Umar Keren…

bismillah.

Aku punya buku keren : biografi “Umar Bin Khattab”, karya Muhammad Husain Haikal. Tapi tokoh yang diceritain dalam buku ini jauh lebih keren. Iyalah, Umar gitu lho…

Semua orang sudah tau tentang watak Umar yang keras dan emosional. Inget gak, waktu ada seorang Badui yang buang air di masjid, Umar langsung pengen menebas leher orang itu. Tapi Rosululloh saw dengan sangat bijak dan lembutnya malah menyuruh membiarkan dan mengajak orang itu berdiskusi. Dengan kelemahlembutan Rosul, dan tentu atas ijin Allah pula, badui itu akhirnya masuk Islam. Dua karakter yang begitu bertolak belakang, bukan?

Umar memang sangat keras hati. Tapi sesungguhnya ia sangat penyayang dan sangat mudah tersentuh. Aku begitu bangga dan bersyukur bahwa aku –dan ratusan juta umat muslimin di seluruh dunia- memiliki sosok Umar yang…… ah, begitu luar biasa hingga aku tak mampu menguraikannya dengan kata-kata!

Nah, sekarang aku mau cerita gimana kerennya Umar.

Dalam sejarahnya, Umar sebagai seorang Amirul Mukminin, pernah menghadapi masa-masa sulit bersama rakyatnya. Saat itu, salah satu daerah kekuasaannya yaitu Syam sampai Irak sedang terkena wabah amwaas (gak dijelaskan apa itu amwaas. Tapi penyakit ini begitu cepat menyebar luas dan sangat mematikan). Selain wabah, hujan sudah lama tak turun sehingga semenanjung itu mengalami kekeringan dan kelaparan. Lapisan-lapisan gunung berapi mulai bergerak dari dasar dan membakar permukaan dan semua tanaman di atasnya, sehingga lapisan tanah itu menjadi hitam, gersang dan penuh abu, yang bila datang angin maka ia akan makin luas bertebaran. Oleh karena itu, tahun ini dinamai “Tahun Abu” (‘Amaar Ramaadah). Karena hancurnya usaha pertanian dan peternakan, orang pun tak bisa lagi menjual hasil usahanya. Otomatis pasar pun menjadi sepi. Uang di tangan bahkan tak berguna karena tak bisa dibelikan apa-apa.

Saat itu, keadaan Madinah, kota dimana Umar tinggal, berada dalam keadaan yang lebih baik. Orang-orang Madinah memiliki kebiasaan untuk menyimpan bahan makanan untuk masa paceklik sehingga ketika tertimpa bencana mereka sudah memiliki persiapan. Orang-orang di pedalaman yang tertimpa kekeringan dan kelaparan pun beramai-ramai mengungsi ke kota untuk menyampaikan keluhan dan meminta bantuan Amirul Mukminin.

Setelah kelaparan mencapai puncaknya, pernah suatu kali Umar disuguhi roti yang diremukkan dengan minyak samin. Ia memanggil seorang badui dan roti itu dimakannya bersama-sama. Setiap kali makan, orang badui itu menyuap diikuti dengan lemak yang terdapat di sisi luarnya. Umar pun bertanya, “Tampaknya anda tak pernah mengenyam lemak?”. Orang badui itu menjawab, “Ya, saya tak pernah makan dengan samin atau minyak zaitun, juga saya tak melihat ada orang memakannya sejak sekian lama sampai sekarang,”. Sejak saat itu Umar bersumpah untuk tidak lagi makan daging atau samin sampai semua orang hidup seperti biasa. Ia tetap bertahan dengan sumpahnya itu sampai dengan izin Allah hujan turun dan musim paceklik berakhir.

Suatu hari, ada seorang pemuda yang mensedekahkan minyak samin dan susu dalam 2 tabung kulit kepada Umar. Tetapi Umar hanya menunduk sebentar dan berkata, “Bagaimana saya akan dapat memperhatikan keadaan rakyat jika saya tidak ikut merasakan apa yang mereka rasakan?”

What a great Umar!
Ia adalah seorang khalifah dan pemimpinnya umat muslim saat itu. Segala harta milik Kisra dan Kaisar sudah ada di tangannya, yang dengan itu Muslimin dapat menyaingi Persia, Rumawi dan dunia seluruhnya, begitu juga kekayaan Irak dan Syam! Umar bisa saja menggunakan kekayaan itu semaunya. Tetapi ia melihat bahwa semua kenikmatan itu menyangkut kehidupan dunia dan kemewahan dapat membuat orang tersesat, dan cukuplah akhirat serta ridho Allah untuk dirinya! Umar yang warna kulitnya putih kemerahan, pada Tahun Abu itu berubah menjadi hitam. Dulu ia menyantap samin, susu, dan daging. Tetapi setelah bencana kekeringan menimpa wilayahnya, ia mengharamkan semua makanan itu untuk dirinya. Ia hanya menyantap minyak zaitun dan lebih sering mengalami kelaparan dibanding rakyatnya. Bahkan banyak orang yang mengatakan, “Jika Allah tidak menolong kami dari Tahun Abu ini, kami kira Umar akan mati dalam kesedihan memikirkan nasib Muslimin”!

Pada Tahun Abu itu, Umar mengirim surat kepada wakil-wakilnya di Irak dan Syam untuk membantu penduduk Semenanjug. Perasaannya begitu peka, bahwa mengenai setiap pribadi dari rakyatnya dia bertanggung jawab di hadapan Allah. Akhirnya, berbagai bala bantuan datanglah. Umar sendiri mengurus makanan penduduk Madinah dan orang-orang yang mengungsi ke sana. Ia mengolah sendiri roti dengan zaitun untuk dijadikan roti kuah. Beberapa hari sekali ia menyembelih hewan utuk lauk-pauk roti kuah, lalu dimakan bersama-sama dengan orang banyak.

Tapi tak hanya pekerjaan itu yang Umar lakukan. Umar juga mendampingi rakyatnya dan menyertai mereka semua. Ia berusaha memberikan ketenangan bahwa dalam menghadapi bahaya kelaparan itu ada yang akan bisa mengatasinya. Bahkan ia berkata, “andaikata untuk meringankan beban orang saya harus membawakan perlengkapan mereka kepada keluarga di setiap rumah lalu mereka saling berbagi makanan sampai Allah memberikan kelapangan, akan saya lakukan.”
(Dalam catatan kaki di buku ini, ada sebuah kutipan yang sangat menarik. Dikatakan bahwa Umar sangat ketat terhadap diri dan anak-anaknya sendiri. Ketika ia disuguhi daging dengan samin, ia tidak mau memakannya. Ketika meminta air dan malah disuguhi madu, ia menolak pula dan berkata, “Jangan, karena hal ini saya akan dipermasalahkan nanti di hari kiamat. Ketika ia melihat sebuah semangka di tangan anaknya, Umar berseru, “Wah, wah, anak Amirul Mukminin! Kamu makan buah-buahan sementara umat Muhammad kurus kering dan lemah!”. Anak itu pun keluar sambil menangis karena semangka itu sebenarnya dibelinya dengan segenggam biji-bijian. Pernah pula Umar melewati seorang perempuan yang mengaduk tepung, kemudian ia berkata, “Bukan begitu caranya,”, lalu mengambil pengaduk itu dan memperagakannya. Abu Hurairah bahkan pernah melihat Umar membawa dua kantong kulit dan sebuah tabung minyak. Ketika dilihatnya orang-orang lansia, Umar memasakkan untuk mereka agar mereka makan sampai kenyang…)

Penulis buku ini memberikan pendapatnya mengenai Umar dan sikapnya selama masa-masa sulit di Tahun Abu. Tindakan yang sangat menonjol dalam hal ini, tulis Haikal, adalah sikap Umar dan disiplinya yang begitu keras terhadap dirinya. Dia sama sekali tidak tertarik menikmati segala kemudahan yang ada, padahal Islam tidak menyuruh untuk berperilaku demikian. Dia melakukan itu tidak untuk sekedar berempati, tapi bahkan bersimpati dengan turut merasakan kelaparan sebagaimana yang rakyatnya rasakan. Karena itulah ia menurunkan taraf hidupnya ke tingkat hidup kaum dhuafa, duduk bersama-sama dengan ribuan orang yang kelaparan untuk sekedar menyambung hidup. Ia makan bersama-sama mereka dan tidak mau makan di rumah, agar jangan ada yang mengira bahwa ia lebih mengutamakan diriya dengan makanan yang tak terjangkau oleh masyarakatnya yang masih dalam kekurangan. Dengan tindakannya itu, ia telah membuktikan suatu tujuan mulia : 1) merasakan penderitaan orang lain sehingga ia terdorong untuk melipatgandakan perjuangannya dalam mengatasi nasib mereka dan bekerja untuk mengatasinya, dan 2) untuk menentramkan hati banyak orang bahwa Amirul Mukminin bersama-sama mereka dalam suka dan duka. Dapat kita bayangkan betapa bahagianya rakyat Umar ketika itu. mereka bahkan dengan senang hati menerima musibah yang ada, karena mereka tahu bahwa orang terpenting di negara itu senasib sepenanggungan dengan mereka.

Hmmm….what a great Umar…
Ia bukan sekedar presiden saat itu. Tapi ia adalah Khalifah dan Amirul Mukminin, pemimpin tertinggi kaum muslimin di seluruh dunia. Mungkin saat ini daerah kekuasaannya ketika itu bisa dibandingkan dengan beberapa negara. Tapi ia begitu dekat dengan rakyatnya, turut serta membantu berbagai masalah, dan amat-sangat konkrit terjun di lapangan : menyembelihkan hewan, memasakkan makanan, menghidangkannya dan bahkan bersama-sama makan dengan mereka tanpa rasa sungkan, meski dengan makanan seadanya. Kalau sekarang Umar jadi presiden RI, mungkin ia tidak mau makan daging ketika tahu sebagian besar rakyatnya mengalami busung lapar dan memasak batu atau daging kucing saking miskinnya.

Betapa luar biasanya Umar…
Jika aku bisa, aku akan meminta para presiden di seluruh dunia untuk membaca siroh Umar, sebelum fit and proper test mereka dilaksanakan. Ya, mereka harus belajar menjadi pemimpin yang tak sekedar jago kampanye sampai berbusa-busa. Tapi mereka harus dengan ksatria terjun langsung mengatasi berbagai permasalahan, karena merekalah yang pertama kali ditanya tentang satu-persatu rakyatnya…

Yaa Allah, bimbing kami meneladani Umar ya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s