Sabar Itu Sulit

bismillah.

berada di antara sekian jiwa manusia, sungguh membutuhkan kesabaran yang luar biasa.
atau tidak perlulah sekian jiwa, tapi satu saja, antara suami-istri misalnya, pun membutuhkan samudera kesabaran tak terhingga.

aku sudah belajar tentang perilaku manusia.
tapi belajar saja tidak cukup.
bukankah ilmu yang tidak diamalkan serupa dengan pohon yang tak berbuah?

tapi beretorika masih saja lebih mudah ketimbang bergerak dan berdinamika.

aku memang sudah belajar tentang kesedihan mereka, gembira, amarah, atau apapun yang berkaitan dengannya. seharusnya aku sudah lebih mengerti. seharusnya aku bisa jauh lebih sabar. seharusnya aku juga mampu memahami mereka seutuhnya.

tapi ya Rohmaan…
sabar itu memang sulit.
luar biasa sulit.

seperti kemarin, dan sampai hari ini.
ada yang datang dan menunggu selama 2 jam, tapi orang yang ditunggu entah kemana.
ada yang suka berkata kasar, tapi seringkali ia tak sadar bahwa lisannya acap menoreh luka.
ada yang tidak merasa berbuat salah, padahal jelas-jelas ia membuat orang lain kecewa.

ah…
tidak baik “ngrasani” orang disini. tapi insya allah aku belajar. setidaknya tuk berevaluasi dan jadi lebih sabar.
tidak ada sikap terbaik selain sabar… sabar… dan sabar menghadapi sesama.
amarahnya. kecewanya. dukanya. nyebelinnya. semuanya.
pun menghadapi diri sendiri dengan berbagai sakit hatinya, marahnya, sedihnya, malasnya, maksiatnya, semuanya.

“robbanaa afrigh ‘alayna shobron… watsabbit aqdaamanaa… wanshurna ‘alal qoumil kaafiriin…”

~lagiNgejewerKupingSendiri~

Ujian Skripsi 1

bismillah.

ujian pertama datang…

ternyata, term kesejahteraan psikologis yang mau aku pakai untuk
dihubungkan sama sholat tahajjud kurang tepat…
soalnya, dimensi-dimensi psychological well being versi Mr. Ryff itu gak ada
yang nyambung sama ketenangan seperti yang dikatakan oleh Qur’an
dan penelitian yang ada.
huuk…
it means that i should search another construct!
lalala…
sementara seorang teman sudah melaju ke bab demi bab…
dan seorang lagi sudah akan sidang esok lusa…
huuuaa…
ayo indra!!! semangat!!!

~kalo ada yang tau konsep yg tepat, hubungi aku segera ya~

Militan

Bismillah.

Cerita 1
Hari baru menunjukkan pukul 9 pagi. Tapi sinar matahari begitu panas dan menyengat. Aku mengeluarkan payung agar tak kepanasan. Sampai di tempat tujuan, seorang teman mencibir, “Hari gini pake payung? Gak militan amat sih!”. aku cuma bisa terdiam.

Cerita 2
Seorang teman suatu waktu pulang malam karena harus kuliah di kelas ekstensi. Hujan deras mengguyur sementara ia tidak membawa payung. Di-smsnya seorang teman di kost-an agar mau mengantarkan payung ke kampus, supaya ia tak perlu menunggu hujan reda sementara malam semakin larut. Sms dikirim dan berbalas. “Afwan, Ukh. Gak ada yang bisa mengantarkan payung buat anti, terlalu jauh. Militan dikit ya, ukh!”. Temanku membalas sms itu. “Ooh…jadi kalau minta dianterin payung pas hujan deras, sama dengan gak militan ya? Subhaanalloh…”

***

Aku menggeleng-gelengkan kepala mengalami kedua kasus di atas.
Benar-benar tak habis pikir…
Apakah memakai payung saat panas matahari menyengat demi melindungi kulit wajah yang mudah terbakar sama dengan tidak militan?
Apakah memakai payung saat panas matahari menyengat demi melindungi badan supaya tak makin legam sama dengan tidak militant?
Apakah memakai payung saat hujan deras demi menjaga tubuh agar tak sakit sama dengan tidak militan?

Sekarang coba kita cek definisi militan.
Militan adalah ….
– “self-assertive” (ketegasan diri) dan memiliki semangat yang tak pernah henti, seolah ada di mana-mana (WordNet ® 1.6, © 1997 Princeton University)
– bersemangat tinggi, penuh gairah, dan berhaluan keras (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
– ketangguhan dalam berjuang (menghadapi kesulitan berperang) (
asiamaya.com/dictionary/militansi.htm)
– “engaged in warfare or combat” (disibukkan dalam peperangan atau pertempuran) à menunjukkan sikap yang agresif dan sangat aktif (MiriamWebster Dictionary)
– “active, determined and often willing to use force” (aktif, tekun, dan acapkali sudi untuk menggunakan kekuatannya) (Cambrige International Dictionary)

Sedikit banyak aku sepakat dengan definisi di atas.
Militan adalah semangat dan tangguh saat berjuang, serta mampu melewati rintangan tanpa banyak keluhan.
Tapi aku sama sekali tidak setuju ketika payungan di saat matahari menyengat panas atau ketika hujan mengguyur deras disamakan dengan sifat atau perilaku tidak militan.

Hujan dan panas mungkin rintangan yang harus ditaklukkan. Tapi menurutku, tubuh adalah asset dan amanah dari Allah yang harus dijaga kesehatannya. Dan caraku mengatasi rintangan itu adalah dengan mencari counter-nya, bukan memaksakan diri berpanas-panas atau menerobos hujan, meski sebagian orang menganggap itu tidak militan.
Justru aku menganggap perbuatan itu sebagai hal bodoh karena sama dengan menzholimi diri sendiri.
Kalau sudah sakit dan terbaring lemah gara-gara menerobos hujan, inikah yang disebut militan???!?!?!?

Skripsi, I’m Comiiingg…!

Bismillah.

Alhamdulillaahirobbil ‘alaamiin…
Akhirnya, tema skripsiku insya Allah sudah fix: “Perbedaan Kesejahteraan Psikologis pada Orang yang Melakukan Sholat Wajib dengan Orang yang Melakukan Sholat Wajib dan Sholat Sunnat Tahajud”.

Perjuangan untuk mem-fix-kan tema ini bisa dibilang gak mudah. Aku bolak-balik janjian sama Pak Hanna untuk ketemuan, tapi gak bisa2 karena beliau dah jarang banget ke kampus karena dah pensiun. (oya, Pak Hanna Djumhana itu dosen Psikologi yang juga pelopor Psikologi Islami di Psikologi UI. Beliau sangat memahami konsep2 islam dan qur’an yang berkaitan sama psikologi. Makanya, meski beliau sudah pensiun, aku kekeuh ngejar beliau tuk diskusikan tema ini…)

Nah, sekalinya udah mau ketemu, Pak Hanna membatalkan karena beliau sakit.
Akhirnya beliau memintaku datang ke rumahnya di Ciputat.
Terus, beliau minta aku membawa proposal skripsi yang mo aku ajukan.
Waks!!! aku belum buat sama sekali dan hari-H bertemu Pak Hanna tinggal 2 hari!
Abis aku pikir, aku baru akan mulai setelah beliau meng-acc bahwa penelitian ini realistis tuk dilakukan. Soalnya waktu aku diskusi sama Mbak Ratna (dosen Psikologi Sosial yang pernah bikin penelitian tentang Efek Dzikir pada psikologis orang), beliau meragukan tema ini karena terlalu banyak variable yang harus dikontrol).
Akhirnya demi ketemu sama Pak Hanna, 2 malam aku ngebut ngetik proposal sampe tidur cuma 3 jam setiap harinya!
Fiuuh…

Malam sebelum hari-H, temanku sms gak bisa nemenin karena mau ketemu sama pembimbing skripsinya. Maka terpaksalah aku pergi ke Ciputat sendirian tanpa tau jalan!

Untuk sampai ke Ciputat, aku harus ke terminal Lebak Bulus dulu.
Dari kampung melayu ternyata gak ada bis jurusan Lebak Bulus. So aku harus nyambung lewat Blok M (padahal sebenarnya aku bisa aja naik bus jurusan Blok M dari jalan raya by pass kebon nanas, jadinya aku muter2 deh ke kampung melayu dulu…)
kebayang gak sih, udah gak tau jalan, rutenya ternyata jauuuh… banggget! mana hari itu mataharinya nyengat banget… hosh…hosh…terasa banget deh dahaganya…

Janji jam 9 terpaksa molor dua setengah jam karena perjalanan yang sangat tak terduga jauhnya itu. Ku-sms Pak Hanna untuk minta maaf karena akan terlambat. untung Pak Hanna bisa memaklumi dan tetap mau membukakan pintu rumahnya buatku.

Sampe komplek dosen UI Ciputat, aku nanya ke satpam dimana letak rumah Pak Hanna. Setelah lelah nyasar dan melewati berbagai gang sambil berpanas-panas, akhirnya aku ketemu seorang ibu dan bertanya padanya.
God! rumah Pak Hanna ternyata tepat di depan rumah beliau yang udah aku lewatin berkali-kali! Oalaah…. -_-‘

Fiuu…sampe deh di rumah Pak Hanna…
Kami pun langsung berdiskusi tentang tema itu. Tadinya aku cuma pengen neliti kesejahteraan psikologis pada orang yang tahajud. I mean, aku pengen membuktikan bahwa sholat tahajud itu ada hubungannya dengan kesejahteraan psikologis. So, barangsiapa yang mau psikisnya sehat sejahtera, banyak-banyaklah sholat tahajud!

Tapi Pak Hanna bilang, kalo kamu neliti hubungan aja, maka akan berhenti sampai situ doang. Lalu beliau mengusulkan perbandingan antara orang yang sholat wajib dan sholat wajib plus tahajud. Dengan demikian, jika hasilnya kesejahteraan psikologis pada orag yang tahajud lebih tinggi dibandingkan yang sholat wajib thok, maka kelebihan sholat tahajud akan terbukti.

Tapi yang jelas, seperti yang Mbak Ratna katakan, penelitian ini cukup sulit karena ada banyak variable yang harus dikontrol. Bisa jadi hal yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis itu bukan tahajudnya, tapi kepribadiannya yang emang gak panikan, gak mudah cemas, problem2 hidup yang dihadapi tidak terlalu berat atau kompleks, dsb.
So, salah satu cara untuk mengontrol hal ini adalah aku musti cari alat tes yang
mengukur seberapa tinggi kecemasan seseorang. Abis itu, baru aku bisa mengumpulkan subjek penelitian dengan tingkat kecemasan yang sederajat.

Sejak pertama diskusi sama Mbak Ratna, sebenarnya aku agak-agak pesimis tema ini bisa goal. That’s why acc Pak Hanna menjadi sangat berarti buat langkahku selanjutnya. Kukatakan pada Pak Hanna, ini tema yang sangat idealis buatku. Sebab goal yang ingin kucapai adalah pembuktian bahwa tahajud bisa meningkatkan ketenangan, seperti yang Al Qur’an katakan dan banyak orang2 rasakan.

“Ya sudah! Lakukan!” ujar Pak Hanna. “Penelitian ini memang sulit. Tapi inilah jihadmu. Kalau terbukti hasilnya signifikan (bahwa kesejahteraan psikologis pada orang yang tahajud lebih tinggi daripada orang yang cuma sholat wajib aja –red), maka ini luar biasa…Lakukan. Ini jihad.”

Aku tersenyum dan mataku berbinar-binar. Mewujudkan idealisme memang tak mudah, tapi aku harus mencoba.

Lalu Pak Hanna break sholat Jumat dan aku menunggu di rumahnya sambil disuguhi beberapa buku islami. Setelah selesai, kami berdikusi lagi panjang lebar. Tentang literature, pembimbing skripsi yang beliau rekomendasikan, dan tentu saja, psikologi islami. Kapan lagi aku bisa berbincang sebebas ini dengan beliau, mengingat kesempatan itu sangat jarang?

Selama perbincangan kami, Pak Hanna mengeluarkan buku-buku koleksinya yang kira-kira relevan dengan temaku. Setelah kubaca sekilas, siap2 kucatat bahan yang bisa dimasukkan ke dalam pendahuluan atau landasan teori. Tapi beliau malah mengijinkan aku meminjam beberapa buku dan kubawa pulang. Waaaaa…..senangnyaaa….!!! ^_^

Setelah kurasa cukup, aku pun pamit pulang. Tapi sebelum itu beliau menunjuk satu buku miliknya. “Ini sudah dibaca?”ujarnya sambil meraih buku Islamic Chicken Soup for The Soul. “itu…Cuma sekilas…”jawabku. “Ini saya hadiahkan buat Indra,”kata beliau. Aku terbelalak sampai tergagap, “Bu…buat saya, Pak?”. “Iya. Ambil.” Waaaah….aku bener2 gak nyangka! “Makasih ya Pak!”. Dan aku pun pulang dengan hati riang.

Sejujurnya bukan buku itu yang bikin aku senang. Tapi sikap welcome dan kebaikan hati Pak Hanna itu yang bikin aku terharu. Betapa tidak! Aku baru saja mengenal beliau lebih dekat sekali itu, berbincang lama, tapi beliau sudah begitu baik…huhuu….

Big thanks for you, Sir.
Aku sudah bertekad akan berusaha melakukan penelitian ini dengan sungguh-sungguh sekuat tenaga. Penelitian yang bukan sekedar tugas akhir skripsi, tapi seperti katamu, inilah jihadku!

~Teman2, doakan aku ya…~

Dari Hati untuk Hati

bismillah.

Kubuka jendela pagi di udara yang letih
Deru keram nyanyian alam
Bersama berjuta wajah kuarungi mimpi hari
Halalkan segala cara untuk hidup ini

Nafsu jiwa yang membuncah menutupi mata hati
Seperti terlupa bahwa nafas kan terhenti…

Astaghfirulloh…
Astaghfirulloh…
Astaghfirullohal ‘azhiim..

Kubuka jendela pagi di udara yang letih
Dan basah pun menghampiri
Suara jerit hati kuingkari
Nafsu jiwa yang membuncah menutupi
Seperti terlupa bahwa nafas kan terhenti…

Laa ilaaha illa Anta
Yaa Hayyu Yaa Qoyyum
Subhaanalloh wa bihamdihi…
Subhaanallohil ‘azhiim…

Laa ilaaha illa Anta
Subhaanaka inni kuntu minazhzholimiin…

***
Kenal dengan bait-bait syair di atas?
Yup! Lirik itu adalah lagu “Astaghfirulloh”-nya Mas Opick.
Senandung yang akhir-akhir ini semakin gencar terdengar di telinga.
Tidak di tv, stasiun, tempat-tempat keramaian…
Setidaknya, Alhamdulillah.
Lagu2 bernafas islam sekarang makin marak dan laku keras di pasaran.
Tapi semoga bukan pas Romadhon doang…
Setidaknya, ya Allah… Alhamdulillah.
Daripada telinga ini terus-menerus diperdengarkan lagu2 dangdut macam “penonton…mari bergoyang bersama Inul…” -_-‘

Pertama dengar lagu Mas Opick ini, jujur hatiku berdesir.
Liriknya itu… coba perhatikan lagi…

Nafsu jiwa yang membuncah menutupi mata hati
Seperti terlupa bahwa nafas kan terhenti…

Seketika aku seperti baru saja disadarkan.
“Bangun, hey! Lo bakal mati, tau!”
huhuu…jadi inget sama dosa yang gak keitung…

entah apa yang membuat aku merasa begitu.
Komposisi musik pengiringnya yang cukup menghentak-kah?
Tidak juga.
Toh lagu religius yang Gigi nyanyikan tidak sepenuhnya membuat hatiku tunduk.
Entah apa.
Namun apapun namanya, lagu ini sudah membuatku merinding…
At least, mengingat mati. Seperti juga lirik berikut ini:

Karena mata, hati, tangan, kaki akan jadi saksi
Tiada dusta diri yang tak terhakimi
Luka, sepi, airmata tak berarti lagi
Akan terlambat segala sesal di waktu nanti

Nah, yang satu ini lebih lagi. Bisa-bisa aku menangis bermuhasabah dibuatnya…

Bagaimana kau merasa bangga
Akan dunia yang sementara
Bagaimanakah bila semua
Hilang dan pergi meninggalkan dirimu

Bagaimanakah bila saatnya
Waktu terhenti
Masih adakah jalan bagimu
Untuk kembali meninggalkan masa lalu

Dunia…
Dipenuhi dengan hiasan
Semua…
Dan sgala yang ada akan kembali pada-Nya

Bila waktu tlah memanggil
Teman sejati hanyalah amal
Bila waktu tlah terhenti
Teman sejati tinggallah sepi…

Hiks… Sarat makna, ya?
Apalagi permainan pianonya juga bagus…
jadi pengen bisa main piano kayak gitu… (lho?!?! Insightnya kok gini?!?!)

Seperti yang rekanku katakan, aku sepakat bahwa lagu yang dibawakan dari hati pasti akan sampai ke hati.
Sekarang coba perhatikan lirik yang ditulis oleh Taufik Ismail :

Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara dari mulut kita

Berkata tangan kita tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita kemana saja dia melangkahnya

Hmmmm…..jlebb…jlebb…jlebb gak sich?

Now, kita simak “Demi Masa”-nya Raihan:

Demi masa
Sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan yang beriman dan beramal sholeh

Gunakan kesempatan yang masih diberi
Moga kita takkan menyesal
Masa usia kita jangan disiakan
Karena ia takkan kembali

Raihan, berdasarkan penuturannya di media massa yang pernah kubaca, banyak merenung sebelum menuliskan lirik nasyid. Dan Subhaanalloh… lagi2 benar, bahwa lagu yang dibawakan dari hati pasti akan sampai ke hati!

Akhirnya, apresiasi setinggi2nya kuberikan pada Mas Opick, Raihan serta rekan2 lain yang telah memilih berda’wah lewat senandung. Semoga Allah melimpahkan rahmat atas hidayah yang Ia sampaikan lewat tangan-tangan kalian…

(Tapi kemudian aku mengangkat tangan diam-diam sambil berdoa…
Aku berlindung pada-Mu yaa Allah…agar tidak terlalai dari membaca ayat-ayat Qur’an-Mu,mendengarkan murottal dan of course mengamalkan ajaran-Mu, karena terlalu banyak mendengarkan lagu…
Hehe. Maaf ya. Bagaimanapun Al qur’an tetap harus didahulukan… n_n)

Ramadhan

bismillah.

Tlah datang menjelang
Meluruhkan kerinduan
Ramadhan
Sambut, kehadapan

Bulan perjuangan tingkatkan iman
Pupuk pengorbanan suci
bina kesungguhan bina keikhlasan
Berbekal takwa untuk kehidupan Ramadhan

Jadikan bulan suci cermin hati
Benahi hidup tuk Ilahi
Lepas belenggu dunia tuju ukhrowi
Sibak cakrawala imani
Puas membentang tak terhalang

Bulan suci cerminkan hati kan jelang
Arungi hidup masa datang
Rahmah ampunan cahaya abadi
Raih kebebasan hakiki
Dari pedih azab kekekalan

Kesebaran diraih penuh pengorbanan
Nafsu tunduk patuh terkendali
Keredhoan bukanlah suatu kemudahan
Capai gelaran kehormatan
Ambang arroyan di hadapan

Jadikan bulan suci cermin hati
Benahi hidup tuk ilahi
Lepas belenggu dunia tuju Ukhrowi
Sibak cakrawala imani
Puas membentang tak terhalang

Bulan suci cerminkan hati kan jelang
Arungi hidup masa datang
Rahmah ampunan cahaya abadi
Raih kebebasan hakiki
dari pedih azab kekekalan

Kesabaran diraih penuh pengorbanan
Nafsu tunduk patuh terkendali
Keredhoan bukanlah suatu kemudahan
Capai gelaran kehormatan
Ambang aroyan di hadapan

Hindarkan kesiaan kata dan perbuatan
Tinggikan hari dengan kesibukan Robani
Janganlah sampai keluar dengan tanpa hampa
Tiada hasil kecuali lapar dahaga

Ingatlah diri sang junjungan di bulan Rohmah
Tegakkan malam bertabur dzikir dan tilawah
Cerah hari hari bercahayakan
Indah menyinar ketakwaan

(Izzatul Islam)