Ijinkan kami…

bismillah.

ijinkan kami berdiri di sini
sekedar merasakan susah-payah-lelah-derita para dhuafa
yang sibuk mencari rupiah
entah dimana…

ijinkan kami sejenak disini
agar sungguh terpatri sakit hati dan kecewa mereka
yang mungkin tak mengerti mengapa hidup harus sesulit ini
beras mahal
minyak tanah menghilang
sementara balita-balita kurus bertanya
“ayah, ibu, hari ini kita makan apa?”

ijinkan..
biarkan kami disini…
agar meresap segala nestapa
melibas seraut topeng pura-pura
dan memaksa angkuhnya merasakan derita

ijinkan…
dan biarkan kami tetap disini…
walau tampak tak guna di mata
tapi setidaknya kami berusaha
menggedor pintu-pintu penguasa
agar zholimnya tak lagi bertahta.

~jelang aksi menyambut kenaikan BBM 1 Oktober 2005

Advertisements

Psikolog Boleh Milih2 Klien

Waktu kuliah psikoterapi sama Mbak Yati di semester lalu, aku baru saja menemukan kalimat di bawah ini dalam buku Pychotherapy part 3, Integration and Application..

“…they (Lazarus and his colleagues—red) also suggest a trend toward matching clients not only to specific treatment techniques but also to therapists’ interpersonal styles. What this means is that we will be better able to prescribe therapeutic relationships of choice for individual clients…” (pg. 450)

Wow… kaget banget aku. Ternyata psikolog itu bisa dan boleh memilih-milih kliennya ya?!
Tadinya aku berpikir, ini sangat tidak adil. Bukankah setiap orang yang bermasalah berhak mendapatkan bantuan kita? Bukankah profesi psikolog sama dengan dokter yang tidak boleh pandang bulu terhadap pasiennya?

Tapi kemudian Mbak Yati menjelaskan bahwa ketika ada hal-hal yang tidak cocok antara psikolog dan klien terkait kepribadiannya, maka bisa jadi itu justru akan menghambat proses terapi/konseling. Matching klien disini bukan hanya dengan teknik treatment yang tepat dan spesifik, tapi juga dengan tipe interpersonal terapisnya, seperti kata Lazarus di atas.

Sampai sini aku manggut-manggut. Aku jadi ingat, ketika salah seorang teman curhat, entah kenapa kok malah gak pernah beres. Padahal aku udah berapa kali mikir dan evaluasi, apa yang salah ya?

Ternyata emang kepribadianku sama kepribadiannya gak bisa nyambung. Aku keras dan dia juga keras. Jadi, ketika aku mulai gak sabar, dia malah makin defense. Mau digebrak-gebrak kayak apa juga, kalo orangnya emang gak insightful, susah banget buat disadarkan bahwa dia punya andil menimbulkan masalah. Tujuan terapi (mencari solusi atas masalah yang dicurhatin) akhirnya gak tercapai deh.

Sekali lagi, hal ini mungkin memang terkesan tidak adil. Logika bahwa profesi psikolog harusnya sama seperti dokter yang harus bersikap professional dengan tidak memilih-milih siapa pasiennya, ternyata gak sepenuhnya sama. Sebab ya itu tadi, kalaupun mau dipaksakan tanpa mempertimbangkan tipe kepribadian psikolog dan kliennya, bisa jadi tujuan terapi tidak tercapai dan mungkin akan menimbulkan mudharat yang lebih besar. Mungkin hal yang bisa dilakukan adalah menerima siapapun klien itu, dan kalau dirasa tidak cocok, bisa ditransfer ke psikolog lainnya yang lebih “match”.

Lagipula menurutku, perbedaan fundamental antara dokter dan psikolog adalah pada objeknya (kalo psikologi disebut subjek). Mungkin pasiennya sama-sama manusia, tapi yang ditangani seorang dokter adalah penyakit fisik yang gak ada hubungannya sama rasa hati dan jiwa. Kalau sakit, ya tinggal dikasih obat, dengan harapan semoga sembuh. Sedangkan psikolog, yang ditangani adalah psikisnya. Kalau salah treatment sedikit saja, implikasinya pada kejiwaan. Salah-salah orang datang ke psikolog bukannya psychically lebih baik, tapi malah makin stress. Dan bagiku, menyembuhkan orang stress itu lebih sulit dibanding ngobatin penyakit fisik.

Wah…wah…wah… jadi psikolog itu ternyata emang gak mudah… -_-‘

bismillah.

Allohumma baariklanaa
fii rojaba wa sya’ban…
wa ballighnaa romadhoon…
aaamiiin.
(Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rojab dan Sya’ban,
dan sampaikanlah kami pada bulan Romadhon…)

Isyhadu bi anna muslimun!

Ada seorang al akh yang begitu istiqomah menundukkan pandangannya tanpa pandang bulu. Ia berbicara pada wanita non mahram dengan menjaga pandangan sebisa mungkin : tidak menatap mata lawan bicaranya. Terhadap orang yang lebih tua, dosen, atau teman-teman wanita yang belum mengerti, ia sedikit memberikan “toleransi” : sesekali menengok ke wajah sang pembicara. Cibiran jelas ia terima disebabkan ketidaklaziman sikapnya. Dipergunjingkan, dianggap tidak menghargai lawan bicara, aneh, dan bahkan cap terlalu fanatik ia tuai. Tapi apakah itu semua membuat langkahnya surut ke belakang? Tidak. Sama sekali tidak. Ia tetap tersenyum menanggapi pertanyaan, nada sinis maupun teguran yang mungkin juga datang dari saudaranya sendiri yang telah sama-sama faham. “Hijab hati itu jauh lebih penting. Apa gunanya menundukkan pandangan, kalau hatinya kotor?”, kata mereka.

Tetapi pandangan adalah salah satu dari panah-panah Iblis. Dan mencegah masih lebih baik daripada mengobati.

Hasilnya? Lambat-laun orang-orang berhenti menggunjing dan mencapnya yang tidak-tidak. Setiap orang akhirnya mengerti, “oh, si Anu memang seperti itu bila berbicara dengan wanita yang bukan mahramnya,”. Dan mereka menghormatinya, menghargai sikapnya, dan bahkan menjadi segan terhadap beliau. Saudara-saudaranya yang lain pun mengacungkan jempol, salut dan meneladani akhlaqnya itu.

Di lain tempat, seorang al akh (ter)biasa melambaikan tangannya kepada teman-teman perempuannya. Bercanda berlebih dan bicara dengan jarak yang sangat dekat menjadi hal yang lumrah. Ghodhul bashor? Makanan apa tuh?!?!?!

Aku menelusuri jejak-jejak ingatan pada sosok al akh yang teguh itu, dan lantas membanding-bandingkannya dengan keadaanku serta medan jihadku saat ini.
Cukup satu kata: Astaghfirullah…

Seringkali aku, dan mungkin kita, mentolerir diri dan mengendurkan batas-batas syar’i di balik alasan, agar lebih mudah diterima lingkungan. Benar, sungguh mulia jika kita berusaha menampilkan wajah Islam yang ramah, tidak eksklusif, tidak kaku, dan sebagainya. Tapi haruskah dengan melunturkan sedikit demi sedikit adab yang seharusnya? Mengapa harus malu menunjukkan identitas? Toh ternyata telah terbukti, orang-orang yang belum paham justru akan menghargai prinsip yang kita pegang. Adalah suatu keniscayaan ketika kita harus menegaskan identitas kita sebagai seorang muslim (dengan idealisme al-akh—tambah seorang ikhwah). Seandainya pun manusia tidak ridho, tidak cukupkah keridhoan Allah di atas segalanya?

yaa muqollibal quluub… tsabbit qolbii ‘alaa diinik…

~YangMasihBelajarMenegakkanIdentitas.

Untuk seorang saudara nun jauh disana… keep istiqomah.