Kenalin…Saudara/i Baruku BPH BEM UI ’05-’06

bismillah..

dari blognya nuyi nih…

dari kiri ke kanan, atas: angga fkm, adi fauzan fisip, victa fkm, indah fmipa, anisa a.k.a. icha fik, yuwanita a.k.a yuwa fisip, indra fpsikologi, nuri a.k.a nuy fpsikologi, fachri fhukum, purwa udiotomo a.k.a purwo fteknikbawah: yusuf a.k.a ucup fmipa, iwan a.k.a ustadz fmipa, azman fteknik, oskar a.k.a ocha fekonomi, suryana a.k.a bang sur/ucha/cuya fteknik


angga: staf ahli kemahasiswaan, adi fauzan: korbid poltik, sosial, kemasyarakatan, victa:staf ahli pendidikan, indah:kabiro danus, icha:kabiro kestari, yuwa: kabiro pengabdian masyarakat(pengmas), indra:bendum, nuy:kabiro human resource and organization development center (hro-dc), fachri: staf ahli hukum, purwo: sekum, ucup:kabid sosial politik (sospol), iwan:kabid advokasi dan kesejahteraan mahasiswa (adkesma), azman: ketua bem, ocha:staf ahli ekonomi, cuya:korbid kemahasiswaan…yang ngga ada di foto: wandi (koord.staf ahli), adri a.k.a q-bho (humas), dayat (kabid. kreasi dan edukasi mahasiswa)…


deskripsi karakter (versi nuy and indra ^_^) :

angga: gaul ‘n kebapakan, kadang2 sangat emosional, panikan, suaranya gede kayak geledek, doyan becanda.

adi fauzan: ceplas-ceplos kayak orang betawi, sensitif juga, suka ngasal, lucu… the winner of piala oscar dalam drama simulasi tender okk.. (hehe…puas banget gw bisa bentak2 adi waktu itu…)

victa: lucu, suka cengar-cengir, tapi galak, kayak kucing… rajin, care, tapi suka ga mau kalah, satu2nya staf ahli yang paling cantik (ya iyalah.. orang yg lainnya cowok semua…)

indah: straight 2 d’point, profesional, perfeksionis, hard-worker , insting danusnya sangat peka, pejuang danus yang tangguh dan berpengalaman.

icha: putri solo, kongkrit dan tegas, polossss… ibu rumah tangga banget deh. pas banget jadi kabiro kestarinya bem! ingat cha, jangan mau diperintah2 sama purwo!

indra: suka ilang dan suka dicariin, tiada kata boros dalam perjuangan (maklum…bendum), rapih, pandai menulis, galak kalo udah masalah duit…uhuhuhu . hmm…. no comment-lah. tapi katanya purwo, indra itu adalah orang yang mukanya paling enak buat dizholimi. parah kan??????

nuy: inspirator, provokator, lady aristokrat (begitu yg dia tulis di bolgnya sendiri), agak berantakan (kontras banget ama indra-lah pokoknya), insomnia (masih ga sih, nuy?), doyan ke video ezy buat nyewa film, ‘feminist’ yang sangat mendambakan seorang bayi… (huhuhu….)

fachri: lucu, cupu, suka musik2 tradisional, kayak mojacko, pintar berkelit (maklum anak hukum…), habib-nya bem, suka bersenandung gak jelas, dan cukup berisi ^_^

purwo: penolong, cupu sekaligus lucu, ngayom, kadang2 careless tapi bisa berkorban juga, tong sampah!! tukang nyela, nyolot, cerewet…wet…wet…, bawel, de el el.

ucup: diem tapi (katanya) jago orasi, ngintrik, kadang2 penolong, kadang2 malesss, ngga tegaan, rela berkorban buat aksi (hehe…piss, pak. duitnya saya ganti kapan2 aja yak?)

iwan: lurus kayak jalan tol, kalem, kebapakan, rapih, kongkrit dan tak banyak cakap, target bakal diracuni anak2 (ya tapi gitu2 suka nyela2 juga… apa udah tershibghoh anak2 ya, ustadz?)

azman: gagah, polos, lugu, pandai berkata2 layaknya birokrat, punya beberapa koleksi baju batik yang bagus, rada2 careless, tapi kalo lagi fokus kongkrit abisss… tegas, komit, dan agak puitis (jzk sms taushiyahnya.. bagus lho…)

ocha: fokus, ambisius, penolong, suka kadang2, tegas, ekonom berbakat, dan kalo udah ngomongin peraturan keuangan, tidak ada kata kasihan.

cuya: tua, ngebanyol, betawi abiss padahal bukan, anaknya asik…kayak bapak2 tapi berjiwa muda… (eh, sur, waktu pertama kali liat, kukira dikau angkatan 99an lho…maap yak!)

Posted at 09:31 pm by nuy_the_haidar

Mari, Berhenti Sejenak…

Kematian Hati
oleh: Alm. KH. Rahmat Abdullah

Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya.
Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih.
Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi.
Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya.
Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama.
Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan.
Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.
Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu.
Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan.
Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap
ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam,
lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.
Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur,
sementara dalam hatimu tak ada apa-apa.
Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih.
Bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid,
lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.

Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang.
“Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka.
Janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka”, ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana,
lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi.
Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak.
Ada juga orang yang sama sekali tak pernah beramal tetapi merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal karena kekurangan atau ketidaksesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang. Mereka telah menukar kerja dengan kata.

Dimana kau letakkan dirimu ?
Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing.
begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar.
Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.

Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu
sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma’siat menggodamu dan engkau meni’matinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan.
Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi.
Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia ?

Di luar sana rasa malu tak punya harga.
Mereka jual diri secara terbuka lewat layar kaca, sampul majalah,
atau bahkan melalui penawaran langsung.
Ini potret negerimu: 228.000 remaja mengidap putau.
Dari 1500 responden usia SMP & SMU, 25 % mengaku telah berzina dan hampir separohnya setuju remaja berhubungan seks di luar nikah asal jangan dengan perkosaan.

Mungkin engkau mulai berfikir “Jamaklah, bila aku main mata dengan aktifis perempuan bila engkau laki-laki atau sebaliknya di celah-celah rapat atau berdialog dalam jarak sangat dekat atau bertelepon dengan menambah waktu yang tak diperlukan
sekedar melepas kejenuhan dengan canda jarak jauh”.
Betapa jamaknya ‘dosa-2 kecil’ itu dalam hatimu.

Kemana getarannya yang gelisah dan terluka dulu,
saat ‘TV Thaghut’menyiarkan segala ‘kesombongan jahiliyah dan maksiat’ ?
Saat engkau muntah melihat laki-laki (banci) berpakaian perempuan,
karena kau sangat mendukung ustadzmu yang mengatakan,
“Jika ALLAH melaknat laki-laki berbusana perempuan dan perempuan berpakaian laki-laki, apa tertawa riang menonton akting mereka tidak dilaknat ?”
Ataukah taqwa berlaku saat berkumpul bersama, lalu yang berteriak paling lantang
“Ini tidak islami” berarti ia paling islami.
Sesudah itu urusan tinggallah antara engkau dengan dirimu, tak ada ALLAH disana ?

Sekarang kau telah jadi kader hebat.
Tidak lagi malu-malu tampil.
Justru engkau akan dihadang tantangan sangat malu untuk menahan
tanganmu dari jabatan tangan lembut lawan jenismu yang muda dan segar.
Hati yang berbunga-bunga didepan ribuan massa.
Semua gerak harus ditakar dan jadilah pertimbanganmu tergadai pada
kesukaan atau kebencian orang, walaupun harus mengorbankan nilai terbaik
yang kau miliki.

Lupakah engkau, jika bidikanmu ke sasaran tembak meleset 1 milimeter,
maka pada jarak 300 meter dia tidak melenceng 1 milimeter lagi ?
Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, sedikit banyak karena para elitenya
telah salah melangkah lebih dulu.

Siapa yang mau menghormati ummat yang “kiayi”nya membayar beberapa ratus ribu
kepada seorang perempuan yang beberapa menit sebelumnya
ia setubuhi di sebuah kamar hotel berbintang.
Lalu dengan enteng mengatakan,
“Itu maharku, ALLAH waliku dan malaikat itu saksiku”,
dan sesudah itu segalanya selesai.
Berlalu tanpa rasa bersalah?

Siapa yang akan memandang ummat yang da’inya berpose lekat
dengan seorang perempuan muda artis penyanyi lalu mengatakan,
“Ini anakku, karena kedudukan guru dalam Islam adalah ayah,
bahkan lebih dekat daripada ayah kandung dan ayah mertua”.
Akankah engkau juga menambah barisan kebingungan ummat
lalu mendaftar diri sebagai ‘alimullisan (alim di lidah)?
Apa kau fikir sesudah semua kedangkalan ini kau masih aman dari
kemungkinan jatuh ke lembah yang sama?

Apa beda seorang remaja yang menzinahi teman sekolahnya
dengan seorang alim yang merayu rekan perempuan dalam aktifitas da’wahnya?
Akankah kauandalkan penghormatan masyarakat awam karena statusmu
lalu kau serang maksiat mereka yang semakin tersudut oleh retorikamu yang menyihir?
Bila demikian, koruptor macam apa engkau ini?

Pernah kau lihat sepasang mami dan papi dengan anak remaja mereka.
Tengoklah langkah mereka di mall.
Betapa besar sumbangan mereka kepada modernisasi dengan banyak-banyak
mengkonsumsi produk junk food, semata-mata karena nuansa “westernnya”.
Engkau akan menjadi faqih pendebat yang tangguh saat engkau tenggak minuman halal itu, dengan perasaan “Lihatlah, betapa Amerikanya aku”.
Memang, soalnya bukan Amerika atau bukan Amerika,
melainkan apakah engkau punya harga diri.


~Astaghfirullah… ~

Orang Baik

Oleh: Zaim Uchrowi

Seorang baik seringkali hanya kita sadari keberadaannya saat maut telah menjemput. Mereka umumnya bukan orang-orang panggung. Bukan pula orang yang biasa disanjung-sanjung.

Dalam keseharian, mereka seperti tak berbeda dengan orang-orang kebanyakan. Padahal, mereka sungguh pribadi berbeda, yang nama baik dan auranya justru memancar deras setelah jasadnya dikuburkan.Dalam dua pekan ini, empat orang baik meninggal dunia. Mereka Ustadz Rahmat Abdullah, Eki Syachruddin, Saleh Afiff, dan Roeslan Abdulgani. Saya, alhamdulillah, sempat bertakziah dan shalat jenazah untuk tiga orang di antaranya selain Roeslan Abdulgani sang tokoh sejarah.

Saya bersyukur berkesempatan melihat wajah-wajah yang begitu damai, yang tak hanya seperti berada di puncak kelelapannya namun juga”bercahaya”.Wajah demikian yang tampak pada jasad Ustadz Rahmat Abdullah, yang saya menyesal tak berkesempatan mengenalnya langsung semasa ia masih punya hayat.

Sebagian orang menuliskan namanya KH atau ”kiaihaji”. Tapi, ia lebih tepat disebut ustadz karena ia memang sebenar-benar ustadz. Ia telah memilih jalan dakwah sebagai jalan hidupnya. Murid kesayangan KH Abdullah Syafii ini bukan saja memiliki kedalaman ilmu agama. Ia juga memiliki kegairahan dan cinta. Sejak muda ia telah aktif berdakwah. Langkah dakwahnya lebih intensif lagi seperempat abad silam. Ia telah melangkahkan kaki ke mana-mana dengan biaya sendiri untuk mengajak orang-orang ke jalan dakwah. Ia selalu tampak bergairah dan menggembirakan orang yang bersua dengannya.

Pada murid-muridnya, ia bukan hanya memberi ilmu. Ia juga memberi cinta. Caranya melayani istri, anak-anak, kerabat, serta sahabat acap menjadi percakapan orang, sekalipun ia tak pernah mengisahkan hal itu. Hingga akhir hayatnya, ia tetap seorang yang bersahaja. Ketika orang lain berebut kursi DPR, ia berulang kali mendesak kawan-kawannya separtai agar dirinya dibebaskan dari tugas di DPR. Ia mengaku tidak cocok di DPR, dan ingin fokus ke jalan dakwah. Ia begitu mencintai dakwah sebagai wujud cintanya pada Sang Pemilik Cinta.

Tepat di usia yang sama dengan Rasulullah SAW saat berhijrah, sekitar 52 tahun,Ustadz Rahmat pun dihijrahkan Allah SWT kepangkuan-Nya.
Di saat itulah cinta yang telah ia tebarkan pun mampu menggerakkan ribuan orang untuk datang melayatnya.Ribuan orang itu gelombang demi gelombang menyalatkan jenazahnya yang disemayamkan di ruang sekolah yang dibangunnya, menjadi sebuah prosesi penghormatan kematian terindah yang pernah saya saksikan.

Eki Syachruddin adalah sosok baik lainnya. Sejak 1960-an ia telah aktif di berbagai kegiatan kebangsaan dan kemasyarakatan. Ia seorang humoris seperti UstadzRahmat, serta punya sangat banyak kawan lintas kalangan. Namun, Eki tetap seorang bersahaja. Ia lebih suka mengorbitkan kawan-kawannya ketimbang dirinya sendiri. Sukses menjadi dubes di negara besar, Kanada, Eki tetaplah seorang kasual. Pulang ke Jakarta, ia kembali ke rumahnya yang sederhana di sebuah jalan sempit di kawasan Slipi. Kini, Eki telah pergi sebagai seorang yang bahagia.

Orang baik lainnya adalah Saleh Afiff. Ia menteri yang sangat dipercaya membantu Soeharto menjalankan pemerintahan Orde Baru dahulu. Jika mau, ia bisa kaya raya serta bergaya jumawa seperti birokrat pada umumnya. Tapi, ia tidak begitu. Meskipun memegang kuasa, ia tetap guru besar yang sederhana. Setelah pensiun, ia menikmati hari tuanya bersama istri dan seorang anaknya tanpa satu pun pembantu rumah tangga di rumahnya. Kematiannya telah membuat teman-teman lamanya teringat kembali atas perselisihannya dengan Soeharto setelah ia menolak mendukung proyek mobil Timor yang diajukanTommy. Sama seperti Ustadz Rahmat dan Eki, Allah telah memberikan jalan kematian yang indah bagi Saleh Afiff: Tak perlu berlama-lama menanggung rasa sakit, koma, dan segera menghembuskan napas terakhirnya.

Mereka semua hanya sebagian dari orang baik di Indonesia. Saya percaya, masih sangat banyak orang baik yang ada di negeri ini. Keberadaan mereka semua menjadi jaminan bangsa kita untuk kian berjaya. Kita sering tidak menyadari keberadaan mereka sampai maut datang menjemputnya.