Pasca Kampus

Bismillah.

Hari-hari penuh cemas…
Skripsi masih bab III. Sidang (harus) Juni, atau maksimal Juli. Kalo gak kekejar Juni, ya berarti Juli. Kudu, harus, wajib. Gak pernah terpikir kalo harus nambah 1 semester lagi. Hiyy…na’udzubillah…

Aku sempat gak pede dengan penelitianku. Cuma neliti persepsi. Begitu sederhana.
Dan udah 2 orang dosen (1 dosen, 1 asdos sih…) yang komentar,
“Kok tanggung sekali ya? Akan lebih berguna kalau kamu neliti atribusi pelaku pelecehan…Akhirnya nanti akan tergambar, mengapa pelaku melakukan hal tersebut…”
“Tapi skripsi ttg atribusi pelaku pelecehan udah ada, Mbak…”
“Ohya…kamu udah coba cari yg lain? Apa gitu…Karena ini akan sederhana sekali jadinya…”
“Yah…kepepet, Mbak. Saya harus lulus semester ini…Udah semester sepuluhhhh… (huhuuu)”
“Emang kenapa bisa telat, Ndra?”
“Hmmmhhh…*menghela nafas berat*. Tadinya mau neliti ttg tahajud…(jadi keinget lagi deh…) tapi waktu itu PS (pembimbing skripsi –red) saya bilang, kualitatif itu sulit dan agak2 gak lama kalo mau cepet selesai. Beliau mengusulkan tema-tema kuantitatif, tapi saya gak tertarik. Trus saya kepikiran hubungan intensi untuk melakukan pelecehan seksual terhadap korban yang berpakaian sopan (tertutup) dan terbuka. Lalu Mbak Fivi ngusulin dihubungkan sama control diri pelakunya.
Tapi kedua variable itu alat ukurnya susah…harus adaptasi dari luar, dan itu artinya akan butuh waktu yang lebih lama…
Akhirnya, atas saran PS, saya neliti persepsi pria terhadap korban dan situasi yang dianggap memicu terjadinya pelecehan seksual deh. Ini jauh lebih sederhana. Sejujurnya tahajud ini tema idealis saya. Tapi…mau gimana…udah mepet. Udah gak mikirin idealisme lagi deh Mbak…
Namanya juga ngejar deadline….lagian teori psikologi untuk dikaitkan ke tahajud masih kurang kuat…”
Hiks. Idealisme lagi…
“Hmm….Kalau saya, lebih cenderung menyarankan mahasiswa untuk meneliti apa yang benar-benar menjadi minat mereka. Yang tahajud ini bagus lho. Buat saya sangat menarik. Kamu tinggal kaitkan ini dengan ini…misalnya orang yang tahajud dengan kesehatan mentalnya, hubungan interpersonal dengan orang lain. Saya pikir orang yang sering tahajud itu gak akan seperti Amrozi lho, harusnya dia tau bagaimana berhubungan dengan orang lain dan menghargai manusia. Tinggal hubungkan lagi dengan ini, ini, bla..bla..bla…, wawancara, selesai. Cepet ini. Bisalah jadi dalam waktu sisa 1-2 bulan lagi…”
“He…?”
Duuh, idealisme!!!
“Yah…buat saya tema pelecehan seksual ini juga menarik kok, Mbak…yang tahajud…dah gak kepikiran lagi. Lagian saya harus ngulang dari nol lagi kalau kembali ke tahajud lagi…”
“Ohh…gitu ya. Ya udah, buat penelitian kapan-kapan aja…”
Abis diskusi sama Mbak Iput, dosen klinis itu (gak nyangka beliau ternyata cukup interest sama topik tahajud!), aku jadi limbung. Antara mau nerusin tahajud tapi gak realistis, sama nerusin ttg pelecehan seksual sambil gak pede…

Abis itu, diskusi sama seorang senior.
“Wah, tahajud itu lebih menarik! Bisa kok sebulan jadi. 2 pekan ngumpulin teori, 1 pekan wawancara, 1 pekan lagi analisa…Atau ini aja, gambaran ikhwan tentang bidadari surga dan kaitannya sama motivasi beribadah! Atau hubungannya dengan ketakutan menghadapi kematian. MR saya sering cerita kalo betapa bidadari surga begini..begini…dan dunia tuh jadi gak ada artinya…keren, kan?”
Duh, K’ Dany, please deh. Jangan bikin Indra tambah bingung… Ogah deh neliti itu…Bagus sih bagus… tapi gak minat. ‘Affwannn….

Finally, pelecehan seksual jalan juga. Dan sekarang udah bab tigaa….
Alhamdulillahnya PS-ku menguatkan. Pas cerita kalo aku gak pede dengan penelitianku, beliau berujar sambil membinarkan mata penuh optimisme,
“Gak papa…Yang sederhana itu kan bukan berarti tidak bermakna…”.

Yah, begitulah cuplik-cuplik dinamika (pinjem kata2nya K’Adi Onggo :P) saat pengerjaan skripsi. Kadang kalo lagi desperate, mikir yang aneh2…
Kenapa sih musti ada skripsi segala…nyusahin aja… di luar negeri aja kagak ada…-_-‘

Dan sekarang, amanah di BEM juga hampir selesai. Tinggal ngerjain LPJ dan menyempurnakan ikhtiar disana-sini. Mumpung masih ada waktu, lubang-lubang harus ditutup sesegera mungkin. Kalo bisa, sambil tanamin bunga di atasnya. Ya, siapa yang gak mau husnul khotimah… Bagaimanapun, kesan yang baik di akhir harus terbentuk.

Tinggal ini deh…orientasi pasca kampus yang agak-agak mengkhawatirkan.
Meski dah terlibat di Insanika, belajar jadi trainer, tapi rasanya masih ada yang bikin gak tenang.
Sejujurnya, kampus itu adalah zona ternyaman saat ini. Makanya pas mau keluar, jadi mikir beribu kali. Di luar sana ada apa sajakah?!?!?!??
Seolah baru akan keluar dari istana dan bersiap masuk ke hutan belantara.
Kalo dulu waktu awal masuk kampus, banyak senior yang bilang, “Welcome to the Jungle…”, kayaknya jungle di luar tampak lebih menyeramkan…Hukk…

Itu sebabnya seorang teman juga berkata, “Adalah satu keparahan yang sangat, ketika kita sampai futur di kampus. Sebab kampus adalah lingkungan terkondusif buat kita. Kampus adalah zona ternyaman kita,”

Di kampus memang relative homogen. Orang-orangnya sepantaran. Mau nyolot-nyolotan juga fair, tinggal maju aja kalo berani. Kalo gak suka, bisa langsung bilang terang-terangan. Mau adu pemikiran, juga gak masalah. Fair playing-lah pokoknya.

Tapi di luar sana?
Kata seorang mbak2 yang ngobrol sama aku di stasiun, “Kalo ada orang gak suka sama kita, didepan aja manis. Tapi ternyata nusuk dari belakang.”
Huaaa….!!!

Belum lagi idealisme yang disinyalir banyak meluntur. Yang tadinya jujur, mulai mengecilkan hati nurani. Mulai muncul pemakluman-pemakluman atas kondisi-kondisi tidak ideal. Mulai pasif menyikapi ketidakadilan. Bergerak atau merubah? Jangan-jangan harus berpikir 1000 kali sebelum menggerakkan 1 langkah saja.

Ini, salah satu yang aku cemaskan. Khawatir gak punya benteng yang cukup kuat ketika harus bertarung di belantara dunia nyata. Khawatir terbawa arus ketika berhadapan dengan gejolak-gejolak permisivitas dan submissivitas yang mengepung dimana-mana. Belum nanti kalo tak berdaya berhadapan sama system yang dah ajeg bobroknya. Mau ngelawan korupsi, si atasan malah menyuburkan. Atau malah dianggap kelaziman.

Atau…Gak usah susah2lah… ambil contoh simple aja.
Misalnya, naik kereta ekpress tanpa beli karcis dulu dan bayar di atas dengan harga lebih murah. Gak peduli tuh duit beneran masuk ke PJKA atau ke kantong si kondektur. Alasannya, ngejar waktu daripada telat sampai kantor dan takut dianggap tidak professional.
Wahhh….bener2 deh! Pusiing!!!

Belum lagi aku bingung abis lulus mau ngapain aja. Kalo di kampus terhitung enak, mau ngapa-ngapain tinggal milih. LDK ada, BEM ada, mau jadi mhs kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang) juga bisa. Intinya, ada banyak sekali pilihan.

Nah, pasca kampus?

Sempat juga beberapa waktu lalu melibatkan diri di korwil, setingkat dibawah Depera. Tapi, kesini-sini ngerasa gak fit sama personel2nya. Apa-apa always telat. Janjian rapat jam setengah 7, baru pada dateng jam setengah 8. Kegiatan dirancang jam 9, baru pada dateng jam 10. Ya ampuuun! Gimana masyarakat mau menghargai kita?

Mau ngingetin, takut yang keluar malah nyelekit. Akhirnya cuma bisa diam menahan kesal dan mencoba berpikir positif. Tapi yang namanya hal buruk kalo gak diingetin bakal jadi kebiasaan juga ya?!?!?

Gak tau deh…takutnya dikira gak bisa berempati sama yang lain. Bisa jadi pada sibuk dengan urusan rumah tangga masing2. Gini nih, kalo di kampus, mau bilang gak suka tinggal bilang aja. Tapi di teman-teman yang relative heterogen dan punya background beragam, apa-apa dah merasa gak enak duluan…

Hmmhh…
Teman-teman…kali ini saya butuh pencerahan ttg pasca kampus.
Ada yang mau berbagi dan memberi saran?

-misorientasiEuy!-

Advertisements

2 thoughts on “Pasca Kampus

  1. assalamualaikum wr.wb, Hanna/Indra/FathianaKampus memang indah saat kita berada di dalamnya. Kita bisa berkonsentrasi penuh, bisa beridealisme totalitas semampu dan semau kita. Bagaimana dengan dunia di luar kampus ?Dunia sesungguhnya itu tidak hanya dunia kampus. Kampus hanyalah sebagian kecil dunia yg baru kita lewati. Dunia-dunia lain itu sudah menunggu kita, agar kita dapat menerapkan ilmu yg didapat dari dunia kampus, agar idealisme kita (walaupun tidak atau belum sepenuhnya terwujudkan) dapat diimplementasikan di dunia luar kampus. Dunia luar kampus menawarkan aneka sejuta kesempatan. Kita bisa milih, apa saja yg Allah anugerahkan ada di sana. Tinggal kita memilihnya. Ilmu di luar kampus jauh lebih banyak. Kesempatan utk berkorban, mengaktualisasi diri ada di dunia itu. Kita tinggal memilih sekali lagi, peran apa yang akan kita ambil, manfaat apa yg mau kita serap.Memang dunia di luar kampus, sebagaimana the jungle, banyak binatang buasnya. Tapi bukan berarti the jungle itu hanya menyimpan itu. Tapi hal itu tidak terdapat di setiap titik dalam the jungle. Hanya lokasi2 tertentu saja. Di dalam the jungle, ada danau juga seperti di kampus. Ada danau yang begitu indahnya bahkan melebihi indahnya danau kampus (walau kampusku ga ada danau spt di UI). Ada danau yang masih segar, bening bahkan berwarna-warni, tidak lagi kotor sebagaimana danau kampus. Ada juga gunung2 yg indahnya di pandang. Ada mata air yang menyejukkan mata dan hati. Banyak bibit2, tanam2an dan pepohonan yang berkhasiat buat kita. Hewan2 indah juga ada yg menyejukkan mata kita di dalam the jungle. Begitu jugalah dengan dunia luar kampus. Memang ada persaingan luar biasa, kejamnya dunia memang ada di sana. Begitulah sekelumit gambaran dunia luar kampus.Selamat menikmati dan mencoba kelak.Wassalamualaikum wr.wb,Arief Hikmah

  2. ass wr wb…dik Fathy..yang sedang di orientasi….sebenarnya sebuah kekhawatiran akan dunisa pasca kampus merupakan salah satu kunci keberhasilan menjalaninya…karena dgn menyadari berbagai hal yg mungkin muncul itu sudah memberi semacam ‘early warning’ bagi ADK utk siap2 dan mengantisipasi segalanya…artinya….self awarenessnya dah bagus…(he..he..saya nih jadi kayak anak psiko aja ya…)karena banyak saya jumpai…ADK2 yg keluar kampus bukan hanya ‘gak siap’ menghadapinya, tapi lebih kepada tidak menyadari berbagai kemungkinan yang terjadi, shg tidak menyiapkannya…banyak ADK itu..MEGALOMANIA…ah saya khan aktivis…biasa mimpin orang..biasa memberi taujih..pokoknya nanti pasti bisa menghadapi segalanya…bisa mendapatkan sukses karir yg baik…dlsb..padahal MODAL cuma jadi AKtivis aja gak cukup menghadapi berbagai kehidupan pasca kampus, baik kehidupan sosial maupun kehidupan profesional….Yang sekarang terpenting adalah adik2 ADK harus bisa melakukan SelfMAPPING…..apa yang dia miliki sekarang….apa yang kurang…bagaimana tantangan kedepan yang harus dia hadapi dsb..Kualitas SELFMAPPING akan berbanding lurus dengan SELFCONCEPT adik2 ADK…..wah..jadi panjang lebar nih..kapan2 jika ada kesempatan saya bersedia tuh sharing dengan adik2 ADK terutama yang mau lulus tentang tantangan kehidupan sosial dan profesional kedepan buat adik2 biar gak gagap melangkah dan disorientasi..kebetulan saya cukup sering berinteraksi dengan adik2 ADK..salamARi W

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s