UI ini, adalah sebuah kenyataan yang tak bisa dipungkiri. Bahwa kami pernah berbagi senyum, sedih, kesal, senang, susah, dan sebagainya di sini, adalah fakta tak terbantahkan yang kan terus menyejarah di muka bumi.

Banyak hal kami perbincangkan, mulai dari melihat-lihat foto kecelakaan Khemal dkk di Banyumas (Ya Allah, sehatkan Khemal ya…), jalan-jalan akhir tahun BEM, rencana silaturrahim BPH, baksos ke Jogja, sampai agenda utama: ifthor shoum sunnah hari Kamis. Dan masih ada saja debat-debat kecil tentang ifthor di Kantek atau tetap di pusgiwa. Masih ada tawa-tawa konyol bin melengking milik Mami Yuwa sampai celaan-celaan khas Andi Bapuk yang “sumpah enggak banget…” (Maaf ya, Puk…Tapi lo emang pantas mendapat celaan balik kok… ^_^ v).

Well…
Kami agaknya selesai sampai disini.
Walau masih ada 1-2-3-4 proker abadi macam Rumah Belajar, Lon Sayang Aceh dan sisa tugas pewarisan-pewarisan, kami harus sudahi segalanya.
Waktu sudah habis. Dan selesai sudah fase amal kami.
Masa juang yang tak selamanya harus berbalur luka, duka ataupun airmata.
Ada tawa disana. Ada canda. Ada pula senyum sumringah sampai tawa lebar yang menabur riang dalam gerak tunaikan amanah.

Jika waktu sudah berganti dan kami harus berhenti kini, maka kami percaya, akan ada darah-darah muda yang tentunya harus lebih baik dari kami saat ini.
Harus ada semangat-semangat baru yang meneruskan cita-cita memperbaiki diri dan lingkungan sekitar, yang mengejawantah
dalam berbagai kreasi dan profesionalisme yang tinggi. Harus ada gumpalan airmata yang terbuang tanpa sia, karena ia akan jadi saksi kepasrahan kita di hadapan Yang Maha Perkasa. Akan ada letih-lelah yang menjadi penanda segala jerih-payah, sebagaimana –yakinlah!- akan muncul pula gurat-gurat sukaria saat pekerjaan kita berakhir dengan ceria.

Sayang.
Kami harus berhenti disini. Suka-tidak suka, puas-tidak puas, menyesal ataupun lega, sesak itu tak bisa kami hindari.
Akan selalu ada kerinduan menjalani hari-hari penuh dinamika.
Akan selalu ada jejak-jejak ingatan yang hanya mampu dikenang-kenang.
Kalian ingat?
Peristiwa dengan Monde di awal membuat kami mawas bekerjasama dengan pihak luar dan berhati-hati terhadap media. Belum lagi oknum-oknum pengacak yang tak suka jika kita baik-baik saja. Atau moment Nikah Massal yang membuat banyak kakek-nenek jadi menikah ulang karena belum tercatat di dokumen pemerintah. Atau Olimpiade,
Musik Khatulistiwa, Baksos City, Beasiswa, Bedah Kampus, sampai aksi Admission Fee yang jadi symbol perlawanan terhadap arogansi penguasa kampus yang semena-mena. Atau teriakan-teriakan heroik “Hidup Mahasiswa!” di Bundaran HI dan istana negara. Pun berjuta duka saat seorang saudari kita, Iis Nur ‘Aisyah, wafat saat mencoba berkontribusi dalam baksos di Sukabumi… Pun peristiwa naas yang menimpa Khemal saat ia dan teman-teman lain ingin berbuat banyak bagi Jogja…

Ada banyak episode hidup disini.
Ada banyak momen demi momen yang begitu berarti.
Tapi sayang, kami sudah harus berhenti.
Akan ada medan lain bagi kami untuk terus mendinamiskan diri.
Akan ada pembelajaran lebih saat dunia baru menjelma di hadapan kami.
Akan ada sekelumit tantangan yang harus kami taklukkan, begitu keluar dari sini.

Sampai jumpa, kawan.
Kami akan selalu merindukan kalian, sebagaimana kita harus selalu merindukan ketinggian idealisme yang bersih dan berlandaskan nurani.
Kami akan terus mengenang segala juang, karena dari situlah kami belajar banyak bagi kehidupan ini.
Mari percayakan saja tautan jiwa kita pada Sang Penggenggam Hati, lalu panjatkan doa agar kelak kita disatukan lagi dalam keabadian yang hakiki.

Salam perjuangan.
Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!

~Saudarimu, mantan BEM-ers 0506~

Perjalanan ini
Terasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk
Di samping ku kawan

Banyak Cerita
Yang mestinya kau saksikan
di dalam kisah perjuangan

(Berita kepada Kawan, Ebiet G.Ade, dgn perubahan seperlunya.
special for almh.Iis Nur ‘Aisyah)

Puding Strawberry

Bismillah..

Hari ahad ini aku berkesempatan ngublek-ngublek dapur. Sebenarnya dari kemarin pengen banget bikin es krim, tapi berhubung males nyari bahannya di supermarket, akhirnya aku coba-coba bikin puding aja.

Pas nyari resep di situs kue, nemu resep “Christmas Black Forest Puding” dan “Pinky Puding Multy Layer”. Tapi berhubung agak ribet, jadi aku cari resep lain di kumpulan resep yang aku punya. Aku dapet kumpulan resep ini dari email, udah lamaa… banget. Disitu ada 3 resep puding yang sepertinya menarik. Ada puding cokelat biskuit, puding busa coklat, dan puding cokelat saus moka. Tapi aku kepengen bikin puding yang ada saus-sausnya. So aku bikin Puding Cokelat Saus Moka deh. Tapi aku ganti jadi rasa strawberry. Pokoknya segala yang berbau cokelat aku ganti sama segala yang berbau strawberry…
Dan hasilnya… taraaa………

Oya, resep Puding Strawberry ini adalah…

Bahan :
600 ml susu cair
25 gr cokelat bubuk à aku ganti pake susu bubuk putih
100 gr cokelat masak pekat, cincang à aku ganti pake coklat masak warna putih
100 gr gula pasir
1 bungkus (7 gr) agar-agar bubuk putih à aku ganti agar-agar yang warna merah
2 kuning telur ayam, kocok

Saus :
500 ml susu cair
100 gr gula pasir
50 gr cokelat masak, cincang à diganti cokelat masak warna putih
1 sdm kopi bubuk à gak dipake
1 kuning telur ayam, kocok
1 sdm tepung maizena, larutkan dengan sedikit air

Cara membuat saus :

Rebus susu, gula, cokelat, dan kopi hingga mendidih
Ambil sedikit adonan panas, campur dengan kuning telur, aduk rata.
Tuangkan kembali ke adonan susu.
Tuangi larutan maizena, aduk-aduk hingga kental
Angkat dan dinginkan.

Cara membuat puding:

Taruh susu, cokelat bubuk, cokelat masak, gula dan agar-agar dalam panci.
Jerangkan di atas api sedang sambil diaduk-aduk hingga cokelat larut dan susu mendidih. Kecilkan api. Ambil sedikit adonan panas, campur dengan kuning telur hingga rata.
Tuangkan kembali ke dalam adonan susu. Masak hingga mendidih. Angkat.
Aduk-aduk hingga uapnya hilang, tuangkan ke dalam cetakan bervolume 125 ml yang sudah dibasahi air matang. Biarkan hingga dingin.
Simpan dalam lemari es hingga saat disajikan.
Sajikan puding dengan sausnya.

Selesai deh.

Seperti kubilang tadi, kalo ada resep2 coklatnya, aku ganti sama yang bau2 strawberry. Jadi aku tambahin deh tuh essence strawberry yang warnanya merah. Oya, buat hiasannya, di dasar cetakan puding aku kasih cherry yang dah dipotong melintang kecil-kecil.

Sayangnya, puding yang kubuat kemarin terlalu manis rasanya. Gimana ya…gara-gara kokinya udah manis sih…jadi kebanyakan manisnya deh ^_^ v
Akhirnya aku siasatin aja, sausnya gak boleh manis-manis banget. Oya, kata mama, jangan lupa tambahin garam sedikit di sausnya supaya gurih.

Pas aku makan…
Hmmm… enak n_n
Orang rumah dan temen-temen di kampus juga pada suka…
Tapi kemanisan 😦
Tapi pas dimakan sama fla alias sausnya, jadi enak deh ^_^ Kemanisannya gak terlalu terasa. Yah, walau gak sehebat masakan di http://dapurbunda.blogspot.com, at least aku udah bisa bikin 1 makanan yang cukup enak.
Nyam…nyam…

Btw, ada yang mau coba membuat?