Ujian Skripsi 2

bismillah.

alhamdulillah, aku sudah bertemu dengan PS (Pembimbing Skripsi -red). Pak Gagan Hartana, namanya. seorang expert di bidang statistik dan metodologinya, dan insya Allah cukup memahami Islam. sebenarnya tema skripsiku lebih ke “klinis” sementara pak gagan sendiri adalah psikolog pendidikan. tapi karena aku tau tema ini metodologinya harus bagus dan cukup ribet dalam perhitungan kuantitatifnya, maka aku memilih beliau.

pertama kali aku menemui beliau, aku bicara tentag konsep ketenangan yang dijanjikan Al Qur’an untuk orang yang mengingat Allah, dalam hal ini sholat. seketika beliau menyambut dengan pertanyaan,
“tapi kita harus cermat, karena bisa jadi kepribadian orang itu yang memang mempengaruhi ketenangan, bukan sholatnya.”
aku mengangguk. i see, Pak.
lalu beliau bertanya lagi.
“Untuk apa kamu meneliti ini? apakah kamu tidak yakin akan janji Allah?”
“Tentu saja saya sangat yakin.” jawabku mantap.
“Lalu untuk apa kamu menelitinya?”
“untuk membuktikan secara empiris.”
“yaya. saya tau itu. tapi untuk apa?” ujar beliau dengan penekanan.
melihat mukaku yang kebingungan, beliau melanjutkan bicara.
“ada hal-hal yang tak terjangkau oleh alam pikir kita. ilmu kita sangat terbatas. oleh sebab itu Allah bilang misalnya, masalah ruh bukan urusan kamu. sebab memang akal kita gak akan sampai kesana.”
aku mengangguk tanda mengerti.
“lalu kenapa kita harus mempertanyakan sesuatu yang memang sudah Allah tetapkan atau janjikan? sesuatu yang pastinya diluar jangkauan akal kita?”
oh, no. bukan begitu maksudnya, Sir…
“ya, pak. saya ngerti dengan itu. sebenarnya saya juga sedang mencari konstruk psikologi yang tepat berkaitan dengan ketenangan dalam bahasa Al Qur’an. jadi…mungkin kedatangan saya sekaligus ingin brainstorming lagi dengan Bapak.”
kerongkonganku tercekat. mulai terbayang lagi kegagalan untuk sebuah usaha mewujudkan idealisme yang sungguh, sama sekali tidak mudah.

“saya bukannya ingin menghambat kamu. sama sekali tidak. tapi…”
beliau tercenung lama. sementara aku semakin cemas.
“yaa…saya sudah konsultasikan ini dengan Pak Hanna. saya sendiri tadinya pesimis dengan tema ini, karena Mbak Ratna sendiri yang sudah meneliti tentang efek dzikir terhadap psikis seseorang saja berkata bahwa penelitian ini sangat sulit, terutama dari kontrolnya. tapi Pak Hanna bilang, kalau kamu mau, lakukan dan jalan terus. masalah kontrol, kata beliau saya bisa ambil subyek dengan level kecemasan yang setara. jadi saya harus tes dulu kecemasan mereka. kata Pak Hanna, insya allah itu cukup untuk penelitian setingkat S1..”
“oh, tidak begitu sebaiknya. lebih baik kamu masukkan saja variabel kecemasan itu. jadi disebut sebagai variabel kontrol. bla..bla..bla..”
sepanjang beliau bicara, aku manggut-manggut meski terkadang gak faham.

Akhirnya aku ajukan juga judul itu. aku ceritakan bahwa aku tidak menemukan konstruk ketenangan dalam bahasa psikologi, tetapi aku akan meneliti kematangan emosi. tadinya aku mau pakai kesejahteraan psikologis, tetapi setelah kubaca teorinya, ternyata term itu kurang tepat dihubungkan dengan aktivitas sholat.

Dalam konstruk kematangan emosi, ada dimensi2 semacam kemampuan mengatasi stress, kemampuan mengendalikan kemarahan, hubungan dengan tokoh otoritas, integrasi, kontrol diri, kemampuan membuat penilaian yang baik untuk mengambil keputusan, sikap terbuka terhadap belajar, kematangan intelektual, tanggung jawab, egosentrisme-sosiosentrisme, komunikasi, memiliki perasaan aman secara emosional dan memiliki keseimbangan hubungan social. Ini definisinya si Mr. Dean. Ini pun aku harus melakukan elisitasi, mana dimensi yang benar2 berhubungan, mana yang tidak. konkretnya, aku harus menyebar kuesioner 2 kali. Itu juga tidak boleh dengan subyek yang sama. Tapi sekarang aku lagi bingung nyari dalil kalo sholat itu bisa mengendalikan marah. Ada yg tau?! Plus pesantren yang berisi dewasa muda, kira2 umur 22-40 tahun. asumsinya, pesantren biasanya membudayakan sholat tahajud kepada santri-santrinya. Jadi akan lebih mudah kalau ada 30-40 subyek yang bisa kuambil sekaligus.

So, judulnya pun berubah menjadi “Perbedaan Kematangan Emosi pada Orang yang Melakukan Sholat Wajib dan Orang yang Melakukan Sholat Wajib dan Sholat Tahajud”.

Pak Gagan kemudian meminta aku berdiskusi dengan salah seorang mahasiswa bimbingannya yang sudah lulus. Orang itu, kata Pak Gagan, tesisnya bertema keagamaan, yakni tentang sabar. Mudah2an kamu mendapatkan sesuatu setelah diskusi, harap beliau.

Aku pun bergegas menghubungi orang yang dimaksud. Satu hal mengejutkan, sodara-sodara. Dia sangat berharap aku berhati2 mengusung tema yang nyerempet2 agama. Sebab katanya, kalau hipotesisku gagal dan tidak terbukti, maka bisa jadi orang-orang sekuler yang akan mengujiku beranggapan, “Tuh kan, sholat gak terbukti apa-apa. Makanya ngapain sholat?”. Sebab kan aku memang ingin menyimpulkan bahwa orang yang tahajud (mudah2an) lebih matang emosinya.

Jadi agak2 ketar-ketir. Gimana ya?!? Ini bukan sekedar idealisme, ternyata. Tapi nama Islam bahkan dipertaruhkan!

Duh! Tambah mumet!

Tapi ini baru di awal. Belum apa-apa. Selama aku yakin aku bisa dan terus keras berusaha, mudah-mudahan Allah memberikan kelapangan. Sekarang aku baru ngerti kenapa orang2 agak2 bete kalo ditanya tentang skripsinya, “udah sampe bab berapa?”. Makanya gak boleh patah semangat, apalagi mundur sebelum berperang!
Never give up sampai Allah memang menentukan kehendak yang sebaliknya!

Notes : gak bosen2 minta doa temen2 semuanya…yuks, sama2 saling menyemangati! 🙂

Umar dan Gereja

bismillah.

Maka kukatakan dengan lantang!!!
Kepada mereka yang menawarkan sekardus mie instant kepada saudara2ku para dhu’afa untuk mereka tukarkan tauhid dengan doktrin trinitas!
Kepada mereka yang mengagungkan kasih sayang sementara para misionarisnya bergentayangan!
Kepada mereka yang melakukan segala cara demi memindah-paksa agama kami dengan keyakinan yang lain!
Yang memacari muslimah-muslimah kami!
Yang menghipnotis, memperkosa, dan menikahi agar kami turut pada agama kalian!

Dengar dan lihatlah! Bercerminlah pada sejarah yang tak pernah berdusta!!!

***

Isi perjanjian Umar bin Khaththab dengan gereja :
“Bismillahirrohmaanirrohim. Inilah jaminan yang telah diberikan oleh hamba Allah Umar Amirul Mukminin kepada pihak Aelia :

– Jaminan keselamatan untuk jiwa dan harta mereka, untuk gereja-gereja dan salib-salib mereka, bagi yang sakit dan yang sehat dan bagi kelompok agama yang lain.
– Gereja-gereja mereka tak boleh ditempati atau dirobohkan, tak boleh ada yang dikurangi apapun didalamnya atau yang berada dalam lingkungannya, baik salib mereka atau harta benda apapun milik mereka.
– Mereka tak boleh dipaksa dalam hal agama mereka atau mengganggu siapapun dari mereka.
– Tak boleh ada orang Yahudi yang tinggal bersama mereka di Aelia. Penduduk Aelia harus membayar jizyah seperti yang dilakukan oleh penduduk Mada’in. mereka harus mengeluarkan orang-orang Rumawi dan pencuri-pencuri.
– Mereka yang keluar akan dijamin jiwa dan hartanya hingga sampai ke tempat tujuan mereka yang aman. Barangsiapa ada yang tinggal di antara mereka, keamanan mereka tetap dijamin, dan kewajiban mereka membayar jizyah sama dengan kewajiban penduduk Aelia.
– Barangsiapa yang dari penduduk Aelia yang ingin pergi atas tanggungan sendiri dan hartanya sendiri bersama pihak Rumawi dan meninggalkan rumah-rumah ibadah mereka dan salibn-salib mereka, maka mereka yang bertanggung jawab atas diri mereka, rumah-rumah ibadah dan salib-salib mereka untuk sampai ke tempat tujuan yang aman. Bagi penduduk yang ada di tempat itu, barangsiapa ingin tetap tinggal, maka mereka berkewajiban membayar jizyah seperti penduduk Aelia.
– Barangsiapa mau pergi bersama pihak Rumawi bolehlah mereka pergi, dan barangsiapa mau kembali kepada keluarganya maka kembalilah.
– Tak boleh ada yang diambil dari mereka sebelum mereka selesai memetik hasil panennya.

Segala apa yang ada dalam surat perjanjian ini, merupakan perjanjian dengan Allah, dengan jaminan Rasul-Nya, para khalifah dan jaminan orang-orang beriman, kalau mereka sudah membayar jizyah yang menjadi kewajiban mereka.”

Utusan Severinus (uskup agung Baitulmukadas) itu kembali dengan membawa surat tersebut ke Yerusalem. Uskup itu sangat bergembira dengan hasil perjanjian itu, demikian juga dengan semua penduduk kota. bagaimana mereka tidak akan gembira, pihak Muslimin mengakui keberadaan mereka, memberikan jaminan keamanan atas harta, jiwa dan kepercayaan mereka, tak seorang pun boleh diganggu karena keyakinan agamanya, tak boleh dipaksa dalam keadaan apapun.

Alangkah besarnya perbedaan ini dengan keinginan Heraklius yang hendak memaksa penduduk kota harus meninggalkan keyakinan ajaran mereka dan harus mengikuti ajaran negara yang resmi; barangsiapa menolak dipotong hidung dan telinganya, dan rumanhnya harus dirobohkan! Sungguh, perjanjian ini merupakan zaman baru yang dibukakan oleh Allah bagi umat Nasrani Yerusalem. Itulah perjanjian yang tak pernah mereka rasakan dalam sejarah dan tidak pernah ada cita-cita semacam itu pada mereka…

(dikutip dari buku Umar bin Khattab karya Muhammad Husein Haikal, Penerbit Litera AntarNusa, Bogor, 2003)

***

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(Qur’an Surat Al Baqarah : 256)

Umar Keren…

bismillah.

Aku punya buku keren : biografi “Umar Bin Khattab”, karya Muhammad Husain Haikal. Tapi tokoh yang diceritain dalam buku ini jauh lebih keren. Iyalah, Umar gitu lho…

Semua orang sudah tau tentang watak Umar yang keras dan emosional. Inget gak, waktu ada seorang Badui yang buang air di masjid, Umar langsung pengen menebas leher orang itu. Tapi Rosululloh saw dengan sangat bijak dan lembutnya malah menyuruh membiarkan dan mengajak orang itu berdiskusi. Dengan kelemahlembutan Rosul, dan tentu atas ijin Allah pula, badui itu akhirnya masuk Islam. Dua karakter yang begitu bertolak belakang, bukan?

Umar memang sangat keras hati. Tapi sesungguhnya ia sangat penyayang dan sangat mudah tersentuh. Aku begitu bangga dan bersyukur bahwa aku –dan ratusan juta umat muslimin di seluruh dunia- memiliki sosok Umar yang…… ah, begitu luar biasa hingga aku tak mampu menguraikannya dengan kata-kata!

Nah, sekarang aku mau cerita gimana kerennya Umar.

Dalam sejarahnya, Umar sebagai seorang Amirul Mukminin, pernah menghadapi masa-masa sulit bersama rakyatnya. Saat itu, salah satu daerah kekuasaannya yaitu Syam sampai Irak sedang terkena wabah amwaas (gak dijelaskan apa itu amwaas. Tapi penyakit ini begitu cepat menyebar luas dan sangat mematikan). Selain wabah, hujan sudah lama tak turun sehingga semenanjung itu mengalami kekeringan dan kelaparan. Lapisan-lapisan gunung berapi mulai bergerak dari dasar dan membakar permukaan dan semua tanaman di atasnya, sehingga lapisan tanah itu menjadi hitam, gersang dan penuh abu, yang bila datang angin maka ia akan makin luas bertebaran. Oleh karena itu, tahun ini dinamai “Tahun Abu” (‘Amaar Ramaadah). Karena hancurnya usaha pertanian dan peternakan, orang pun tak bisa lagi menjual hasil usahanya. Otomatis pasar pun menjadi sepi. Uang di tangan bahkan tak berguna karena tak bisa dibelikan apa-apa.

Saat itu, keadaan Madinah, kota dimana Umar tinggal, berada dalam keadaan yang lebih baik. Orang-orang Madinah memiliki kebiasaan untuk menyimpan bahan makanan untuk masa paceklik sehingga ketika tertimpa bencana mereka sudah memiliki persiapan. Orang-orang di pedalaman yang tertimpa kekeringan dan kelaparan pun beramai-ramai mengungsi ke kota untuk menyampaikan keluhan dan meminta bantuan Amirul Mukminin.

Setelah kelaparan mencapai puncaknya, pernah suatu kali Umar disuguhi roti yang diremukkan dengan minyak samin. Ia memanggil seorang badui dan roti itu dimakannya bersama-sama. Setiap kali makan, orang badui itu menyuap diikuti dengan lemak yang terdapat di sisi luarnya. Umar pun bertanya, “Tampaknya anda tak pernah mengenyam lemak?”. Orang badui itu menjawab, “Ya, saya tak pernah makan dengan samin atau minyak zaitun, juga saya tak melihat ada orang memakannya sejak sekian lama sampai sekarang,”. Sejak saat itu Umar bersumpah untuk tidak lagi makan daging atau samin sampai semua orang hidup seperti biasa. Ia tetap bertahan dengan sumpahnya itu sampai dengan izin Allah hujan turun dan musim paceklik berakhir.

Suatu hari, ada seorang pemuda yang mensedekahkan minyak samin dan susu dalam 2 tabung kulit kepada Umar. Tetapi Umar hanya menunduk sebentar dan berkata, “Bagaimana saya akan dapat memperhatikan keadaan rakyat jika saya tidak ikut merasakan apa yang mereka rasakan?”

What a great Umar!
Ia adalah seorang khalifah dan pemimpinnya umat muslim saat itu. Segala harta milik Kisra dan Kaisar sudah ada di tangannya, yang dengan itu Muslimin dapat menyaingi Persia, Rumawi dan dunia seluruhnya, begitu juga kekayaan Irak dan Syam! Umar bisa saja menggunakan kekayaan itu semaunya. Tetapi ia melihat bahwa semua kenikmatan itu menyangkut kehidupan dunia dan kemewahan dapat membuat orang tersesat, dan cukuplah akhirat serta ridho Allah untuk dirinya! Umar yang warna kulitnya putih kemerahan, pada Tahun Abu itu berubah menjadi hitam. Dulu ia menyantap samin, susu, dan daging. Tetapi setelah bencana kekeringan menimpa wilayahnya, ia mengharamkan semua makanan itu untuk dirinya. Ia hanya menyantap minyak zaitun dan lebih sering mengalami kelaparan dibanding rakyatnya. Bahkan banyak orang yang mengatakan, “Jika Allah tidak menolong kami dari Tahun Abu ini, kami kira Umar akan mati dalam kesedihan memikirkan nasib Muslimin”!

Pada Tahun Abu itu, Umar mengirim surat kepada wakil-wakilnya di Irak dan Syam untuk membantu penduduk Semenanjug. Perasaannya begitu peka, bahwa mengenai setiap pribadi dari rakyatnya dia bertanggung jawab di hadapan Allah. Akhirnya, berbagai bala bantuan datanglah. Umar sendiri mengurus makanan penduduk Madinah dan orang-orang yang mengungsi ke sana. Ia mengolah sendiri roti dengan zaitun untuk dijadikan roti kuah. Beberapa hari sekali ia menyembelih hewan utuk lauk-pauk roti kuah, lalu dimakan bersama-sama dengan orang banyak.

Tapi tak hanya pekerjaan itu yang Umar lakukan. Umar juga mendampingi rakyatnya dan menyertai mereka semua. Ia berusaha memberikan ketenangan bahwa dalam menghadapi bahaya kelaparan itu ada yang akan bisa mengatasinya. Bahkan ia berkata, “andaikata untuk meringankan beban orang saya harus membawakan perlengkapan mereka kepada keluarga di setiap rumah lalu mereka saling berbagi makanan sampai Allah memberikan kelapangan, akan saya lakukan.”
(Dalam catatan kaki di buku ini, ada sebuah kutipan yang sangat menarik. Dikatakan bahwa Umar sangat ketat terhadap diri dan anak-anaknya sendiri. Ketika ia disuguhi daging dengan samin, ia tidak mau memakannya. Ketika meminta air dan malah disuguhi madu, ia menolak pula dan berkata, “Jangan, karena hal ini saya akan dipermasalahkan nanti di hari kiamat. Ketika ia melihat sebuah semangka di tangan anaknya, Umar berseru, “Wah, wah, anak Amirul Mukminin! Kamu makan buah-buahan sementara umat Muhammad kurus kering dan lemah!”. Anak itu pun keluar sambil menangis karena semangka itu sebenarnya dibelinya dengan segenggam biji-bijian. Pernah pula Umar melewati seorang perempuan yang mengaduk tepung, kemudian ia berkata, “Bukan begitu caranya,”, lalu mengambil pengaduk itu dan memperagakannya. Abu Hurairah bahkan pernah melihat Umar membawa dua kantong kulit dan sebuah tabung minyak. Ketika dilihatnya orang-orang lansia, Umar memasakkan untuk mereka agar mereka makan sampai kenyang…)

Penulis buku ini memberikan pendapatnya mengenai Umar dan sikapnya selama masa-masa sulit di Tahun Abu. Tindakan yang sangat menonjol dalam hal ini, tulis Haikal, adalah sikap Umar dan disiplinya yang begitu keras terhadap dirinya. Dia sama sekali tidak tertarik menikmati segala kemudahan yang ada, padahal Islam tidak menyuruh untuk berperilaku demikian. Dia melakukan itu tidak untuk sekedar berempati, tapi bahkan bersimpati dengan turut merasakan kelaparan sebagaimana yang rakyatnya rasakan. Karena itulah ia menurunkan taraf hidupnya ke tingkat hidup kaum dhuafa, duduk bersama-sama dengan ribuan orang yang kelaparan untuk sekedar menyambung hidup. Ia makan bersama-sama mereka dan tidak mau makan di rumah, agar jangan ada yang mengira bahwa ia lebih mengutamakan diriya dengan makanan yang tak terjangkau oleh masyarakatnya yang masih dalam kekurangan. Dengan tindakannya itu, ia telah membuktikan suatu tujuan mulia : 1) merasakan penderitaan orang lain sehingga ia terdorong untuk melipatgandakan perjuangannya dalam mengatasi nasib mereka dan bekerja untuk mengatasinya, dan 2) untuk menentramkan hati banyak orang bahwa Amirul Mukminin bersama-sama mereka dalam suka dan duka. Dapat kita bayangkan betapa bahagianya rakyat Umar ketika itu. mereka bahkan dengan senang hati menerima musibah yang ada, karena mereka tahu bahwa orang terpenting di negara itu senasib sepenanggungan dengan mereka.

Hmmm….what a great Umar…
Ia bukan sekedar presiden saat itu. Tapi ia adalah Khalifah dan Amirul Mukminin, pemimpin tertinggi kaum muslimin di seluruh dunia. Mungkin saat ini daerah kekuasaannya ketika itu bisa dibandingkan dengan beberapa negara. Tapi ia begitu dekat dengan rakyatnya, turut serta membantu berbagai masalah, dan amat-sangat konkrit terjun di lapangan : menyembelihkan hewan, memasakkan makanan, menghidangkannya dan bahkan bersama-sama makan dengan mereka tanpa rasa sungkan, meski dengan makanan seadanya. Kalau sekarang Umar jadi presiden RI, mungkin ia tidak mau makan daging ketika tahu sebagian besar rakyatnya mengalami busung lapar dan memasak batu atau daging kucing saking miskinnya.

Betapa luar biasanya Umar…
Jika aku bisa, aku akan meminta para presiden di seluruh dunia untuk membaca siroh Umar, sebelum fit and proper test mereka dilaksanakan. Ya, mereka harus belajar menjadi pemimpin yang tak sekedar jago kampanye sampai berbusa-busa. Tapi mereka harus dengan ksatria terjun langsung mengatasi berbagai permasalahan, karena merekalah yang pertama kali ditanya tentang satu-persatu rakyatnya…

Yaa Allah, bimbing kami meneladani Umar ya…

Happy Eid, All…

bismillah.

S E L A M A T H A R I R A Y A I D U L F I T R I 1426 H
Taqobbalallohu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum
maaf lahir bathin ya.
selamat berjuang di 11 bulan ke depan!
semoga Allah mellimpahkan kekuatan agar kita senantiasa istiqomah dalam beramal…

Yumna

bismillah.

Aku punya sahabat. Atau lebih tepatnya, saudari. Saudari seiman.
Namanya Yumna. Cuma begitu yang tertera dalam lembar-lembar absen dari bagian akademis fakultas. Begitu simple-nya. Tapi belakangan aku baru tau kalau ia sering menambahkan kata “Aziz Baktir” di belakang namanya. Mungkin itu nama ayahnya, pikirku.

Orangnya putih berjilbab. Cantik. Dan wajahnya, hmm… berkilap seperti tak pernah berjerawat. Bahkan seorang teman pria non muslim seangkatan pun mengatakan, “Angkatan 2001 yang wajahnya paling bersih ya Yumna.”
Ketika bertemu di awal-awal dulu, aku segera tahu bahwa ternyata ia sangat ilmiah –setidaknya paling ilmiah diantara aku dan beberapa teman yang dekat dengannya. Kalau urusan lomba karya tulis ilmiah, pasti dia yang paling sering ikutan. Apalagi setelah diamanahi urusan yang berkaitan dengan akademis, makin menjadi-jadilah ia. Beberapa kali ia menawarkan peluang beasiswa pada kami. Pun ajakan untuk ikut LKTI ini dan itu. Sayangnya, kebanyakan tawarannya kutolak dengan tak enak hati. Sibuklah, lagi ngurus inilah, itulah, dan ia hanya tersenyum –mungkin sedikit kecewa. Hari gini ikhwan-akhwat peduli akademis? Ke laut aja deh…

Kami akhirnya tak bersatu jua. Kesibukan menjalankan amanah di tempat berbeda membuat aku dan Yumna konsentrasi di bidang masing-masing. Ia aktif di Imamupsi (Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi se-Indonesia) yang berpusat di UIN Ciputat dan FUSI (Forum Ukhuwah dan Studi Islam) fakultas. Sebenarnya kita udah pengen barengan ke Imamupsi. Tapi berhubung ada pekerjaan yang lebih menuntut, aku tetap stay di fakultas. Hilanglah kesempatan mengkaji psiko islami lebih dalam…
Tapi sudahlah…semoga masih ada waktu dan usia untuk mempelajarinya.
Aku masih ingat, beberapa kali pula Yumna mengajakku berdiskusi secara rutin dengan teman-teman Imamupsi dan Ustadz Amang Syafrudin di Depok. Tapi kesempatan itu berlalu begitu saja karena bermacam halangan.

Alhamdulillah, Yumna akhirnya lulus (ontime!) dan menyabet S.Psi-nya. Alhamdulillah pula, akhirnya aku juga bisa membuat makalah bareng untuk diajukan dalam Temu Ilmiah Psiko Islami di UGM beberapa waktu lalu. Meski tak berangkat ke Jogja, aku bisa merasakan betapa nikmatnya berkutat dengan setumpuk buku, ngublek-ngublek teori dan menuangkannya dalam tulisan di makalah kami : “Ta’aruf vs Pacaran : Tinjauan terhadap Proses Menuju Pernikahan dalam Perspektif Psikologi dan Islam”. Sebuah aktivitas yang jarang sekali kulakukan kecuali untuk tugas kuliah. Makalah hebat, kupikir. Habis, kami benar-benar ngebut ngerjain makalah itu dalam waktu efektif kira-kira 1 mingguan. Merencanakan ikut temu ilmiah ini pun tidak, karena waktu itu peserta sudah cukup, dan kami menempati status cadangan. Kalau ada peserta lain yang mundur, maka barulah kami bisa mempresentasikan makalah itu di Jogja.

Yumna…
Aku sampai bengong waktu hari Ahad papasan sama dia di stasiun UI. Aku mau pulang ke rumah, dia mau ke Cikini.
“Mau kemana, Yum?”
“ke TIM,”
“Ngapain?”ujarku heran.
“jalan-jalan aja.”
“He?!?!” mataku memicing. Rajin amat, batinku.
“Emang ada apaan disana?”
“gak ada apa-apa. Cuma mau jalan-jalan aja.”
“Ooo…” aku manggut-manggut aja walau masih gak ngerti.

Begitulah si Yumna. Sampe jalan-jalan aja kayaknya mesti ada nuansa “ngilmu”-nya. Fiiiiuu….so different with me. Aku malah lebih seneng di rumah. Kalo gak penting2 amat tuk pergi, mending masak-masak atau ngeleprak tiduran di lantai ruang tengah yang adem.

Suatu kali dia juga pernah bilang kalau terkadang dia minder sama si W yang subhanalloh pemahaman da’wahnya. Aku senyum aja waktu itu. iya Yum, kita juga minder sama pemahaman akademis kamu J

Yumna…Yumna…Ada-ada aja…

Sayang, sekarang Yumna udah balik ke Jember, bumi kelahirannya. Gundahnya sempat terbagi padaku waktu itu. Aku tau dia sangat ingin tetap berada di Jakarta. Ya bekerja, ya melanjutkan profesi dan S2 di UI… tapi ayah dan ibunya lebih menginginkan dirinya pulang. “Jaga adik-adikmu disini,” ujarnya ketika itu menirukan omongan sang Ibu.
Aku kembalikan semua pada dia, mana yang menurutnya lebih penting. Tapi menurutku menjaga dan mengarahkan adik-adiknya yang remaja dan beranjak dewasa itu jauh lebih penting. Pun merawat orangtua yang pastinya butuh bantuan kita. Namanya umur, siapa yang tau. Bekerja di Jember atau melanjutkan profesi dan S2 di UGM pun tak apa, justru lebih dekat ketimbang Jakarta. Gak kalah kok kualitasnya sama UI. Yang penting bagaimana kitanya, mau mengembangkan diri atau tidak. Dunia pun bisalah diakses dari internet. Tapi kukatakan, kalo mau subjektif, aku sih maunya Yumna tetap disini. Biar selalu ada teman diskusi akademis yang nyambung dan rajin mensupport pengerjaan skripsi. Hehe…

Akhrinya Yumna benar-benar kembali ke Jember. Padahal kita belum sempat ketemu lagi untuk berjabat tangan dan berpelukan terakhir kali. Hiks…Hiks…
Sejujurnya, aku sangat kehilangan. Bagiku, selama di kampus tidak ada yang idealisme akademisnya sepaham sama aku kecuali Yumna. Walau semangat saja tak cukup, setidaknya kami memiliki gairah yang sama dalam hal berbau akademis (kecuali kuliah yang sering aku kaburin). Dan tentu saja aku kehilangan sosok kawan sekaligus guru ilmiah seperti dia.

Well, apapun keputusanmu Yum, semoga itu yang terbaik dari Allah ya. Selamat tinggal dan selamat berjuang…

Yang selalu merindukanmu,
Indra Fathiana.