Cinta Terkembang Jadi Kata

oleh Anis Matta

Selalu begitu. Cinta selalu membutuhkan kata. Tidak seperti perasaan-perasaan lain, cinta lebih membutuhkan kata lebih dari apapun. Maka ketika cinta terkembang dalam jiwa, tiba-tiba kita merasakan sebuah dorongan yang tak terbendung untuk menyatakannya. Sorot mata takkan sanggup menyatakan semuanya.

Tidak mungkin memang. Dua bola mata kita terlalu kecil untuk mewakili semua makna yang membuncah di laut jiwa saat badai cinta dating. Mata hanya sanggup menyampaikan sinyal pesan bahwa ada badai di laut jiwa. Hanya itu. Sebab cinta adalah gelombang makna-makna yang menggores langit hati, maka jadilah pelangi; goresannya kuat, warnanya terang, paduannya rumit, tapi semuanya nyata. Indah.

Itu sebabnya ada surat cinta. Ada cerita cinta. Ada puisi cinta. Ada lagu cinta. Semuanya adalah kata. Walaupun tidak semua kata mampu mewakili gelombang makna-makna cinta, tapi badai itu harus diberi kanal; biar dia mengalir sampai jauh. Cinta membuat makna-makna itu jadi jauh lebih nyata dalam rekaman jiwa kita. Bukan hanya itu. Cinta bahkan menyadarkan kita pada wujud-wujud lain di sekitar kita; langit, laut, gunung, padang rumput, tepi pantai, gelombang, purnama, matahari, senja, gelap malam, cerah pagi, taman bunga, burung-burung… tiba-tiba semua punya arti… tiba-tiba semua wujud itu masuk ke dalam kesadaran kita… Tiba-tiba semua wujud itu menjadi bagian dari kehidupan kita… Tiba-tiba semua wujud menjadi kata yang setia menjelaskan perasaan-perasaan kita… Tiba-tiba semua wujud itu berubah menjadi metafora-metafora yang memvisualkan makna-makna cinta. Itu sebabnya para pencinta selalu berubah menjadi sastarawan atau penyair atau penyanyi…atau setidak-tidaknya menyukai karya para sastrawan, menyukai puisi, atau mau belajar melantunkan lagu.
Bukan karena ia percaya bahwa ia akan benar-benar menjadi sastrawan atau penyair atau penyanyi yang berbakat… tapi semata-mata ia tidak kuat menahan gelombang makna-makna cinta.

Cinta membuat jiwa kita menjadi halus dan lembut… maka semua yang lahir dari ketulusan dan kelembutan itu adalah juga makna-makna yang halus dan lembut… hanya katalah yang dapat mengurainya, menjamahnya perlahan-lahan sampai ia tampak terang dalam imaji kita.
Puisi “Aku Ingin”-nya Sapardi Djoko Damono mungkin bisa jadi sebuah contoh bagaimana kata mengurai dan menjamah kata-kata itu….Apakah Sapardi sedang jatuh cinta? Saya tidak tahu! Tapi begini katanya:

Aku ingin mencintaimu
Dengan cara yang sederhana
Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu
Dengan cara yang sederhana
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


~hmmm…. so sweet…

Advertisements

Aksi Pendidikan

bismillah.

PERNYATAAN SIKAP BEM UI

Terkait dengan semakin mahalnya biaya pendidikan nasional,
dan adanya indikasi penyimpangan
dalam penyelenggaraan pendidikan,
serta kurangnya perhatian dari pemerintah kepada pendidikan,
maka kami, Badan Eksekutif Mahasiswa
Universitas Indonesia (BEM UI) menyatakan :
– Menuntut adanya transparansi penggunaan
dana pendidikan kepada para penyelenggara pendidikan
– Menuntut pemerintah untuk lebih memperhatikan dan mengutamakan pendidikan
– Menghimbau kepada segenap elemen masyarakat agar saling bahu-membahu memajukan pendidikan nasional, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap pendidikan.

Demikian pernyataan sikap ini kami buat,
untuk selanjutnya kita sikapi bersama,
demi kemajuan pendidikan nasional yang merupakan
modal kemajuan bangsa.

Salam Perjuangan…

BEM UI 2005/2006
“Sinergis & Berkontribusi”

Guru Kehidupan

Oleh : KH.Rahmat Abdullah

Ada murid dapat belajar hanya dari guru yang ber-SK, disuapi ilmu dan
didikte habis-habisan. Ada yang cukup belajar dari katak yang melompat atau
angin yang berhembus pelan lalu berubah menjadi badai yang
memporakporandakan kota dan desa.

Ada yang belajar dari apel yang jatuh disamping bulan yang menggantung di langit tanpa tangkai itu.
Ada guru yang banyak berkata tanpa berbuat.
Ada yang lebih pandai berbuat daripada berkata.
Ada yang memadukan kata dan perbuatan.

Yang istimewa diantara mereka,
bila melihatnya engkau langsung ingat Allah, ucapannya akan
menambah amalmu dan amalnya membuatmu semakin cinta akhirat

(khiyarukum man dzakkarakum billahi ru’yatuh wa zada fi’amalikum mantiquh wa
raggahabakum fil akhirati ‘amaluh)”

Yang tak dapat belajar dari guru alam dan dinamika lingkungannya, sangat
tak berpotensi belajar dari guru manusia. Yang tak dapat mengambil ibrah
dari pelajaran orang lain, harus mengambilnya dari pengalaman sendiri, dan
untuk itu ia harus membayar mahal.

Bani Israil bergurukan nabi Musa As, salah satu Ulul Azmi para rasul dengan azam berdosis tinggi. Bahkan leluhur mereka nabi-nabi yang dikirim silih berganti.
Apa yang kurang?
Ibarat meniup tungku, bila masih ada api di bara, kayu bakar itu akan menyala,
tetapi apa yang kau hasilkan dari tumpukan abu dapur tanpa setitik api,
selain kotoran yang memenuhi wajahmu?

Murid-murid Bebal

Berbicara seputar orang-orang degil, berarti menimbun begitu banyak
kata seharusnya.

Seharusnya Bani Israil berjuang sepenuh jiwa dan raga,
bukan malah mengatakan: “Hai Musa, kami telah disakiti sebelum engkau datang
dan setelah engkau datang,” (QS.7:129), karena sesungguhnya mereka tahu ia
benar-benar diutus Allah untuk memimpin mereka.

Seharusnya mereka tidak mengatakan: “Kami tak akan masuk kesana (Palestina), selama mereka masih ada disana, maka pergilah engkau dengan tuhanmu,
biar kami duduk-duduk disini,” (QS.5:24) karena berita tenggelamnya Fir’aun di lautan dan
selamatnya Bani Israil, adalah energi besar yang mampu meruntuhkan
semangat orang-orang Amalek yang m enduduki bumi suci yang dijanjikan itu.

Adapun yang ditenggelamkan itu Fir’aun, mitos sejarah yang tak terbayangkan
bisa jatuh. Kemudian seharusnya mereka yang dihukum karena sikap dan ucapan
dungu tadi, pasrah saja di padang Tih, dengan jatah catering Manna dan
Salwa serta tinggal beratapkan awan pelindung dari sengatan terik matahari.

Ternyata mereka mengulangi lagi kedegilan lama mereka.
“Hai Musa, kami tak bakalan sabaran dengan jenis makanan monotype, cuma semacam ini,
karenanya berdoalah engkau kepada tuhanmu untuk kami, agar ia keluarkan untuk
kami tumbuhan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang puihnya,
kacang adasnya dan bawang merahnya.” (QS.2:61)

Betul, manusia memerlukan guru manusia, tetapi apa yang dapat
dilihatnya diterik siang di bawah sorotan lampu ribuat watt, bila matanya ditutup
rapat?
Tarbiyah dzatiyah atau pendidikan mandiri untuk menguasai mata
kuliah kehidupan sangat besar perannya. Sebuah bangsa yang sudah
“merdeka” 54 tahun, namun tak peduli bagaimana menghemat cadangan energi, tak
tahu bagaimana membuang sampah, ringan tangan membakar hutan dan me-WC-kan
sungai-sungai kota mereka, tentulah bukan bangsa yang pandai mendidik
diri.

Sebuah bangsa yang tergopoh-gopoh ikutan kampanye anti AIDS, dengan
hanya menekankan aspek seks aman (dunia) saja tanpa mengingat murka Allah,
tentulah bangsa itu belum kunjung dewasa.

Bila diingat 6 dari 10 anak-anak mereka terancam flek paru-paru, lengkap sudah kebebalan itu.

Nurani yang Selalu Bergetar

Konon, Imam Syafi’ie ra sangat malu dan menyesal bila sampai ada orang
mengutarakan hajat kepadanya.

“Mestinya aku telah menangkap gejala itu cukup dari kilas wajahnya.”

Mereka yang akrab dengan arus batin manusia, mestinya selalu dapat
menangkap isyarat muqabalah (oposit) makna ayat 2:273, “Engkau kenal
mereka dengan ciri mereka, tak pernah meminta kepada manusia dengan mendesak.”
Sementara yang bukan “engkau” tak dapat membaca gelagat ini:
“Si jahil mengira mereka itu kaya, lantaran mereka berusaha menjaga diri.”

Mereka yang berhasil dalam tarbiyah dzatiyah akan tampil sebagai
manusia yang jujur, ikhlas dan merdeka. Karenanya, “Hindarilah bergincu dengan
ilmu sebagaimana engkau menghindari ujub (kagum diri) dengan amal.
Jangan pula engkau meyakini bahwa aspek batin dari adab dapat diruntuhkan oleh sisi
zahir dari ilmu. Taatilah Allah dalam menentang manusia dan jangan
taati manusia dalam menentang Allah.

Jangan simpan sediktipun potensimu dari Allah dan jangan restui suatu amal kepada Allah yang bersumber dari nafsumu. Berdirilah dihadapan-Nya dalam shalatmu secara total.”
(Almuhasibi, Risalatu’lmustarsyidin).

Akhirnya, semakin jauh perjalanan tarbiyah dzatiyahnya, semakin banyak
kekayaan yang diraihnya. Ungkapan berikut ini tidak ada kaitannya
dengan bid’ah atau khilafiyah fiqh. Ia lebih mewakili ibrah agar kita tak
terjebak pada aktifitas formal atau sebaliknya.

“Pada aspek zahir ada janabah yang menghalangimu masuk rumah-Nya atau
membaca kitab-Nya, dan aspek batin juga punya janabah yang
menghalangimu memasuki hadhirat keagungan-Nya dan memahami firman-Nya. Itulah ghaflah
(kelalaian)” (Ibnu Atha’illah, Taju’l Arus).

Hakikat Kematangan Ilmu

Kembali ke kematangan pribadi dan keberhasilan tarbiyah dzatiyah,
seseorang tak diukur berdasarkan kekayaan hafalannya atau keluasan
pengetahuannya, tetapi pada kemampuannya memfungsikan bashirahnya:
“Perumpamaan orang yang aktif dalam dunia ilmu namun tak punya
bashirah, seperti 100.000 orang buta berjalan dengan kebingungan.

Seandainya ada satu saja di tengah mereka yang dapat melihat walau
hanya dengan satu mata, niscaya masyarakat hanya mau mengikuti yang satu ini dan meninggalkan yang 100.000″.

Rasulullah SAW meredakan kemarahan para sahabat yang sangat tersinggung
kepada seorang pemuda yang minta izin kepada beliau untuk tetap bisa berzina.
“Engkau rela ibumu dizinai orang?” tanya beliau dengan bijak.
“Demi Allah, saya tidak rela!”

“Relakah engkau jika anak perempuanmu, saudara perempuanmu dan isterimu dizinai orang?”
“Tidak, demi Allah!”
“Nah, demikianlah masyarakat….”

Demikianlah, amtsal merupakan metode pencerahan yang digunakan
Al-Qur’an dan Al-Hadist, bahkan dengan kata kunci yang patut dicermati:
“….Tak dapat memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu” (29:43).
Citarasa yang tinggi dibangun dan sensitifitas dipertajam, mengantarkan manusia
kepada puncak pencerahan ruhani mereka.


Sebuah ungkapan kedewasaan pun “Semua manusia dari Adam dan Adam dari tanah,
tak ada perbedaan antara Arab atas Ajam dan Ajam atas Arab melainkan dngan taqwa.”
Itulah zaman, saat sejarah tak lagi dimonopoli raja, puteri dan pangeran, tetapi menjadi hak
bersama yang melambungkan nama Bilal budak hitam abadi dalam adzan,

atau Zaid menjadi satu-satunya nama sahabat dalam Al-Qur’an.
Demikianlah kemudian kita kenal Ammar, Sumayyah dan banyak lagi budak
yang melampaui prestasi dan prestise para bangsawan.
Padahal 13 abad kemudian pun Eropa masih mempertanyakan perempuan makhluk apa.
Dan, para intelektualnya sampai pada kesimpulan,
“Mereka adalah iblis yang ditampilkan dalam tampilan manusia.”

Justru Muhammad SAW telah memberi standar “Takkan memuliakan perempuan
kecuali seorang mulia dan takkan menghinakan mereka kecuali manusia
hina”.

Sementara para perempuannya seperti dilukiskan puteri Sa’id bin Musayyab:
“Kami memperlakukan suami seperti kalian memperlakukan para pemimpin,
kami ucapkan: “Ashlahakallah, hayyakallah!”

(Semoga Allah memperbaiki/melindungimu, semoga Allah memuliakanmu).”

Stop KDRT!


bismillah.

Dra. Dharmayati Utoyo Lubis, Phd, dekan sekaligus dosenku yang akrab dipanggil Mbak Yati, membagi sedikit pengalamannya ketika kuliah Psikoterapi. Saat itu kami sedang membahas An Integrative Perspective dan beliau bercerita tentang kliennya yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Sang klien adalah seorang dokter wanita berusia 30 tahunan, telah berumah tangga selama 18 tahun dan telah memiliki anak.

Awalnya, wanita ini menikah dengan pria pilihannya. Orangtuanya sebenarnya kurang sreg menikahkan putrinya dengan pria tersebut, namun akhirnya mereka menyerahkan urusan tersebut kepada putri mereka. Satu tahun menikah, tidak ada masalah berarti. Dua tahun kemudian, suaminya mulai sering memukul dan sangat membatasi aktivitas sang dokter. Memang sejak mereka pacaran, pria ini bisa dikatakan cukup possessive. Ia tidak senang ketika tahu si wanita meminta tolong apapun kepada orang lain. “Kan ada saya, kenapa harus dengan orang lain?”, kira-kira begitu ujarnya.

Sehari-hari dalam kehidupan mereka, suaminya seringkali memukuli dan mengata-ngatainya ketika ia tidak melakukan sesuatu dengan baik. Suaminya berkata bahwa inilah cara ia mendidik dan mengajari istrinya. Ia juga mengatakan bahwa ini semua untuk kebaikan istrinya juga. Sang dokter pun mencoba berpikir positif, mungkin ini ujiannya dalam berkeluarga. Apalagi setelah bertengkar pun suaminya terlihat menyesal dan meminta maaf, serta berjanji untuk tidak mengulangi lagi.

Hari-hari berjalan dan kekerasan demi kekerasan terus terjadi.
Namun wanita ini berusaha bersabar dan tidak menceritakannya kepada orang lain, termasuk keluarga dan orangtuanya sendiri. Mungkin ada sedikit rasa gengsi, karena toh dulu ia menikah dengan pria pilihannya sendiri. Ketika ditanya penyebab biru dan memar di badan dan kepalanya, ia berusaha menyembunyikan dan berkilah bahwa itu semua akibat terjatuh. Sampai kemudian adik iparnya (adik kandung suaminya) mengetahui dan bersama-sama anaknya meminta tolong kepada Mbak Yati untuk menangani masalah ini. Dan untuk kesekian kalinya wanita itu memohon agar masalah ini jangan sampai terdengar ke telinga keluarganya.

Mbak Yati pun tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menasehati wanita itu agar mau berontak ketika berhadapan dengan suaminya. Alasan yang membuat ia “bertahan” selama 18 tahun adalah karena setiap kali ia dipukul, suaminya selalu mengatakan bahwa hal ini adalah untuk mengajari dirinya dan untuk kebaikannya juga, sehingga ia menerima saja.

Ketika itu Mbak Yati bercerita bahwa ia sangat gemas menghadapi kasus ini dan berkata kepada kliennya, “Kamu itu dokter! Kamu itu cerdas dan seharusnya bisa membela diri ketika suami menyakiti kamu!”. Sayangnya, ia tentu tidak bisa mengintervensi kasus ini terlalu jauh dan hanya bisa memberikan masukan serta saran-saran kepada kliennya tersebut. Dan kami yang mendengarkannya pun hanya bisa menahan geram.

Namun karena kata-kata suaminya sudah demikian kuat mempengaruhi kognitif wanita ini, ia pun tetap “nrimo” ketika suaminya terus memukulinya : menbenturkan kepala istrinya ke tembok, ataupun perlakuan kasar secara fisik dan verbal lainnya.

Pernah suatu hari ketika malam takbiran, peristiwa itu terjadi. Keluarga besar istrinya sedang berkumpul di rumahnya dan ia kembali mengalami perlakuan kasar sang suami. Dibawanya sang istri ke kamar mandi, dan dinyalakannya air keran serta kaset rekaman suara takbir sekencang-kencangnya. Lalu istrinya dipukuli habis-habisan, lagi-lagi dengan alasan, beginilah caranya mendidik sang istri karena ia memang harus diajari!

Sebulan lamanya sang klien tidak muncul ke tempat Mbak Yati, dan Mbak Yati mulai cemas. Adakah sang wanita tetap menderita disana, ataukah ia sudah baik-baik saja?

Akhirnya ia lega. Dokter wanita yang tegar itu datang mengucapkan terima kasih dan memberitahukan bahwa ia tengah mengurus gugatan cerai dengan suaminya di pengadilan. Akhirnya ia sadar dan berani berkata tidak terhadap perlakuan suaminya, lalu dengan kesadaran penuh ia mengambil keputusan itu.

***

Mungkin ada banyak kasus serupa, bahkan lebih parah, yang menimpa ratusan wanita di luar sana. Haruskah membuat perjanjian bermaterai saat menikah, yang berisi ketentuan untuk tidak menyakiti istri dalam bentuk apapun, sebagaimana dilakukan Rieke Diah Pitaloka beberapa waktu lalu? 😦

“Tidaklah memuliakan wanita kecuali orang yang mulia, dan tidaklah menghinakan wanita, kecuali ia orang yang hina pula.”
(hadits Rasulullah saw, -gak tau shahih apa enggak-)