Yang Terbaik Bagimu


Teringat masa kecilku
kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu buatku melambung
Disisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu

Kau inginku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu jauhkan godaan
Yang mungkin ku lakukan dalam waktu ku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayahdengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu

Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Ku rindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati

(ADA Band – Yang Terbaik Bagimu-Jangan Lupakan Ayah)

when the 1st time i heard this song, aku cuma mendengarnya sepintas lalu. terdengar suara cowok-cewek nyanyi…. dan…. ah, palingan juga lagu cinta…
tapi kali kedua mendengarnya dari senandung kecil temanku, aku mulai pasang kuping baik2. “eh…eh…itu lagunya sapa sih?”

the 3rd one dari kamar mas-ku… “waa….musiknya enak..!”
dan begitu aku menyimak liriknya dengan sangat baik, what a great song, sodara-sodara!

lagu ini bagus. menurutku lho ya. kalo yg laen complain, that’s your choice. gak maksa ^_^


aku biasa meresapi sebuah lagu dari liriknya. kalau liriknya bagus (=memiliki makna yg dalam), maka aku akan menyukai lagu itu. terlepas dari barat-indo-pop-nasyid, whatever-lah… sebut aja Hero-nya Mariah Carey, u raise me up-nya…. saha etaaa… lupa… trus stay the same-nya Joe (apa Joey?!) McEntyre… nasyid2 Raihan… (yg ini daleemm…), Ramadhan-nya Izis, and so on…

lagu ini… aku suka aja. ya nadanya, ya liriknya. ringan, enak didengar, tapi maknanya dalam. gak kacangan. dan bait demi baitnya membuatku menerawang pada sesosok manusia bernama : ayah.

dulu… duluuuuu…banget.. jaman masih TK dan SD, tiap pekan aku pasti nongkrong di Gramedia matraman sama bapakku. ngapain lagi kalo bukan baca buku gratis disana?! aku merasa begitu beruntung punya ayah yang amat-sangat mendorongku tuk mencintai sebuah aktivitas bernama mem-ba-ca. di rumah, buku2 koleksi beliau sekarang tertata rapi dalam satu etalase kaca yang cukup besar (aku ingat, buku itu sudah aku “tek” buat aku semua kalo aku ‘besar’ kelak 🙂 –> ni ngomongnya waktu masih SD). dan aku sungguh merindukan masa-masa itu…

dan lagu di atas… membuatku mengenang sluruh jasa beliau. betapa kesabarannya tak mampu kutandingi ketika kumandikan tubuhnya yang kian rapuh kini. betapa kasih-sayang dan cintanya tak mampu kusamai dan takkan pernah bisa terganti. betapa…

ah… bapaak…. (mataku mulai berkaca-kaca)

beliau tak ubahnya seperti bayi sekarang. pekerjaannya hanya makan, tidur, bangun, duduk… stroke menyerangnya sejak hampir 5 tahun yang lalu. segalanya seketika berubah. bapak yang ada sekarang bukan lagi bapak yang senyum manisnya senantiasa ada. bukan sosok gagah yang tiap kali pulang kerja kubukakan pintu, kusambut tasnya dan tak lupa pula buah tangannya. bukan sosok yang begitu setia mengantarku ke sekolah (dulu waktu smu aku masih sering dianterin naek motor). bukan pula lelaki yang siap melindungi keluarganya, ketika marabahaya datang tiba-tiba.

ah… bapaaak….

masih terkenang harapan-harapannya padaku di waktu dulu. “makanya, sekolahnya yang pinter biar dapet beasiswa ke Jerman kayak Habibie…” Dan masih terbayang senyum bangganya ketika predikat juara bertahan keras di raport-raportku.

tapi kini ia terbaring lemah. pekerjaannya tak lebih seputar kamar, ruang tengah, kamar mandi. tidak lebih dari itu. jangankan berjalan-jalan, tersenyum pun tak bisa. jangankan tertawa, menyebut nama anak-istrinya saja beliau seolah lupa.

huhuuu…..bapaaaaaaaakkk……kaangeeeeeeeeeeennnn………. hiks hiks hiks….. 😥

“robbighfirlii waliwaalidayya…warhamhumaa kama robbayaani shoghiiroo….”

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu



Parade Jiwa-jiwa


Sudut perkantoran di bilangan pusat Jakarta, 10.00 wib.
Sesosok gagah menenteng handphone model terbaru di tangan kanannya dan laptop di tangan kirinya. Klimis, berdasi dan berjas rapi parlente dengan kepala sedikit terangkat. Sesekali menjawab suara dari hp-nya yang tak henti berdering. Mencoba mentafakkuri segala aktivitas yang disebutnya sebagai ‘the executive life-style’. Menghabiskan waktu dari satu kafe ke kafe lainnya di tengah gemerlap malam, mencoba memborjukan diri dalam gelimang kehidupan yang tak lepas dari modernitas yang sedikit bablas.

Jalan Raya Kuningan , 12.00 wib.

Kaki kecil gesit berlari menghampiri deretan kendaraan yang berhenti kala lampu merah menyala. Bibirnya mencoba melantunkan sepenggal nada tak beraturan yang dianggapnya nyanyian. Menggoyang-goyangkan kecrekan yang sejak tadi berada dalam genggaman, mengiringi suara sumbang yang lebih mirip rintihan kelaparan. Mengetuk-ketuk setiap kaca taksi, BMW, Altis, Peugeot dan beragam pameran kemewahan yang digelar gratis di jalan-jalan, berharap akan terbuka dan terulur sekeping-dua keping logam recehan.
Kembali ia ke pinggir trotoar di bawah jembatan hitam, mendekati sosok tua ringkih yang sama lusuhnya. Menyerahkan segenggam rupiah dengan wajah pias harap-harap cemas. Dan segera diterimanya caci-maki, sumpah-serapah yang tidak semestinya. Telah menguap nurani bunda yang dulu melahirkan dan kini membesarkannya dalam keras hidup yang damainya tak lagi berpihak. Telah menghilang kasih sayang yang seharusnya melimpah ruah saat usianya menginjak kanak seperti sekarang. Dan tangan berbungkus kulit keriput itu membentur permukaan halus yang dengan seketika dibanjiri air mata. Perih. Sakit. Nyaris tak percaya sang bocah menatap perempuan yang kini tak beda dengan ibu tiri yang sering ia dengar dari kisah klasik jaman dahulu kala.

Pelataran depan Gedung DPR-MPR RI, 14.49 wib.
Hilir mudik ratusan biru, merah, kuning, hijau dan abu-abu almamater berjalan di bawah sengat surya yang garang. Tetes-tetes keringat tak dihiraukan kala teriakan penuh semangat dilepaskan. “Perjuangkan nurani! Perjuangkan kebenaran!”. Menggapai idealisme yang tampak terlalu melangit dan tak mudah dibumikan.
Satu-satu bergilir di podium menajamkan hakikat perjuangan. Menggedor paksa batu-batu bertajuk hati yang kerasnya tak ubah cadas. “Apa gunanya?” tanya mereka yang tak jua paham. “Toh orang-orang di atas sana tak mau dengar,”. Peduli apa. Kami hanya berusaha ketimbang diam tak berdinamika.
Melompat-lompat semangat, berteriak-teriak menentang kezhaliman. Membakar emosi agar membumi ke dasarnya, mencoba resapi arti ketertindasan dan keteraniayaan yang menjadi makanan beratus juta jiwa Indonesia. Pahami hakikat empati dengan sebenar-benar maknanya.
“Ganyang korupsi! Hancurkan arogansi!”
Bara mentari kian didihkan darah yang terus bergejolak. Legam wajah tak dihiraukan, lelah tubuh telah direlakan. Reformasi nyaris mati dan karam kini. Dan jiwa-jiwa pengusungnya tak rela pertiwi terpuruk lagi.

Perbatasan Gaza, 23.59 waktu setempat.

Bayang seseorang tampak tunduk terpekur dalam keheningan malam. Mencoba mencari dan menyusun kekuatan pada sumber Yang Teramat Kuat, mencoba mengais iba pada Zat Tunggal Yang Maha Perkasa. Tersengguk disekanya tetes-tetes yang menggenang dipelupuk kedua mata. Bukan! Bukan tangis kedukaan! Tetapi keterharuan yang memuncak dalam impian akan perjumpaan dengan wajah Kekasih yang dirindukan. Pun pada wangi kesturi kenikmatan jannah Sang Raja Yang Maha Menundukkan.
Diucapkannya basmalah, dan ditanggalkannya berlapis-lapis riya’ yang mungkin masih terpasung di alam bawah sadarnya. Bangkit ia bergegas menyambut seruan Tuhan, dan menggumam perlahan, “Ini untuk ayah-bundaku, adik-kakak-ku, teman-teman seperjuanganku, untuk Al Aqsho, untuk Palestina, untuk Al Islam!”. Mengeras rahangnya menahan degup dendam suci atas tercabiknya tanah kehormatan. Berkilat mata elangnya menyiratkan tekad penuh kesungguhan dan keberanian tak kenal gentar.
Mengendap. Berkelibat di bawah bayang-bayang purnama yang tersaput awan.
Begitu mudah memasuki perbatasan yang dijaga ketat budak-budak hina, sosok-sosok kera berwujud manusia.
Aman sudah. Dan…, “Dduuaaaarrrrrr!!!!!”. Keping-keping usus terburai, cairan tubuh berlelehan, merah darah memuncrat, daging-daging menjadi potongan kecil serupa cincangan.
Jasad itu musnah sudah. Namun ruhnya melayang mengangkasa, djemput cantik bidadari yang tak sempat ditemuinya di dunia. Merengkuh kesucian yang lama dicita-citakan. Dan Sang Cinta Tertinggi beserta singgasana yang mengalir sungai-sungai di bawahnya telah menanti datangnya jiwa. Dunia tidaklah seberapa.

Sudut Kamar dengan Biru Aura, 24. 33 wib
Kututup lembar hari yang baru berakhir. Rebahkan kepala dan mencoba pejamkan mata. Mengenang bergilirnya episode hidup dan kehidupan yang terus berjalan. Dinamis dan tak pernah statis. Meski kadang ia pelangi, atau guntur yang menakutkan terjadi.
Parade jiwa-jiwa hari ini kusaksikan. Dan kupejamkan mata kuat-kuat, menyesali kehidupan sosok muda penuh fatamorgana, berbungkus glamour kesemuan yang memperdaya.
Meraup duka dari ratusan sosok mungil yang bertebaran di jalan-jalan karena terpaksa atau bahkan dipaksa. Menganyam empati atas rasa kehilangan ceria di masa kecil terindah yang harus tiada.
Mengencangkan semangat dan membakarnya demi tegak nurani dan sepadannya perilaku dan kata. Melantangkan kebenaran di hadapan kezholiman penguasa. Bukan menjadi sosok-sosok apatis yang sibuk berkutat di dunia mininya dengan segudang buku bermilyar halaman, atau yang masih bangga dengan klasiknya semboyan , “Buku, Pesta dan Cinta”.
Meresap azzam dan cita para syuhada yang tak pernah rela Al Quds ternoda. Mengumpulkan asa dan keberanian yang tiada terkira. Menjemput maut demi perjumpaan dengan Robb-nya semata.
Kembali kupejamkan mata. Sepenggal parade jiwa-jiwa hari ini usai sudah.

01.00dinihari, 18.11.03
Detik-detik I’tikaf dalam Ramadhan yang Begitu Cepat Melesat..

notes : tulisan ini aku buat 2 taun yg lalu –> http://www.eramuslim.com/ar/oa/3c/8542,1,v.html

Menuju Negeri yang Diridhoi


Menuju negeri yang diridhoi negeri syuhada quwwatul iman

Berkendaraan iman kita ‘kan datang
bersama keluarga seluruh generasi menuju negeri yang diridhoi
tumbangkan isme-isme jahili
kibarkan panji-panji Ilahi

Ayo pemuda harapan ummat
dengan perahu jihad kita berangkat
buang kecengengan ‘tuk cita abadi
membangun sejarah manhaj Islami

Kita bukanlah budak-budak limbah pemikiran
yang buta melahap mode-mode kebinatangan
yang rela kibarkan aurat di jalan-jalan
demi mimpi mereka gadaikan iman
Kita adalah jundi-jundi generasi yang dinanti-nanti
‘tuk tumbangkan kediktatoran, ideologi, dan isme jahili
‘tuk tegakkan keadilan dalam keteduhan Islam

Dengan busur kesabaran kita ‘kan tegak
jinakkan kemiskinan perangi keserakahan
dengan kearifan ilmu kita ‘kan bersatu
memberantas kebodohan dan kemungkaran
berderap menuju negeri kemuliaan
negeri syuhada kuatul iman

Ayo pemuda harapan ummatdengan perahu jihad kita berangkat
buang kecengengan ‘tuk cita abadi
membangun sejarah manhaj Islami
Kita bukanlah budak-budak limbah pemikiran
yang hidup tanpa persepsi tanpa orientasi
yang pasrah digiring ke sana ke mari
bagai kambing congek yang dikebiri

Kita adalah jundi-jundi khalifah yang dinanti-nanti
dengan ruh jihad ilmu dan izzah, serta harga diri
kita tegakkan manhaj Islamidemi kebesaran Ilahi Rabbi

Ayo pemuda harapan ummat
dengan perahu jihad kita berangkat
menuju negeri yang diridhai negeri syuhada quwwatul iman

Dari hdn.uni.cc (jazakalloh to k’hendra 🙂

my comments: nasyid ini bagus. menggugah. menyentak. membangkitkan semangat. makanya aku minta ijin sama k’ hendra tuk taruh di blog-ku.
ah…. kapankah tiba wujudnya… negeri yang diridhoi Sang Penguasa?

3 M

bismillah.

Semalam aku nonton acaranya Aa’ Gym di Anteve. Bincang2 ringan bersama sejumlah tokoh. Kebetulan kemarin lagi bahas tentang televisi dan dunia hiburan di tanah air. Tamu yang diundang, orang yang cukup kompeten di bidangnya, Mas Garin Nugroho dan Ujo. Dengan suasana santai dan mengalir, Aa’ memandu acara itu.

Sejumlah penonton yang hadir disana mengajukan sejumlah pertanyaan.
“Apa sih fungsi badan sensor? Kok lulus sensor tetep aja kayak gitu?”
“Memangnya hiburan yang islami itu seperti apa?”

Dan Mas Garin pun menjawab.
“tentang badan sensor, terus terang pekerjaan badan sensor gak bisa sampai mensensor semua acara televisi. Gak mungkin itu acara tv kita sensor satu-satu. Banyak, banyak sekali. Dan tidak bisa dipungkiri banyak produser yang nakal. Kemudian tentang hiburan islami, menurut saya, film-film yang menampilkan kebaikan pasti islami. Sayangnya di Indonesia yang lebih ditonjolkan hanya kemasannya, bukan content. Ya adegan2 sensual, kekerasan, seperti itu. sedangkan kalau di Barat itu, kekerasan sangat sedikit ditampilkan. Artinya dilihat jam tayangnya. Kalau sore, oh, ini porsinya anak-anak. Sampai jam 9 malam, keluarga. Kalau misalnya ada berita seorang anak menembak temannya, itu Cuma sekilas ditampilkan. Sebentar sekali. Selebihnya gambar anak-anak yang mendoakan bersama-sama, membantu menolong, dan sebagainya.
Kalau kita perhatikan di film-film barat, uang hasil korupsi, rampok, atau kejahatan pasti kalau gak terbakar, dibuang ke laut. Karena orang2 baik gak boleh sampai menggunakan uang haram. Tapi disini , uang korupsi dibagi-bagikan. Lalu coba kita lihat Baywatch saja. Mungkin film itu menampilkan wanita2 berbikini di pantai. Tapi tetap ada unsur kepahlawanannya. Intinya kan menolong orang di pantai, tugasnya penjaga pantai, profesionalisme, tetap ada unsur baiknya. Tapi di Indonesia, lebih banyak sensualitasnya”.

Aku manggut-manggut di depan tivi.

“Ya tapi jangan sampai begitulah di Indonesia, mas Garin….” sergah Aa’ Gym.
“makanya yang seperti itu gak usahlah diobral, diperlihatkan didepan umum. Ada yang bilang, saya punya kebebasan. Ya kalo mau bebas silakan saja di wc. Sendirian, bisa bebas. Tapi kalau sudah ke umum, dilihat orang banyak, tentu saja ada norma yang berlaku. Etikanya harus ada. Ada lagi yang bilang , privasi. Privasi itu kalau sendirian. Kalau sudah keluar ya bukan privasi lagi namanya. Bebas, di wc saja. Mau nungging, jungkalitan, bla.bla..bla..”

Qeqeqeq….aku ngakak.

Giliran Ujo bicara.
“terkadang banyak yang nakal juga. Adegannya diburamkan jadi gak keliatan pas disensor. Tapi begitu ditayangkan, diterangin. Saya pikir susah juga sih ya. Soalnya tv itu gak mau membeli produk yang tidak laku. ‘Ohya, saya mau yang ini, yang begini. Karena yang seperti ini ratingnya tinggi.’ Ya bagaimana? Tv itu kan kalau gak hidup dari iklan, dari sponsor. Kalau ratingnya tinggi, banyak sponsornya. Saya kalau lagi sama temen-temen saya suka ngobrol2, ditanya, ‘Eh kemarin nonton film ini gak, gini..gini…’ saya jawab, ‘Ngapain nonton film begituan? Kampungan. Saya gak pernah nonton film Indonesia.”

Hehe…sepakat, Bang!

Tiba-tiba aku ingat, beberapa tahun lalu, saat masih duduk di semester 3, aku ikut pelatihan jurnalistik di FHUI. Sempat aku ngobrol santai dengan salah seorang pematerinya. Namanya…. Lupa. Yang pasti beliau Ketua Aliansi Jurnalis Indonesia. Katanya, “Susah kalau kita Cuma mengkritik saja. Kalian kan mahasiswa. Buatlah karya-karya yang lebih baik. Jangan bisanya mengkritik saja, tapi buat tandingannya!”

Selepas pelatihan itu, aku dapat banyak insight. Bener banget, kenapa kita gak coba buat tandingannya yang lebih baik? Kenapa hanya bisa mengkritik? Banyak koq, anak muda yang jago bikin film. Idenya gak kacangan lagi. Bukan yang ecek-ecek bak kacang goreng laris terjual tapi gak padat gizi. Ingat ‘Daun di Atas Bantal’? atau ‘Kiamat sudah Dekat’? Dan gak sedikit film-film mereka masuk festival ini-itu lalu menang.

“Seperti film-nya mas Garin yang… Rindu kami pada-Mu, ya Mas? Wah….saya belum pernah nonton film nangis terus sampai selesai. Ya Allah, begini ini wajah ummat… Pernah saya bilang sama petinggi negara ini, bapak-bapak harus lihat film ini, biar tau bagaimana kondisi rakyatnya. Ngomong-ngomong udah kemana aja tuh Mas?” Aa’ Gym semangat berkomentar.

Ganti Mas Garin menjawab dengan nada merendah, “kemarin diputar di Amerika, lalu besok akan ditonton di Rusia juga…”

Nah, kan!

Sayangnya, aku gak terlalu interest sama film-film-an. Minat aja kurang, apalagi disuruh buat. Tapi ada sih, sejumlah teman yang semangat dengan hal ini. Kalau disuruh membuat tandingan juga, paling2 aku ngisi kerjaan penulis naskah aja. Atau yang bikin cerita. Pokoknya seputar tulis-menulisnya deh. Ada yang mau ngajak?

Well… masing-masing kita, seperti kata Aa’ Gym, harus memulainya dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, dan mulai sekarang juga. Abis kalau bukan kita, siapa lagi?

Pahlawan (1)


Jiwa-jiwa pahlawan tak pernah puas bertarung
di satu atau beberapa medan saja.
Tetapi gelora jihadnya akan haus mengarung juang yang seterusnya dilakukan.
Jiwa-jiwa pahlawan harus menjelma dalam diri-diri kita.
Dirimu.
Diriku.
Dan diri mereka: Para pembaharu.
Jiwa-jiwa pahlawan adalah api.
Membakar.
Menyala.
Menggelora.
Dan kesombongannya sah-sah saja di mata Sang Penguasa.
Dan angkuhnya diakui Yang Maha Perkasa.
Mewujudlah dalam jiwamu, jiwa-jiwa pahlawan itu.
Sebelum perang yang lain datang, jiwa-jiwa pahlawan akan tempa dirinya.
Dan siap bertarung hingga pada akhirnya, ia mati dengan sempurna.

The Story of Bilal

Sahara membara. Siang begitu terik dan bukan kepalang panasnya. Dari ujung rambut hingga turun ke telapak, semua seolah membakar. Tak lelah-lelahnya peluh itu mengucur, menguras energi agar keluar seluruhnya. Pedih di telapak yang melepuh, masih coba ditahan demi tegaknya tubuh yang kian melemah.

Angin gurun berhembus sesaat. Menyapukan segenap pasir dan debu, menerbangkannya ke udara yang hampa rasa. Kering. Begitu sarat kerontang dahaga yang mencekat rongga dada.

Langkah-langkah tegap itu mempercepat geraknya. Menyeret tubuh ringkih yang semakin tak berdaya. Serupa, wajah-wajah bengis itu dengan mendidihnya gurun yang tak kenal ampun. Dan lagi-lagi tubuh hitam sang budak belian tergeletak kehabisan tenaga.

“Tarrr!!!!”. Cemeti itu mengumandangkan pekiknya, membelah cakrawala. Serta-merta pilu pun segera merambah rasa. Duhai… inikah rasanya berikrar setia pada-Nya saja? Entah sudah berapa ratus kali tali hitam panjang itu mendarat di punggung yang kian legam. Mendera-dera iga, menyayatnya menjadi lingkar-lingkar merah seraya mengeluarkan darah. Perih. Pedih tak terkira. “Tarrrr!!!”. Tali itu mengayun lebih keras. Kali ini membuatnya terpaksa menggelepar. Namun dikuatkannya iman yang kian kukuh menggelora, seraya menancapkan azzam hingga menghunus mantap di dalam dada. “Ahad… A..had… A….had…”. Dan sebuah batu besar pun menjegal nafasnya seketika. Bilal lunglai dalam hela nafas beraromakan asma-Nya.

Muhammad. Nama itu yang membuatnya bertahan sedemikian rupa. Ajarannya yang membuat Bilal hidup meski sakitnya jangan lagi ditanya. Siksa ini bukanlah apa-apa, batinnya. Kecintaan itu sudah membuatnya tak lagi memikirkan dunia. Ia hanya ingin beriman pada Allah Azza Wa Jalla.

“Tarrrrrrrr!!!!”. Tubuh Bilal tak kuasa melawan. Dadanya sudah tak kuat lagi menahan beban. Tapi panah keimanan sudah terpatri demikian dalam. Dan tauhid itu sudah tergenggam kuat tanpa mudah dipatahkan. Dan wajah-wajah bengis itu kian beringas menyiksa tanpa belas dan iba. “Katakan : Latta, Uzza, Manna!!!”. Tapi bibirnya tak dapat mengucap kata selain yang sudah diyakininya. “A……h…..a……………d……..” Laa ilaa ha illallaah… sungguh tiada Ilah yang patut disembah melainkan Allah. Dan getar-getar cemeti pun beradu lagi dengan kulit punggungnya yang mulai panas mengelupas. Bilal menggelepar dan terkulai semakin lemah. Jasadnya nyaris habis dalam tingkah tuannya yang pongah. Tetapi jiwa sucinya melambung tinggi mengagungkan asma Robb-nya, dan surga pun bersiap-siap menyambut kedatangannya.

Segala puji bagi Tuhan
Hadir Muhammad bawa kebenaran
Walau disiksa dihina
Takkan sekali ku berpatah arah
Untukmu agamamu
Untukku kebenaran Tuhanku Siksalah jasadku
Takkan ku tunduk pada kejahilanmu
Karena mengalir di seluruh tubuhku
Kalimah Tuhan dari lidah Rasulku
Dan itu yang ku percaya…Deritaku menjadi saksi bisU
Tanda kasihku kepada Yang Terulun
Walau disiram debu yang menangis
Genggamku ini takku lepaskan
Panaslah sang mentari
Lafaz kalimah takkanku henti!!!

Big appreciation for Bilal ra.
Berharap dapat kususul dirimu di surgaNya.
Monday 07/03/05, 11:05 pm.